
Bu Ayunda tampak antusias mendengarkan cerita Kinan tentang kehamilan Dena. Beliau yang sudah hamil sebanyak tiga kali pun masih sering merasa kesulitan saat beraktivitas, apalagi jika hamil tiga orang anak sekaligus.
Kinan mengantarkan Bu Ayunda untuk beristirahat di dalam kamarnya. Setelah itu, dia baru bergegas menuju kamarnya sendiri. Siang ini, Kinan sebenarnya ingin jalan-jalan di sekitar hotel. Namun, rasa lelah pada tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Setelah membersihkan diri, Kinan dengan mudahnya terlelap di atas tempat tidur. Dia bahkan mengabaikan panggilan serta pesan yang dikirimkan oleh Dena beberapa saat yang lalu.
Menjelang malam, Kinan baru keluar dari kamar hotel untuk makan malam. Dia juga memilih untuk bergabung dengan para rekan dosen yang berasal dari fakultasnya. Ya, meskipun ada yang tidak menyukai Kinan, tapi dia akan berusaha untuk berbaur dengan mereka.
"Miss Kinan, besok jadi ikut ke acara resepsi Miss Adhia, kan?" tanya Bu Tami, salah seorang dosen yang cukup senior.
"Iya, Miss. Mumpung sudah di Bandung, jadi sekalian saja datang untuk menghormati undangan beliau."
"Syukurlah kalau begitu. Kita bisa berkumpul dengan semuanya disana. Sekaligus juga saling mengenalkan anggota keluarga masing-masing. Jarang-jarang kan ada acara kumpul-kumpul bareng?"
Kinan hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Entah dia bingung harus menjawab apa ucapan salah satu dosen seniornya tersebut. Hingga sebuah suara, kembali masuk ke dalam telinga Kinan.
"Tapi Miss Kinan datang sendiri besok Bu Tami, Miss Kinan kan masih single," ucap seseorang yang terlihat sangat tidak suka dengan Kinan.
"Ah, iya kah, Miss?" Bu Tami langsung menoleh ke arah Kinan.
Kinan hanya membalas dengan senyuman sambil mengedikkan bahu. Kinan tidak akan memberitahukan dengan siapa dia akan menghadiri acara resepsi pernikahan Miss Adhia esok hari.
Seketika Kinan teringat dengan Adrian. Selama hampir tiga hari ini, mereka benar-benar tidak berkomunikasi. Hal itu disebabkan karena padatnya jadwal seminar Kinan, dan banyaknya pekerjaan yang harus Adrian selesaikan.
Setelah makan malam, Kinan segera beranjak menuju kamarnya. Kebetulan saat itu dia meninggalkan ponselnya di dalam kamar karena kehabisan daya.
Begitu sampai kamar, Kinan buru-buru memeriksa ponselnya. Dia mengira akan ada pesan atau panggilan dari Adrian. Namun, Kinan harus menelan kekecewaan. Tidak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Adrian.
Karena cukup penasaran, Kinan mencoba menghubungi Adrian. Dia mengirimkan beberapa pesan dan mencoba melakukan panggilan telepon maupun panggilan video pada nomor Adrian. Namun, lagi-lagi panggilan tersebut tidak tersambung.
Kinan hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia beberapa kali masih mencoba menghubungi Adrian, namun tidak mendapatkan balasan. Hingga tak terasa Kinan sudah tertidur.
Pagi itu, Kinan terbangun dengan kondisi tubuh lebih baik. Dia merasa segar dan fresh karena sudah menyelesaikan tugas saat mengikuti seminar.
Setelah bersiap-siap, Kinan segera keluar dari kamar untuk mengambil sarapan sebelum check out dari hotel. Lagi-lagi, dia harus bergabung dengan beberapa rekan dosen yang berasal dari kampusnya. Meski tidak sebanyak semalam, namun Kinan masih bisa melihat wajah-wajah julid yang menatapnya. Kebanyakan, para dosen sudah dijemput oleh keluarganya.
Kinan memilih untuk mengambil tempat duduk terpisah. Meskipun begitu, mereka masih bisa melihat dan mendengar obrolan masing-masing.
Saat Kinan sedang menyantap sarapannya, tiba-tiba ada dua buah tangan kekar yang melingkari bahu Kinan dari belakang dan mendaratkan sebuah kecupan basah pada pipi kiri Kinan.
"Morning, Honey."
\=\=\=\=
Waahhh, siapa itu?