
"Putri Papa ini tidak ada duanya. Dia cantik, penyayang dan sangat perhatian, dan yang pasti, sangat mencintai saya juga." Kata Bian sambil menoleh dan menatap Revina.
Glek.
Kali ini Revina benar-benar tersedak mendengar jawaban Bian. Apa maksudnya dengan sangat mencintai Bian? Apa Bian tahu jika Revina menyukainya?
Tiba-tiba keringat dingin terasa merembes keluar dari keningnya. Jantungnya mendadak berdegup dengan cepat. Revina sudah mulai berpikiran yang tidak-tidak. Dia khawatir jika Bian menganggapnya perempuan yang terlalu bersemangat untuk mendekatinya.
Hal yang sama pun terlihat pada raut wajah papa Reyhan dan mama Fida. Mereka juga cukup terkejut mendengar perkataan Bian. Namun, papa Reyhan dan mama Fida berusaha segera menghilangkan rasa terkejutnya.
"Kamu sepertinya sudah cukup lama mengenal Revina." Kata papa Reyhan.
"Sebenarnya, kami belum terlalu lama sing mengenal, Pa. Namun, kami sudah beberapa kali bertemu karena saya yang menghandle proyek baru GP."
Papa Reyhan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Bian. Dia sebenarnya juga sudah mengetahui hal itu karena Revina sering meminta bantuannya untuk proyek terbaru tersebut.
"Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya papa Reyhan.
"Ehm, kami masih belum mempunyai rencana apa-apa, Pa. Setidaknya, kami masih mulai untuk saling mengenal lebih jauh."
"Kamu berniat untuk mengenalkan Revina kepada orang tuamu?"
"Orang tua saya sudah tiada, Pa. Hanya ada kakek dan nenek. Dan, mereka juga sudah mengetahui tentang Revina. Mereka sudah tidak sabar untuk berkenalan dengannya." Jawab Bian sambil kembali melirik ke arah Revina.
Papa Reyhan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Bian. Sementara Revina, dia masih menundukkan kepalanya karena masih bingung dengan semua hal yang tengah terjadi.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga menjelang waktu tarawih. Papa Reyhan mengajak Bian untuk tarawih di masjid di dekat rumahnya. Mau tidak mau Bian pun mengiyakan ajakan papa Reyhan. Mereka berempat berangkat ke masjid untuk melaksanakan tarawih terakhir di bulan Ramadhan kali ini dengan berjalan kaki.
Setelah tarawih, Bian langsung meminta izin untuk pulang. Papa Reyhan dan mama Fida mengiyakan saat Bian berpamitan. Ketika Bian berada di depan Revina, dia sempat berbisik jika dia akan menelepon Revina nanti. Revina pun mengangguk mengiyakan.
Malam itu, Revina benar-benar tidak bisa tenang. Dia berguling di atas tempat tidurnya berkali-kali. Rasa gundah galau merana pun dirasakannya saat menunggu telepon dari Bian. Berulang kali Revina memeriksa ponselnya untuk melihat pesan atau bahkan daftar panggilan. Namun, tidak satupun memunculkan nomor dari Bian.
Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar suara panggilan telepon dari ponsel Revina. Revina segera meraih ponselnya dan memeriksa id penelepon tersebut. Jantungnya mendadak berdegup semakin kencang saat mendapati nama Bian muncul pada layar ponselnya. Revina buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan telepon.
"Ha-hallo." Sapa Revina. Dia masih kesulitan mengontrol nada suaranya yang bergetar.
"Dek?"
Jantung Revina seolah meledak mendengar Bian memanggilnya dengan panggilan tersebut.
"I-iya."
"Sudah tidur?"
"Belum."
"Ehm, aku ingin menjelaskan sesuatu. Apa kamu keberatan untuk mendengarnya?"
"Ti-tidak, kok. Aku akan mendengarkannya."
"Baiklah. Sebelumnya, aku mengucapkan banyak terimakasih atas bantuanmu selama ini. Dan, untuk beberapa saat kedepan, aku juga masih mengharapkan bantuan darimu. Semoga kamu masih mau membantuku."
"Eh, i-iya. Selama aku masih bisa, aku pasti akan membantu kamu, Ma-mas."
"Terima kasih."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Scroll ya, penjelasannya ada di bawah langsung. Semoga bisa langsung dibaca, mohon maaf signal lagi error.
Sebelumnya, jangan lupa vote dulu. Sudah ada jatah vote minggu ini. Terima kasih.