The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Musim - 2 Aku Siap



Reyhan tersedak makanannya saat mendengar perkataan Fida. Dia langsung menerima air minum yang disodorkan oleh sang istri kemudian menenggaknya hingga tandas. Reyhan meletakkan gelas yang di pegangnya sambil menatap wajah Fida.


"Ma-maksudnya apa?" Tanya Reyhan.


Fida tersenyum menatap wajah sang suami sambil memegang tangannya.


"Malam ini, kita bisa mempraktekkan semua gaya yang ada pada video-video itu, Mas."


"Hhaahh?! Me-memangnya sudah bisa?"


"Sudah dong. Aku bahkan sudah perawatan ke salon seharian ini. Aku sudah mempersiapkannya. Aku bisa jamin nanti mas Reyhan akan tergelincir jika menyusuri seluruh tubuhku ini." Jawab Fida sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya.


Glek.


Glek.


Glek.


Reyhan menelan salivanya dengan keras. Seketika otaknya langsung traveling pada video pemersatu bangsa yang sempat dikirimkan oleh Kenzo beberapa waktu yang lalu. Ya, sejak dikirimi link video oleh Kenzo, Reyhan memberanikan diri untuk menontonnya. Bayangan-bayangan video yang sempat dilihatnya kembali lagi di urutan depan otaknya.


Fida yang mengamati tingkah sang suami hanya bisa tersenyum. Dia beranjak berdiri dan menghampiri sang suami. Fida memeluk tubuh Reyhan dari belakang hingga bagian depan tubuhnya menempel pada punggung Reyhan. Seketika tubuh Reyhan langsung menegang merasakan kedua benda tersebut bersentuhan dengan punggungnya.


"Persiapkan diri kamu, Mas. Malam ini, aku sudah siap meng unboxing kamu. Cup." Kata Fida sambil memberikan sebuah kecupan pada pipi Reyhan.


Reyhan, jangan ditanya lagi. Jantungnya sudah jedag jedug tak karuan. Keringat dingin langsung merembes pada pelipisnya. Tangannya mendadak tremor dan tubuhnya sama sekali tidak bisa rileks. Dia masih merasa tegang.


Fokus Reyhan terpecahkan saat mendengar suara ponselnya berbunyi. Dia melirik siapa penelepon saat itu sebelum menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Hallo, Tuan." Sapa Reyhan. Ya, Kenzo lah yang menelepon Reyhan malam itu.


"Rey, tolong segera kamu kirimkan file proposal kepada sekretaris pak Vanno. Malam ini juga file itu harus sudah sampai. Besok putranya akan ke perusahaan kita untuk membicarakan masalah kerja sama ini." 


"Baik, Tuan. Saya akan segera mengirimkannya."


"Terima kasih, Rey. Oh iya, tadi Vanya bilang jika tadi siang istri kamu sudah mempersiapkan acara besar untuk malam ini. Jangan kasih kendor, Rey. Tunjukkan jika kamu bisa menaklukkan istrimu. Hahaha."


"Eh, i-itu a-anu…"


"Sudah, sudah. Segera kirimkan saja file itu ke sekretaris pak Vanno. Setelah itu, selamat bekerja keras. Hahahaha." Kata Kenzo sebelum menutup panggilan teleponnya.


Reyhan masih memandangi ponselnya sambil menghembuskan napas beratnya. Setelahnya, dia beranjak menuju ruang kerjanya untuk mengirimkan file yang diminta oleh Kenzo. 


Saat berjalan menuju ruang kerjanya, Reyhan berpapasan dengan Fida yang hendak keluar dari dapur.


"Mau kemana, Mas?"


"Eh, ini mau kirim file sebentar." Jawab Reyhan sambil berbalik menatap wajah Fida.


"Jangan lama-lama, ya Mas. Setelah itu, langsung ke kamar. Aku mau bereskan meja makan dulu."


Reyhan mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya. Sementara Fida, langsung membereskan meja makan.


Beberapa saat kemudian, Fida sudah selesai membereskan meja makan. Dia langsung beranjak menuju kamar tidurnya untuk bersiap-siap. Dia segera membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju dinas malam yang sudah dibelinya tadi siang. Fida juga sudah memakai parfum yang sangat menggoda di bagian-bagian sensitif tubuhnya. Dia meyakini jika Reyhan menciumnya, hal itu bisa menambah sensasi yang berbeda bagi keduanya nanti.


Fida juga memasang aroma terapi di dalam kamar. Pendingin ruangan juga sudah diaturnya sedemikian rupa agar membuat nyaman dirinya dan Reyhan nanti. Lampu kamar juga sudah diganti dengan lampu yang tidak terlalu terang dan terlalu gelap.


Fida tampak gugup saat menunggu kedatangan Reyhan. Ya, meskipun Fida sangat agresif, namun untuk hal seperti ini dia juga merasa gugup. Fida melirik jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Sudah lebih dari dua puluh menit namun Reyhan belum juga kembali ke kamar tidur mereka.


Kenapa lama sekali sih, Mas? Aku sudah siap ini. - tulis Fida pada pesan singkatnya.


Di ruang kerjanya, Reyhan memang baru saja selesai mengirimkan file proposal kepada sekretaris pak Vanno. Dia hendak mematikan laptopnya saat mendengar sebuah notifikasi pesan masuk pada ponselnya. Reyhan membaca pesan singkat dari Fida dengan gugup. Namun, dia meyakinkan dirinya sendiri jika cepat atau lambat ini semua pasti akan terjadi.


Reyhan tidak membalas pesan Fida. Dia segera merapikan meja kerjanya dan berjalan keluar ruangan. Reyhan memeriksa semua pintu dan jendela agar terkunci dengan sempurna. Hujan masih mengguyur di luar sana. Udara dingin tidak membuat tubuh Reyhan menjadi dingin, justru sebaliknya. Dengan langkah gugupnya, Reyhan berjalan menuju kamar tidurnya.


Saat sampai di depan pintu kamarnya, Reyhan berusaha menenangkan diri. Dia menghirup udara dalam-dalam melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut berkali-kali. Setelah cukup tenang, Reyhan memegang kenop pintu kamar dan membukanya.


Ceklek.


Wangi aromaterapi langsung menyusup masuk ke dalam hidungnya. Kedua netranya menyesuaikan dengan pencahayaan yang berada di dalam kamar tersebut. Reyhan segera masuk ke dalam kamar tersebut. Namun, dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan sang istri. Reyhan mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar tidurnya. Namun, lagi-lagi tidak dilihatnya sang istri.


Hingga telinganya menangkap sebuah suara dari dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.


Ceklek.


Reyhan berbalik dan menatap Fida tengah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan menggunakan baju dinas malamnya. Rahang Reyhan seakan terjatuh saat melihatnya. 


Bagaimana tidak, saat ini baju dinas malam yang dipakai oleh Fida benar-benar tidak berguna. Baju dinas malam berwarna merah itu hanya berupa jaring-jaring tipis dengan dihiasi oleh beberapa renda di bagian tepinya. Bagian atas baju tersebut benar-benar tidak menyembunyikan apapun di dalamnya. Apalagi Fida juga tidak memakai apapun lagi di bagian dalam baju tersebut sehingga langsung mengekspos bagian atas tubuhnya. 


Baju pilihan Fida tersebut menjuntai hingga sampai tengah paha. Bisa dipastikan jika Fida menunduk, bagian b🙄k🙄ngnya pasti akan terlihat secara sempurna.


Reyhan masih diam mematung melihat sang istri. Dia bahkan tidak menyadari saat Fida berjalan mendekat ke arahnya. Reyhan baru tersadar saat kedua tangan Fida sudah mengalung sempurna pada lehernya. Wajah Fida juga sudah berada di depan wajahnya. Ternyata Fida sudah berjinjit untuk mensejajarkan wajahnya pada wajah sang suami.


"Jangan tegang begitu, Mas. Kita bisa melakukannya pelan-pelan." Bisik Fida pada telinga Reyhan. Hembusan napas Fida langsung menyetrum sekujur tubuh Reyhan.


Tengkuk Reyhan langsung meremang. Kedua tangannya refleks mendekap tubuh sang istri. Entah keberanian dari mana Reyhan mengangkat tubuh Fida dan kini mereka tengah duduk di tepi tempat tidur. Saat ini, posisi Fida tengah duduk di pangkuan sang suami dengan kedua tangannya masih berada di balik tengkuk Reyhan.


"Kamu yakin sudah siap melakukan ini?" Tanya Reyhan sambil menatap kedua netra Fida.


Fida tersenyum sambil mengangguk.


"Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, Mas. I'm yours tonight."


"Hapmmmmhhhh"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jempol othor kiyuu ngetik kebut-kebutan.


Masih ngetik lanjutannya, jangan bilang sedikit ya, seribu lebih ini. Ngoweell 😩


Mohon dukungannya dengan klik like dan komen di setiap part. Kasih hadiah dan vote juga boleh banget, apalagi ini vote sudah muncul lho 🤗


Thank you