
Rama cukup terkejut mendengar perkataan Rean. Dia sama sekali tidak menyangka jika Rean akan mengatakan hal itu. Maksud Rama menceritakan berita itu, sebenarnya untuk melihat bagaimana reaksi Rean. Namun, ternyata dia salah. Rean tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali.
Sedangkan Rean, dia tidak mengelak atau mengiyakan. Baru jika ditanya, Rean akan menjelaskan statusnya saat itu. Namun, jika dia tidak ditanya, Rean juga tidak akan repot-repot menjelaskan kepada orang lain tentang statusnya saat ini.
Rama menatap Rean dengan intens. Rupanya, dia sudah tidak sabar mengetahui kebenaran berita yang sempat didengarnya beberapa waktu yang lalu.
"Ehemmm, sebenarnya begini, Re. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar kabar jika ada salah satu dosen muda di kampus kita ada yang menikah dengan mahasiswa. Dan, apa kamu siapa dosen dan mahasiswa yang dimaksud?"
Rean menanggapi pertanyaan Rama dengan mengangkat alisnya. "Memangnya siapa, Pak?"
Rama menatap ke intens ke arah Rean. "Dosen yang dimaksud adalah Miss Dena. Dan, mahasiswa yang dikabarkan sudah menikah dengannya adalah kamu, Re. Apakah itu benar?" Rama benar-benar ingin mencari tahu kebenaran berita tersebut.
Rean menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. "Iya, Pak. Memang benar saya dan Miss Dena sudah menikah bulan lalu. Apakah ada masalah dengan itu?"
Tampak Rama membulatkan mata dan mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rean membenarkan berita tersebut. Rama memang tahu jika Rean suka menggoda Dena di kelas dengan guyonan-guyonannya. Dia mengira berita itu adalah gosip murahan. Namun, setelah orang yang bersangkutan mengakuinya, rasanya sangat sulit bagi Rama untuk mempercayainya.
"Kamu serius sudah menikah dengan miss Dena?"
"Iya, Pak. Jika Anda tidak percaya, saya akan menunjukkan buktinya." Rean mengambil ponsel dan membuka galeri fotonya. Dia menunjukkan beberapa foto saat prosesi ijab kabul dan resepsi sederhana pernikahannya dengan Dena.
Rama tampak mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Tangannya sedikit bergetar. Keringat dingin langsung keluar pada keningnya. Rean yang menyadari hal itu merasa sedikit khawatir.
"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Rean setelah menarik ponselnya.
Rama menegakkan tubuhnya dan terlihat mengatur napasnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya kembali sebelum menjawab pertanyaan Rean.
"Saya baik-baik saja, Re. Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku. Sekarang, kamu bisa kembali ke kelas."
Rean masih tampak khawatir. "Anda yakin, Pak?"
Rama menganggukkan kepala. "Iya. Kamu tidak usah khawatir."
Kini, giliran Rean yang mengangguk. Dia segera beranjak berdiri dan berpamitan. Setelah itu, Rean segera menuju kelasnya karena jam perkuliahannya akan segera dimulai.
Hari itu, perkuliahan Rean berjalan dengan lancar. Setelah semua perkuliahannya selesai, Rean langsung bergegas menuju rumah sang mama. Hari ini, mama Revina meminta Rean mampir untuk membicarakan tentang pembangunan rumahnya.
Hingga menjelang petang, Rean kembali ke apartemen. Sedari siang, Dena tak henti-hentinya mengirimkan pesan kepada Rean untuk menanyakan keberadaan suami brondongnya tersebut.
Bukannya merasa risih atau kesal, namun Rean cukup senang dengan apa yang dilakukan oleh Dena. Rean merasa jika istrinya tersebut sudah mulai posesif terhadapnya.
"Malam ini masak apa?" tanya Rean sambil menarik kursi di meja makan tersebut.
"Oseng-oseng, Mas."
"Waahh, mantap nih yang pedes-pedes."
"Jangan banyak-banyak cabenya, Mas. Nggak baik buat perut."
"Iya, iya, Yang. Seneng deh diperhatikan istri. Sini cium dulu." Rean langsung memonyongkan bibirnya ke arah Dena.
Meskipun malu-malu, Dena mendekatkan wajahnya. Bukannya menyambar bibir menggoda Rean, Dena justru mengarahkan wajahnya pada pipi kanan Rean.
Namun, bukan Rean yang tidak suka memanfaatkan kesempatan. Seperti sebelum-sebelumnya, Rean langsung memalingkan wajahnya hingga kedua bibir mereka bertemu. Bukannya hanya menempel, Rean bahkan langsung menekan tengkuk sang istri. Bibirnya langsung me*lu*mat dan me*nye*sap bibir ranum Dena.
"Emmmmhhhh, Maassshhh. Apa-apan sih?" Dena mendorong bahu Rean dengan wajah memerah.
Melihat halnitu, Rean langsung tersenyum nyengir. Dia mengusap bibirnya yang masih belepotan saliva.
"Hehehe, makanan pembuka, Yang." Rean menjawab dengan santai sambil menyunggingkan senyumannya.
"Makanan pembuka apanya, dikira aku makanan apa?" Dena masih mengerucutkan bibirnya sambil mengambil piring Rean.
"Maunya sih kamu kujadikan makan malam, Yang. Berhubung kamu masih belum sembuh, aku terima saja cicilan makanan pembukanya. Hehehe."
Wajah Dena semakin merah padam mendengar perkataan sang suami. Bohong jika dirinya tidak tergoda, karena hampir setiap malam Rean melakukan cicilannya.
"Jika mau, aku siap kok jadi makanan penutup, Mas."
"Wuuaahhhh!"
\=\=\=
Malam jum'at oey. Yang baca jangan senyum-senyum ya.
Kasih vote dan hadiah buat Rean dan Dena dong 🤭