The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.61



Malam itu, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan seluruh anggota keluarga Revina. El dan keluarganya juga diundang hadir malam itu. Bahkan, Zee dan daddy Ken juga terlihat hadir di sana.


Setelah acara makan malam tersebut selesai, terlihat El dan Zee tengah mengobrol di taman samping restoran tersebut. Mereka mengamati Gen yang tengah bermain bersama dengan mommy Kia dan juga Fara.


"Lo sudah bisa move on dari Revina?" Tanya Zee sambil menoleh menatap wajah El.


"Ccckkk, move on? Gue malah nggak yakin gue suka sama Revina dulu." Kilah El.


Mendengar jawaban El, Zee hanya bisa mencebikkan bibirnya. 


"Heleh ngeles aja lo. Dulu siapa yang paling galon saat tahu jika Revina menyukai gue dan selalu mengejar-ngejar gue?" Cibir Zee.


"Galon apanya, gue cuma heran kenapa si Revi bisa suka sama lo. Itu saja." Kilah El.


"Sudah pasti itu karena wajah gue cakep maksimal lah. Turunan keluarga gue nggak bisa dilawan. Hehehehe." Jawab Zee dengan pongah.


Belum sempat El menjawab, terdengar sebuah suara dari belakang mereka.


"Oh, jadi Revina pernah suka sama kamu, Mas? Dan kamu bangga dengan itu?"


Glek


Seketika Zee dan El langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana sudah ada Kiara yang tengah melipat kedua tangannya di dada dan Fara yang tengah menggendong baby Gen. Melihat hal itu, seketika Zee menjadi panik. Entah mengapa dia dan El tidak menyadari jika istri-istri mereka berjalan mendekat ke arahnya.


"Eh, bu-bukan begitu maksudnya, Yang." Kata Zee semakin panik saat melihat tatapan mata sang istri.


Hal yang sama juga dirasakan oleh El. Bukan karena tatapan mata Fara, tapi karena dirinya khawatir jika Fara berpikiran yang tidak-tidak tentang perasaannya kepada Revina dulu.


"Jika bukan begitu, lalu harus bagaimana?" Tanya Kiara.


"Ya begini." Jawab Zee ngasal.


"Hhhh. Kamu itu selalu nggak jelas, Mas." Kata Kiara sambil menoleh ke arah Fara. Dia mengambil baby Gen dan menggendongnya kembali menuju kamar setelah berpamitan.


Zee yang melihat hal itu langsung mengekori langkah kaki Kiara. Tentunya, Zee pergi juga setelah berpamitan kepada El dan Fara.


Kini, tinggal El dan Fara yang masih berada di sana. Fara masih menatap El dengan tatapan penuh pertanyaan. Terlihat jelas jika Fara ingin menanyakan sesuatu kepada El. Namun, dia terlihat ragu dengan hal itu. El yang menyadari gelagat Fara pun langsung mendekat dan memeluknya. Dia mengusap rambut Fara yang tergerai di punggungnya dengan lembut.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Apa yang aku bicarakan dengan Zee tadi tidak ada maksud apa-apa. Kamu tahu persis bagaimana isi hatiku kepadamu. Jangan pernah meragukannya." Kata El sambil masih mengusap rambut Fara dengan lembut.


Fara terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. El bisa merasakan hal itu saat kepala Fara menempel pada dadanya.


"Maaf, Mas. Aku hanya merasa…" Fara tidak menyelesaikan perkataannya. Dia sendiri bingung bagaimana cara menyampaikan perasaannya.


"Merasa apa? Jangan bilang kamu cemburu?" Tanya El dengan senyum menggoda ke arah Fara.


Mendengar perkataan El, Fara langsung memukul bahu sang suami. Dia merasa malu dengan apa yang dikatakan El. Meskipun, semuanya benar.


"Apaan sih, Mas." Jawab Fara sambil menundukkan kepalanya.


"Benarkan? Kamu sedang cemburu?" Tanya El lagi. Senyumannya masih tak luput dari bibir El.


Fara, bukannya menjawab malah memeluk El dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Sementara El yang mendapati perlakuan seperti itu dari sang istri, langsung memeluknya dengan erat. Tak lupa juga dia memberikan kecupan-kecupan pada pucuk kepala Fara.


"Jangan pernah merasa malu untuk mengungkapkan apa yang kamu rasakan, Sayang. Aku bukan cenayang yang bisa langsung mengerti apa yang kamu rasakan hanya dengan melihat ekspresimu. Aku adalah jenis laki-laki yang buta dengan bahasa ekspresi wanita. Jadi, aku mohon mulai sekarang selalu katakan apa yang kamu rasakan. Katakan apa yang membuatmu nyaman dan tidak nyaman."


Lagi-lagi Fara mengangguk mengiyakan. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh El.


"Aku akan mencoba untuk mengatakannya, Mas." Kata Fara.


"Terima kasih. Aku benar-benar tidak pandai membaca ekspresi yang kamu tunjukkan jika tidak disampaikan. Kecuali satu hal." 


Fara mendongakkan kepalanya menatap wajah El. Keningnya berkerut menanti penjelasan dari perkataan El.


"Apa itu?"


"Aku sangat hafal dengan ekspresimu yang satu itu. Ekspresi saat kamu kebelet untuk segera di eemmpppphhhhhh." Belum sempat El menyelesaikan perkataannya, namun Fara sudah menutup mulutnya dengan tangan.


Fara sudah tahu apa yang dimaksud oleh sang suami. Dia merasa malu saat El membicarakan hal itu di luar kamar.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Memangnya ekspresinya seperti apa, El? 🤔