
Kenzo dengan bantuan Reyhan langsung membawa beberapa kantong belanjaan berisi pakaian dalam wanita. Mereka segera menuju kamar hotel Vanya karena sudah beberapa kali Vanya menelepon Kenzo. Sesampainya di depan pintu kamar, Reyhan segera menurunkan kantong belanjaan tersebut dan segera pamit undur diri. Kenzo segera membuka pintu kamar hotel tersebut.
Ceklek.
Kenzo segera masuk ke dalam kamar dan meletakkan barang belanjaannya yang berisi pakaian-pakaian dalam tersebut di dekat tempat tidur. Kenzo masih memegang kantong yang berisi pembalut untuk diberikannya kepada sang istri. Namun, dia tidak menemukannya di dalam kamar. Mungkin Vanya berada di balkon, pikirnya. Dan benar saja, Vanya tengah berdiri di dekat dinding.
"Mas, kenapa lama sekali sih." Kata Vanya sambil berjalan ke arah Kenzo. "Kamu nggak kesulitan Kan?" Tanya Vanya.
Kenzo menggeleng sambil menarik tubuh Vanya hingga menempel di dadanya. Vanya gelagapan dibuatnya. Seketika didorongnya dada bidang suaminya.
"Mas ih, aku lagi datang bulan." Kata Vanya sambil meminta kantong yang dibawa oleh Kenzo dan berjalan masuk ke dalam kamar. "Tunggu di luar sampai aku selesai." Lanjutnya sambil menutup pintu.
Setelah menutup pintu, Vanya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia masih tidak memperhatikan barang-barang belanjaan Kenzo yang tergeletak di lantai di dekat tempat tidur kamar tersebut, karena posisi kamar mandi berseberangan dengan arah tempat tidur.
Begitu selesai, Vanya langsung keluar dari kamar mandi. Dia kembali berjalan menuju balkon untuk menemui sang suami. Dilihatnya Kenzo masih sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Vanya berjalan mendekat ke arahnya.
Kenzo yang menyadari kedatangan Vanya langsung menoleh menatap wajah sang istri. Dia segera mengakhiri kegiatannya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Kenzo menarik lengan Vanya hingga dia terjatuh di atas pangkuannya. Vanya yang terkejut mendadak memalingkan wajahnya karena malu.
Kenzo yang gemas dengan tingkah istrinya segera menarik wajah sang istri hingga menghadapnya. Kedua netra mata mereka saling berhadapan. Kenzo benar-benar sudah mulai candu dengan bibir ranum istrinya itu.
"Aku mau menagih janji kamu tadi pagi." Kata Kenzo tak mengalihkan tatapan matanya pada bibir Vanya.
"Janji apa?" Tanya Vanya polos tanpa dosa. Dia lupa dengan janjinya jika dia akan memberikan hadiah lebih jika Kenzo sudah pulang dari belanja.
Kenzo mendengus kesal setelah mendengar jawaban sang istri. Karena sudah tidak tahan lagi, Kenzo segera meraih tengkuk Vanya dengan tangan kirinya. Dia kembali melanjutkan aksinya tadi pagi yang terpotong oleh Vanya.
Vanya masih terkejut dengan tindakan tiba-tiba Kenzo. Namun, dia berusaha untuk mengimbanginya. Vanya memejamkan mata dan berusaha mengikuti alur yang dibuat oleh Kenzo. Bibir Kenzo mulai m*ny*s*p dan m**gul*m bibir ranum Vanya. Digigitnya bibir bawah Vanya hingga sedikit terbuka. Kenzo tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Lidahnya mulai mengeksplore sesuatu yang masih baru baginya.
Eeemmmppphh eeughhhhhhh eeemmppphhhh.
Suara penyatuan kedua benda kenyal tersebut masih terdengar dengan jelas di tengah-tengah suara deburan ombak air laut yang terhampar tak jauh di depan balkon kamar mereka.
Vanya segera melepaskan diri dari Kenzo saat pasokan oksigennya sudah mulai habis. Kenzo membiarkan sang istri meraup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya. Namun, tangan dan bibirnya tidak tinggal diam. Kenzo mendekatkan bibirnya pada ceruk leher Vanya dan mulai melukis disana.
Ditelusurinya leher sang istri dengan hidung dan bibirnya. Tangan Kenzo tak tinggal diam. Seperti sudah sangat ahli tangan kanannya menelusup masuk kedalam baju Vanya. Dicarinya melon yang sudah berkali-kali membuatnya mupeng sejak pagi tadi.
Setelah berhasil menemukannya, Kenzo langsung beraksi. Dire*m*snya melon Vanya dengan sedikit lebih keras sehingga sang empunya langsung menggelinjang tak karuan.
"Mmaaasshhh, aauuhhh oooouuhhhhh hhmmmppphhhh." Racau Vanya sambil mendongakkan kepala kesana kemari.
Tangan kanan Vanya sudah menelusup pada rambut Kenzo, sedangkan tangan kirinya memegang bahu Kenzo dengan sangat kuat. Hidung dan bibir Kenzo masih menjelajahi lehernya hingga meninggalkan banyak tanda di sana. Vanya hanya bisa meremas rambut Kenzo sambil menggigiti bibir bawahnya.
Vanya yang mengetahui jika Kenzo sangat kesal segera bangkit dari pangkuan sang suami. Ditariknya lengan sang suami hingga berdiri.
"Aku tidak mau melakukannya disini." Kata Vanya sambil menarik tangan Kenzo berjalan menuju kamar tidur mereka.
Namun, saat sudah mendekati tempat tidur mereka, mata Vanya menatap tumpukan kantong belanjaan di samping tempat tidur. Vanya berhenti di dekatnya dan berbalik menatap wajah sang suami.
"Apa ini Mas?" Tanya Vanya.
"Eh, it-itu anu, pesanan kamu tadi." Jawab Kenzo kikuk.
Vanya kembali mengerutkan keningnya bingung. Dia mengingat pesanan yang dititipkan kepada sang suami hanyalah pembalut dan b*a. Jika pembalutnya tadi sudah diambil, apakah semua ini adalah b*a? Batin Vanya.
Vanya menoleh menatap wajah Kenzo kembali. Dia memasang wajah menuntut jawaban dari suaminya.
"Kamu membelikan aku b*a sebanyak ini Mas?" Tanya Vanya masih dengan tatapan shocknya.
Wajah Kenzo sedikit gugup mendengar pertanyaan Vanya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mengangguk. Vanya mendesah kesal mendengarnya.
"Kukira mas Ken akan memintaku untuk tidak memakai b*a nantinya. Eh, tapi malah dibelikan b*a sebanyak ini." Kata Vanya sambil menatap kantong-kantong belanjaan tersebut dengan tatapan ngeri.
"Eh,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kira-kira apa yang akan dilakukan Kenzo ya,
Maaf slow up untuk yang ini. Karena yang satunya menuntut untuk harus up setiap hari. 🙏