The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.42



Revina langsung menutup mulutnya saat menyadari dirinya telah keceplosan. Revina melirik ke arah Bian yang sedang menyetir.


"Ehm, ma-maaf, Pak. Maksud saya bukan begitu." Jawab Revina. Dia tidak mau jika sampai Bian menganggapnya perempuan yang terlalu bar-bar seperti Nova. Biarlah dia akan berusaha untuk mendekati Bian pelan-pelan.


Bian hanya menoleh sekilas dan menganggukkan kepala setelahnya.


"Terima kasih tadi sudah membantuku lepas dari Nova." Kata Bian beberapa saat setelahnya.


Revina menoleh menatap wajah Bian yang tengah fokus menyetir. Dia bisa melihat wajah Bian yang terlihat sangat lelah.


"Sama-sama, Pak. Maafkan saya tadi lancang. Saya hanya melihat Bapak merasa sangat tidak nyaman tadi."


"Iya, kamu benar. Nova memang selalu seperti itu. Bahkan, sejak kakakku masih ada." 


"Bapak menyukainya?" Tanya Revina.


Bian menolehkan kepalanya menatap Revina kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak menyukainya. Aku hanya menganggapnya seperti keluargaku sendiri. Nova berusia dua tahun di atasku. Dia adik satu-satunya kakak iparku." 


Revina mengangguk mengerti. Hatinya sedikit merasa lega saat mengetahui jika Bian tidak menaruh hati kepada Nova. Revina berpikir, dia masih mempunyai kesempatan.


"Kita mampir ke rumah pak Kaero dulu, ya. Aku harus menyerahkan laporan untuk rapat besok pagi. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


"Eh, saya bisa pulang sendiri, Pak. Saya bisa naik taksi." Elak Revina. Dia tidak ingin merepotkan Bian. 


"Tidak apa-apa. Aku tetap akan mengantarmu pulang." Jawab Bian sambil mengarahkan mobilnya menuju sebuah komplek perumahan. Revina meyakini jika mereka akan pergi ke rumah Kaero.


Mau tidak mau, Revina menuruti keinginan Bian. Tak berapa lama kemudian, mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Revina sempat membulatkan kedua mata dan mulutnya saat melihat rumah di depannya. Rumah dua lantai yang sederhana dan cukup minimalis. Tidak akan ada yang menyangka jika rumah ini adalah rumah seorang CEO perusahaan otomotif.


"Ayo turun dulu." Kata Bian membuyarkan lamunan Revina.


Bian turun terlebih dahulu dengan membawa payung. Kemudian, dia membantu Revina untuk membuka pintu mobilnya.


Setelah mengucapkan salam, seorang wanita paruh baya terlihat membukakan pintu.


"Eh, Den Bian. Mari masuk, Deden lagi main sama si kecil. Saya panggilkan dulu." Kata bi Darti, asisten rumah tangga di rumah Kaero.


Bian mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia mengajak Revina untuk duduk sambil menunggu kedatangan Kaero. Tak berapa lama kemudian, Kaero terlihat datang sambil menggendong Sean. Kaero yang hanya memakai celana pendek berwarna hitam dan kaos putih polos tersebut terlihat berkeringat. Hal yang sama juga terlihat pada kaos si kecil, Sean.


"Sudah selesai semua?" Tanya Kaero.


"Sudah, Pak. Ini semua yang harus ditandatangani untuk besok pagi." Kata Bian sambil menyerahkan beberapa map kepada Kaero.


Saat Kaero menerima map dari Bian, terlihat Sean turun dari gendongan sang daddy dan berjalan ke arah Revina.


"Antik." Kata Sean sambil memukul-mukul lutut Revina.


"Eh, adik kecil namanya siapa?" Tanya Revina gemas. Sebenarnya Revina sudah tahu siapa nama Sean, dia hanya berpura-pura bertanya.


"Ean."


"Ean?" Ulang Revina.


"Kean?" Goda Revina.


"No, no, no. Ean." Sean sudah mulai kesal. Dia bahkan sedikit berteriak.


"Eh, maaf, maaf. Iya, Sean kan?"


Batita tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya, terdengar panggilan dari dalam.


"Sean, mandi dulu yuk sama Mommy."


Sean menoleh menatap sang mommy yang baru saja datang ke ruang tamu.


"Lho, ada Bian juga ternyata. Eh, ini pacar kamu, Bi? Ya gitu dong, jalan sama cewek. Jangan jalan berdua terus dengan mas Kae, bahaya." Kata Keyya, mommynya Sean.


"Ccckkk, memang bahaya kenapa sih, Yang? Dikira aku ini bakteri apa." Gerutu Kaero.


"Bukan begitu, Mas. Kasihan Bian jika terus-terusan sama kamu. Bisa-bisa dia tidak melirik perempuan tapi malah melirik kamu." Jawab Keyya.


"Eh, memang benar begitu, Yan?" Tanya Kaero.


"Tentu saja tidak, Pak. Saya masih normal Bu, saya juga masih suka perempuan." Jawab Bian.


"Baguslah, sudah seharusnya kamu segera menikah." Kata Kaero sambil melirik ke arah Revina dan Bian bergantian.


Baik Bian dan Revina menjadi salah tingkah karena tatapan mata Kaero. Keyya yang menyadari jika Bian dan Revina salah tingkah pun langsung bersuara.


"Sudah, jangan kelamaan. Nanti diserobot orang. Eh, kalian buka disini saja, ya." Kata Keyya.


"Ehm, maaf Bu. Kami harus segera pulang. Kasihan Revina nanti." Jawab Bian.


"Ya sudah, lain kali saja."


Setelahnya, Bian dan Revina segera pamit undur diri. Bian segera mengantarkan Revina pulang setelah mengetahui alamat rumahnya. Sesampainya di depan rumah Revina, Bian segera membuka payung dan mengantarkan Revina hingga depan pintu rumahnya. Saat mereka baru tiba di teras, terdengar suara seorang wanita keluar dari pintu utama rumah Revina.


"Rev, sudah datang? Eh, apakah ini calon mantu Mama?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon bantu promosi cerita ini ya. Terima kasih juga untuk dukungannya.