
Rean masih berada di depan pintu apartemen Dena. Dia menatap sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu tersebut.
"Kamu siapa?" Bukan Rean yang bertanya, tapi justru laki-laki yang berada di depan pintu tersebut yang bertanya.
"Eh, seharusnya aku saya yang bertanya. Anda siapa? Ada perlu apa datang kemari?"
"Aku Reno, tetangga sebelah. Kamu siapa?" tanya laki-laki tersebut.
Rean mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia mengulurkan tangannya ke arah Reno. Laki-laki tersebut membalas uluran tangan Rean. "Perkenalkan, saya Rean. Suaminya Dena."
Seketika kedua bola mata dan mulut Reno membulat dengan sempurna. Dia benar-benar terkejut mendengar perkataan Rean.
"Su-suami? Apa maksud kamu?"
Belum sempat Rean menjawab pertanyaan Reno, terdengar suara Dena dari arah dalam.
"Siapa, Re?" tanya Dena sambil berjalan mendekat. Dia sedikit kaget saat melihat keberadaan Reno di sana. "Oh, Reno. Silahkan masuk."
Reno yang masih terkejut pun hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia melangkahkan kaki memasuki apartemen tersebut dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu. Dena dan Rean pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Reno. Kini, ketiganya duduk berhadapan.
Setelah keheningan selama beberapa saat, Reno kembali bersuara. "Jadi, kalian ini?" Reno menggantungkan pertanyaannya.
Kali ini, Dena yang menjawab pertanyaan Reno. "Iya. Kami sudah menikah dua hari yang lalu. Maaf kami tidak mengundang kamu, Ren. Acaranya memang hanya dihadiri anggota keluarga saja." Dena tersenyum hangat.
Saat itu, Dena bahkan tidak merasa canggung duduk berdekatan dengan Rean. Bahkan, tangan kanannya berani nangkring pada paha kiri Rean. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Rean saat tangan Dena menepuk-nepuk paha dan sedikit mengusap-usapnya. Montang-manting rasanya.
Namun, Rean berusaha menjaga degup jantungnya yang terasa berdebar-debar tersebut. Rean kembali fokus pada tamu laki-laki yang kini berada di depannya tersebut.
"Jadi, benar kalian sudah menikah?"
"Iya. Kami sudah menikah, Ren."
"Kalau begitu, selamat atas pernikahan kalian. Aku berharap, kamu bisa bahagia dengan pilihan ini, Den." Reno mengatakannya sambil menatap wajah Dena. Rean bisa melihat tatapan mata dari hati yang hancur.
"Iya pasti, Ren. Aku juga berharap, pernikahanmu bisa langgeng. Maafkan aku yang kemarin belum bisa menjenguk kelahiran putri kamu. Aku benar-benar sibuk mempersiapkan pernikahan kemarin."
Jederrrrrr.
Rean begitu terkejut mendengar perkataan Dena. Pernikahan? Istri? Putri? Apa-apaan ini? Jadi, laki-laki ini sudah menikah dan punya anak? Batin Rean.
"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti, kok."
Dena tampak tersenyum sambil masih menempel pada tubuh Rean. "Nanti, aku dan suami akan menyempatkan untuk mengunjungi putri kamu. Kalian masih akan tinggal di rumah orang tua, kan?"
"Iya. Nania ingin tinggal di sana setidaknya sampai putri kami berusia tiga bulan."
Dena tampak mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, obrolan ringan kembali dilanjutkan Rean sesekali ikut menanggapi obrolan tersebut. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Reno berpamitan. Rean dan Dena mengantarnya hingga pintu apartemen.
Setelah kepergian Reno, Dena segera kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya. Tentu saja Rean mengekori sang istri ke dapur.
Rean berdiri di depan pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di dada. "Siapa itu tadi, Miss? Sepertinya, dia menyukaimu, Miss," tanya Rean penasaran.
Dena menoleh sekilas ke arah Rean. Dia mencebikkan bibir sambil mengaduk masakannya. "Memang iya. Reno memang menyukaiku. Dia sudah mengatakannya kepadaku."
"Apa? Jadi suami orang itu menyukaimu, Miss?!"
\=\=\=
Hayo lho, apa lagi ini.
Eitss, jangan berpikir yang tidak-tidak dulu ya, mending mikir yang iya-iya, eh.