The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Musim - 2 Berita Yang di Tunggu



Setelah kejadian muntah-muntah tadi pagi, disinilah Reyhan dan Fida kini berada. Di sebuah klinik dokter kandungan. Tepatnya, di tempat praktek dokter Friska, sahabat Kenzo sejak kecil. Ya, setelah Vanya mengetahui Fida tengah mual-mual, dia segera menghubungi dokter Friska untuk meminta jadwal periksa. Vanya memaksa Fida untuk memeriksakan diri. Dia hanya bisa berharap jika Fida benar-benar hamil.


"Sudah berapa hari anda merasakan mual seperti ini?" Tanya dokter Friska kepada Fida. 


"Sejak seminggu ini sih sebenarnya, Dok. Tapi hanya merasa mual dan tidak nyaman, tidak sampai muntah-muntah seperti tadi pagi. Tapi, entah mengapa tadi pagi bisa sampai muntah-muntah. Rasanya juga sampai lemes banget."


Dokter Friska mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. 


"Jika dilihat dari hari terakhir menstruasi, kemungkinan anda sedang mengandung. Jadi untuk membuktikannya, silahkan berbaring di sana. Kita akan segera memeriksa kondisi rahim anda." Kata dokter Friska.


Fida segera mengangguk mengiyakan. Dia beranjak berdiri dan segera berbaring di atas brankar. Dengan dibantu oleh seorang perawat, dokter Friska mulai memeriksa perut Fida. Reyhan yang semula masih duduk pun merasa tidak sabar untuk mengetahui hasil pemeriksaan Fida. Dia hanya bisa berharap agar hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan.


Dokter Friska tampak tersenyum saat mengamati monitor yang ada di dekatnya. Dia menoleh menatap wajah Fida dan Reyhan bergantian.


"Selamat nona Fida, anda benar-benar tengah hamil. Usia kandungan anda mencapai enam minggu." Kata dokter Friska sambil mengulas senyumannya.


Fida yang mendengarnya langsung meneteskan air mata. Tiba-tiba perasaannya menghangat. Tangan kanannya secara refleks langsung mengusap perutnya.


"Benarkah, Dok?!" Kali ini Reyhan yang sangat antusias. Dokter Friska mengangguk mengiyakan sambil menatap wajah Reyhan.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang." Kata Reyhan sambil memberikan beberapa kecupan pada wajah Fida. Entah mengapa sikapnya berubah drastis. Tidak ada rasa malu ataupun kaku untuk mengekspresikan perasaannya. 


Setelah itu, dokter Friska memberikan resep vitamin dan beberapa nasehat untuk Fida dan juga Reyhan. Mereka mendengarkan dengan serius. Dokter Friska juga memberikan nasehat untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang ekstrim yang bisa membahayakan calon ibu dan janin. Reyhan dan Fida mengangguk mengiyakan semua nasehat dokter Friska.


Beberapa saat kemudian, Reyhan dan Fida terlihat keluar dari ruangan dokter Friska. Reyhan masih menyunggingkan senyumannya sambil menggandeng tangan Fida. Dia merasa sangat bahagia hari itu. Fida yang melihatnya juga merasa bahagia.


"Apa ada yang kamu inginkan?" Tanya Reyhan saat mereka baru memasuki mobil.


"Ehm, nggak ada sih, Mas. Aku nggak ingin apa-apa. Aku hanya mau pulang dan nonton drakor."


Reyhan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Fida. Dia mengira jika orang hamil muda akan ngidam dan menginginkan hal-hal aneh. Namun, sepertinya sang istri tidak mengalami hal itu. Reyhan segera menjalankan mobilnya menuju rumah.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Reyhan dan Fida sampai di rumah. Fida sudah memberitahukan Vanya tentang berita kehamilannya. Seperti dugaannya, Vanya benar-benar bahagia mendengarnya. Dia terdengar sangat heboh sambil berteriak-teriak senang dari seberang teleponnya. Bahkan, terdengar suara celotehan El yang saat itu berada tak jauh dari sang mommy. Vanya tidak bisa mengunjungi Fida sore itu. Dia sedang berada di rumah mama Tari.


Satu minggu berlalu. Fida masih belum menunjukkan tanda-tanda ngidamnya. Reyhan yang dibuat cemas jika ngidam Fida akan aneh-aneh nanti.


Malam harinya, Fida benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.42. Fida sama sekali tidak mengantuk. Dia menoleh ke samping dan melihat sang suami tengah tertidur lelap. Entah mengapa dia merasakan sesuatu. Fida gamang antara membangunkan sang suami atau tidak.


Hingga hampir satu jam kemudian, Fida memberanikan diri untuk membangunkan Reyhan. Reyhan terlihat mengucek kedua matanya sambil menguap saat mendudukkan diri di samping Fida.


Fida belum menjawab pertanyaan sang suami. Dia terlihat gelisah sambil menggigiti bibirnya. Antara ragu dan tidak, Fida memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang dirasakannya. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Hhhaah?! Kamu serius, Sayang?!" Tanya Reyhan setengah berteriak setelah mendengar keinginan Fida.


Fida mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa tidak enak saat menyampaikan keinginannya. Namun, jika tidak disampaikan, rasanya akan membuatnya kepikiran.


"Bagaimana aku akan menyampaikannya kepada tuan Kenzo?" Kata Reyhan sambil meraup wajahnya dengan kasar.


Fida yang melihatnya merasa tidak enak. Dia hendak mengurungkan permintaannya kepada Reyhan.


"Ehm, nggak jadi saja, Mas. Nggak apa-apa kok. Aku akan berusaha untuk tidak memikirkannya." Kata Fida.


"Aku tidak mau anak kita nanti akan ileran." Jawab Reyhan.


"Lalu, bagaimana mas Reyhan akan menyampaikan kepada kak Kenzo jika aku ingin melihatnya memasak nasi goreng dengan menggunakan daster Vanya?" 


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Selamat berjuang Rey, demi calon anak. Untuk othor, demikian dan terima kasih.


Jangan lupa klik like, komen dan vote di setiap part. Taburkan bunga yang banyak buat othor juga boleh, asal jangan bunga kenanga dan bunga kantil, hhiiiyy, syerem.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda


Thank you