
Fara sedikit beringsut saat mendapati tatapan El yang menghujam langsung ke dalam matanya. Dia merasa entah mengapa tatapan El saat itu sangat berbeda.
"A-apa yang mau mas El lakukan?" Tanya Fara.
"Mau kenalan." Jawab El sambil beringsut mendekati Fara.
"Eh, ki-kita su-sudah kenal kan, Mas." Kata Fara sambil masih mengamati tangan kiri El yang sudah mulai merambat ke arah perutnya.
Grep.
Tangan kanan El langsung menarik lengan kiri Fara dan kini tubuhnya sudah berada di dalam pelukan sang suami.
"Anget." Kata El sambil mengeratkan pelukannya.
"Mmaa-mmaaasss." Fara bingung harus bersikap bagaimana.
"Hhhmmm, kamu tidak pakai kacamata ya ini. Terasa kenyal-kenyal, ada yang mengganjal ini, Yang."
"Eh, Ya-yyang?" Fara begitu terkejut saat mendengar El memanggilnya begitu.
"Mulai sekarang, kita harus membiasakan diri dengan panggilan itu. Bukankah kita sudah sepakat untuk belajar memulai pernikahan ini dari awal?"
Fara masih menggigit bibir bawahnya dibalik punggung sang suami. Jantungnya juga berdetak sangat kencang dengan aktivitas yang mereka lakukan saat itu.
"I-iya Mas. Aku akan mulai membiasakannya." Jawab Fara.
"Hhhmmm, rasanya nyaman sekali." Kata El sambil menggerak-gerakkan tubuhnya hingga bagian depan tubuh mereka langsung bergesekan.
"Ma-mass, i-ini kejepit." Cicit Fara.
Seketika El langsung melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Fara yang sudah mulai memerah. Rona merah wajahnya bahkan sudah menjalar ke telinga Fara. Fara tidak berani menatap wajah sang suami. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya sambil menggigiti bibir bawahnya.
"Coba aku periksa dulu apa yang tadi kejepit." Kata El sambil bergerak memainkan kancing kemeja Fara.
"Eh, eh. Nggak usah dilihat, Mas." Jawab Fara gelagapan. Apa maksudnya itu melihat yang tadi kejepit, ada-ada saja. Batin Fara.
"Nggak apa-apa. Ini juga bagian dari perkenalan kita, kan." Kata El sambil mulai melepas dua kancing teratas baju tidur Fara.
Fara tidak bisa menolak keinginan sang suami. Dia hanya bisa mencengkram kedua lengan El. Kedua mata El langsung membulat sempurna dengan mulut terbuka saat melihat kedua jelly kenyal terpampang di depan wajahnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, kedua tangan El sudah langsung menjamah kedua bukit kembar yang selalu membuat sesak tersebut. Fara langsung tersentak begitu kedua tangan El sudah menjalankan aksinya.
Tangan El tak tinggal diam disana. Tangan kirinya bahkan sudah mulai bergerak turun ke bawah untuk mencari lembah yang dekat dengan pengairan. Saat dia sudah mendapatkannya, Fara langsung memekik tertahan.
"Aacchhh, Massshh. Jangaaannnnhhh." Kata Fara sambil kelojotan. Mulutnya berkata jangan, tapi tubuhnya berkata iya. Bagaimana tidak, Fara berkali-kali mengucapkan jangan kepada El, tapi dia malah sudah terlentang pasrah.
"Eh, ini jangan di lanjut apa jangan berhenti?" Tanya El sambil melepaskan aktivitas tangannya.
Fara yang tengah ngos-ngosan hanya bisa menatap wajah El yang kini sudah berada di atasnya.
"La-lanjutkan, Mas. Selesaikan saja. Nanggung ini." Kata Fara dengan napas ngos-ngosan.
Tanpa aba-aba lagi, El langsung melanjutkan aksinya. Dia mulai melucuti seluruh pakaian Fara. Kedua matanya bahkan seakan tak rela untuk berkedip saat melihat tubuh polos sang istri.
"Maafkan aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Kata El sambil memulai kembali aksinya. Kali ini, bukan hanya tangannya saja yang mulai bekerja. Bibirnya juga tak berhenti menjelajah apapun yang ditemuinya.
Fara, jangan ditanya lagi. Teriakan-teriakan kecil dan de*sa*han sudah mulai menggema di seluruh kamar El. Tanpa menunggu lebih lama lagi, El langsung memulai kegiatan inti yang sudah menuntut untuk minta dituntaskan.
"Auuwwhhh, Maasshhh. Ke-napa sak-kitthhh. I-itu kan tumpul, tidak tajam. Aauuhhh."
"Tahan sebentar lagi, Yang. Ini masih sampai ruang tamu, belum sampai dapur."
"Hhaaah?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jika kurang berkenan bisa di skip ya.
Mohon maaf untuk semua, othor tidak bisa menulis yang lebih 'horor' lagi, takut babnya tiba-tiba hilang lagi 🙏
Semoga bisa memaklumi, ya. Terima kasih.