
Setelah mengakhiri panggilan telepon. Vanya segera berjalan menuju kamar tidurnya. Dia harus meminta Kenzo untuk membantu Fida. Dia juga harus membalas semua kebaikan Reyhan yang selalu direpotkannya setiap hari. Vanya yakin dia bisa membujuk sang suami.
Ceklek
Vanya membuka pintu kamar tidurnya. Dilihatnya sang suami tengah tidur dengan menggunakan kolor dan kaos tipis kesayangannya. Vanya berjalan mendekati Kenzo yang tengah tertidur. Dia tersenyum membayangkan rencananya akan berhasil.
Cup cup cup.
Vanya memberikan beberapa kecupan pada wajah Kenzo untuk membangunkannya. Kenzo yang merasa terganggu pun akhirnya terbangun. Dia menyipitkan matanya untuk menatap wajah sang istri yang berada di depannya.
"Eehhhmmm, ada apa sih Yang. Masa mau lagi. Rambutku bahkan belum kering." Gumam Kenzo sambil memejamkan mata kembali.
Ya, memang mereka baru saja bergulat di ring king size sebelum baby El bangun tadi. Kenzo yang sudah membersihkan diri langsung tertidur karena mengantuk.
"Mas, bangun ih. Aku mau minta tolong." Rengek Vanya.
"Hhhmmm." Kenzo masih terlihat mengantuk. Dia bahkan tidak membuka matanya.
Vanya yang merasa kesal pun langsung beranjak berdiri. Dia harus berpura-pura untuk marah kepada sang suami.
"Baiklah, jika mas Kenzo tidak mau bangun juga, aku akan pergi sendiri. Aku akan membawa El bersamaku. Jangan harap mas Kenzo akan menemukan kami." Ancam Vanya.
Dan, benar saja. Kenzo yang mendengar perkataan Vanya langsung beranjak bangun dia langsung mendudukkan diri sambil memegangi tangan Vanya. Wajah mengantuk bercampur wajah panik Kenzo terlihat lucu bagi Vanya. Namun, dia benar-benar harus menahan senyumannya. Vanya berlagak kesal kepada Kenzo.
"Kamu mau kemana jam segini, Yang?" Tanya Kenzo. "Jangan berpikir macam-macam."
Vanya mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Kenzo.
"Aku mau ke rumah Fida, Mas. Dia sedang ngidam." Jawab Vanya.
"Ngidam? Memangnya dia ngidam apa? Kenapa kamu dan El harus kesana dini hari begini?"
"Kamu ini berlagak lupa apa memang amnesia sih, Mas. Apa kamu nggak ingat dulu bagaimana kamu selalu merepotkan Reyhan saat aku ngidam, bagaimana kamu selalu meminta dia untuk mencarikan semua yang kamu inginkan. Tidak hanya kamu, Mas, tapi Reyhan juga selalu menuruti jika aku ngidam dan membutuhkan bantuannya. Apa aku salah jika membalas kebaikan mereka sekarang?" Kata Vanya dengan wajah sedihnya.
Vanya yakin Kenzo benar-benar akan luluh. Pasalnya, dulu saat Vanya sedih dan stress karena tidak bisa menunggui sang ibu saat opname di rumah sakit, ASInya benar-benar tidak bisa keluar. Hal itu akan berdampak pada baby El. Kenzo benar-benar tidak suka jika putranya kekurangan nutrisi, meskipun dia kadang merasa iri.
"Eh, eh. Jangan sedih begitu. Iya, iya kita akan ke rumah Reyhan sekarang. Jangan sedih lagi, aku tidak mau jika putraku kekurangan ASI lagi." Kata Kenzo berusaha menenangkan Vanya sambil mengusap-usap lengannya.
Seketika wajah Vanya tampak berbinar bahagia. Dia langsung tersenyum sambil memeluk sang suami dengan erat.
"Beneran kamu mau menuruti semua permintaan Reyhan dan Fida, Mas?"
"Memangnya mereka minta aku melakukan apa?" Tanya Kenzo sambil mendekap tubuh Vanya dengan lebih erat.
"Mereka hanya minta dimasakin nasi goreng kok."
"Masak nasi goreng di tukang nasi goreng keliling?" Tanya Kenzo sambil menatap Vanya.
Kenzo terlihat menimbang-nimbang sebentar sebelum mengangguk mengiyakan permintaan Vanya. Lagipula Kenzo pikir, ini sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada Reyhan karena selama ini dia sudah bersusah payah untuk membantunya.
"Baiklah, ayo kita kesana sekarang." Kata Kenzo sambil melepaskan pelukannya pada Vanya.
"Eh, sebentar. Aku ambil daster dulu." Kata Vanya sambil beranjak berdiri.
Kenzo masih belum menyadari jika Vanya mengambil daster untuknya. Kenzo pikir Vanya mengambil daster untuk dipakainya sendiri.
Saat Kenzo hendak mengganti celana kolornya, Vanya menghentikan tindakannya. Seketika Kenzo berbalik dan menoleh menatap wajah Vanya.
"Ada apa? Kamu masih mau lagi?" Tanya Kenzo sambil menatap wajah Vanya.
"Ccckkk otak kamu kenapa kesana terus sih, Mas. Ini nggak usah diganti kolornya." Kata Vanya.
"Mana bisa nggak usah diganti. Bakal ada yang goyang ngebor, ngelas, ngecor nanti. Kamu ini ada-ada saja." Gerutu Kenzo.
"Maksudku, nggak usah dilepas kolornya Mas. Nanti juga nggak bakal kelihatan."
"Hhhaah? Maksudnya?"
"Ini, kamu pakai daster ku. Nanti ********** tetap pakai kolor." Kata Vanya sambil menyerahkan dasternya.
"Apa?! Kamu pikir aku mau ikut lomba agustusan?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Agustus masih jauh, Zo. Ini masih bulan April.
Jangan lupa klik like, komen dan vote buat othor. Kasih hadiah bunga juga boleh lho 🤗
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru othor, bisa mampir di ig @keenandra_winda
Thank you