The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 89



Hari berganti hari, kehidupan rumah tangga Rean dan Dena semakin membaik. Hal yang sama juga terjadi pada kesehatan Dena. Kesehatan Dena sudah mulai membaik. Bahunya sudah mulai bisa digerakkan. Kakinya juga sudah mulai bisa berjalan tanpa menggunakan kruk, meski belum terlalu jauh.


Seperti biasa, Rean ke kampus dengan menggunakan motor kesayangannya. Rean ada dua mata kuliah hari ini. Dia langsung memarkirkan motornya begitu sampai di kampus. Rean memang sengaja datang sekitar tiga puluh menit sebelum jadwal perkuliahan dimulai. Dia ingin memastikan persiapan presentasi kelompoknya yang akan tampil hari ini.


Rean langsung berjalan menuju kelasnya yang ada di gedung B. Saat itu, dia harus melewati jalan samping yang ada di dekat ruang dosen. Begitu melewati dekat tangga, ada seseorang yang memanggil namanya.


"Rean!"


Seketika Rean menoleh dan menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut saat mendapati salah satu dosennya memanggil. Rean melihat dosen tersebut mendekat ke arah Rean.


"Kamu yang bernama Rean?" tanya dosen tersebut.


"Iya, Pak Rama. Saya Rean. Ada yang bisa saya bantu?"


Ya, laki-laki yang memanggil Rean saat itu adalah Rama, salah satu rekan dosen Dena. 


"Kamu ada kuliah sekarang?" tanya Rama.


"Iya, Pak. Dua puluh menit lagi saya ada jadwal kuliah. Ada apa ya, Pak?"


Rama terlihat memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Rean.


"Saya ingin menanyakan sesuatu. Bisa bicara sebentar di ruangan saya?" tanya Rama sambil melirik jam tangannya.


Rean mengerutkan kening bingung. Selama ini, dia memang tidak memiliki urusan dengan laki-laki itu, mengingat Rean juga tidak mendapatkan mata kuliah dari dosen tersebut. Namun karena dirasa tidak sopan jika dia menolak, akhirnya Rean menganggukkan kepala.


Rean mengikuti langkah kaki Rama menuju sebuah ruangan yang berada di ujung ruanh dosen tersebut. Karena Rama adalah ketua jurusan, jadi dia memiliki ruangan tersendiri.


Begitu memasuki ruangan tersebut, Rama segera mempersilahkan Rean untuk duduk.


Rean segera mengangguk. "Terima kasih."


Setelah keduanya duduk berhadapan, Rama memulai pembicaraan. Dia berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya.


"Eheemm, begini Re. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepadamu. Saya harap, kamu bisa menjawabnya dengan jujur," ucap Rama.


Rean menganggukkan kepala. Menurutnya, semakin cepat mereka berbicara, semakin cepat pula dia keluar dari tempat tersebut.


"Saya akan menjawab jujur, Pak," jawab Rean sambil menganggukkan kepala.


"Terima kasih, Re. Begini, beberapa waktu yang lalu, di kampus beredar kabar jika salah satu dosen muda di kampus ini sudah menikah dengan mahasiswanya sendiri." Rama menghentikan ucapannya sebentar untuk menatap ekspresi Rean. Namun, dia sedikit kecewa saat melihat Rean biasa-biasa saja. Rean tidak terlihat terkejut sama sekali. 


Setelah itu, Rama melanjutkan perkataannya. "Menurut berita yang beredar, dosen tersebut menikah karena paksaan orang tuanya. Apa kamu dengar berita itu, Re?" Rama mencoba mencari tahu bagaimana reaksi Rean.


"Jujur, Pak, saya tidak mendengar kabar tersebut," jawab Rean. 


Ya, Rean memang tidak mendengar berita seperti itu. Selama ini, dia hanya fokus pada kukiah dan kesembuhan Dena. Selebihnya, dia gunakan waktunya untuk mengawasi perkembangan distro yang baru pulkh dari kebakaran di Surabaya dan distro barunya di Bandung. Jadi, jika tidak ada kepentingan di kampus, Rean lebih memilih pulang dari pada menggosip dan nongkrong dengan para mahasiswa lainnya.


Kening Rama berkerut. Dia seperti tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Rean.


"Serius kamu tidak mendengar kabar yang beredar di kampus ini?" tanya Rama.


"Tentu saja, Pak. Terus terang, selain kuliah saya juga bekerja, Pak. Dari pada waktu saya terbuang untuk mengurusi kabar burung yang belum tentu kebenarannya, lebih baik saya gunakan waktu untuk bekerja. Saya kira, Pak Rama juga pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi, Anda adalah dosen yang tentunya jauh lebih sibuk dari saya. Anda pasti lebih mementingkan pekerjaan dari pada sibuk memikirkan berita seperti itu. Benarkan?"


"Eh?"