The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 112



Adrian tak menghentikan aktivitas bibir dan tangannya yang masih mengusap-usap paha bagian dalam sang istri. Hingga lenguhan demi lenguhan yang dikeluarkan oleh Kinan, benar-benar terasa menjadi penyemangat tersendiri baginya.


"Aauugghhh, Masss. Eehhmmmmhh."


Kinan yang tampak tidak sabar, langsung meraih wajah Adrian dan membawanya mendekat. Dengan tergesa-gesa dan menuntut, Kinan langsung meelumat bibir sang suami dengan ganas. Tak mau ketinggalan, Adrian pun langsung mengimbangi keinginan sang istri dengan tergesa-gesa pula. Entah apa yang mereka kejar hingga tergesa-gesa seperti itu. 🤧


Adrian melepaskan paguutannya sesaat setelah mengetahui Kinan kehabisan napas. Dia menjauhkan wajahnya sambil menatap wajah Kinan yang tampak sayu di tengah remang-remang cahaya lilin yang diletakkan Kinan di ujung meja riasnya. Secepat kilat, Adrian melepaskan kaos yang melekat pada tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat wajah Kinan semakin berbinar bahagia.


"Maass?" Kinan tanpa ragu menyentuh bagian dada Adrian yang tampak liat karena sudah berkeringat. Hujan deras di luar sana, rupanya tak cukup membuat tubuh keduanya kedinginan. Justru, mereka sudah sama-sama kepanasan. Entahlah apa yang membuat mereka kepanasan. Bahkan, 'kayu bakar' pun belum dimasukkan ke dalam tungku. 🤧


Adrian masih menatap wajah Kinan dengan tatapan memuja. Kali ini, dia ingin memastikan istrinya tersebut benar-benar menginginkan untuk meneruskan adegan selanjutnya.


"Kamu yakin mau melanjutkan ini sekarang?" tanya Adrian memastikan. Tatapan matanya menghunus tajam ke dalam mata Kinan.


Tangan kanan Kinan menyentuh pipi Adrian dan mengusapnya dengan lembut. Sebenarnya, tak perlu lagi jawaban, karena dari tatapan mata Kinan saja sudah bisa disimpulkan jika istri Adrian itu sudah sangat mupeng.


"Tentu saja, Mas. Aku sudah kedutan di bawah sana. Ya kali harus di tunda. Mau digesekkan di mana coba," Kinan mengerucutkan bibirnya sambil mencubit gemas pipi Adrian.


Mendapat lampu hijau dari sang istri, kini Adrian tidak mau menunda lagi. Bukan hanya Kinan yang tengah mupeng dan nyut-nyutan di bawah sana. Namun, Adrian juga sama-sama mupengnya seperti Kinan.


Menyadari maksud tindakan Adrian, Kinan membantu sang suami dengan mengangkat tubuhnya agar usaha yang dilakukan oleh Adrian untuk melepas baju tidur Kinan, bisa dilakukan dengan mudah.


Sreett. 


Kini, lolos sudah baju tidur Kinan dari tubuhnya. Adrian bahkan langsung melemparkan baju tidur tersebut ke belakang tubuhnya hingga nyangkut di handle pintu kamar mandi yang berada tepat di belakang posisi mereka saat itu.


Adrian melepaskan pagutannya dan mengangkat tubuhnya yang sejak tadi menempel erat pada tubuh Kinan. Dia menatap nanar tubuh polos Kinan yang memang langsung terpampang nyata karena Kinan tidak memakai apa-apa lagi di dalam baju tidurnya tersebut. Meski hanya diterangi cahaya lilin, Adrian bisa benar-benar melihat tubuh polos sang istri dengan jelas.


Merasa malu sekaligus jantung berdebar-debar, Kinan merapatkan kedua kakinya. Wajahnya memerah saat menyadari tatapan Adrian bak singa lapar yang benar-benar sangat ingin menerkamnya bulat-bulat.


Kini, tatapan Adrian yang sejak tadi terpaku pada 'rerumputan' yang tertata dengan rapi dan tampak melambai-lambai tersebut, langsung beralih pada wajah si empunya.


"Kenapa di tutupi?" tanya Adrian sambil tangannya mulai bergerilya kembali.


"Ehmm, ma-malu, Mas." Kinan menjawab dengan pipi yang terasa panas. Bisa dipastikan jika lampu menyala, wajah Kinan seperti kepiting goreng.