
Fara masih berdiam diri di dalam kamar mandi El. Dia terlihat ragu-ragu untuk memakai baju tidur yang diberikan mommy Vanya.
"Ini bukannya baju tidur. Mana mungkin bisa tidur nyenyak dengan baju seperti ini. Yang ada aku pasti akan begadang semalaman." Gumam Fara.
Cukup lama Fara berada di dalam kamar mandi. Hingga El sedikit khawatir karena Fara belum juga keluar dari sana. El hendak memeriksa Fara ketika pintu kamar mandi terbuka.
Ceklek.
El mengurungkan niatnya saat melihat Fara berjalan keluar dari kamar mandi. Fara memutuskan untuk tidak memakai baju yang diberikan oleh mommy Vanya malam itu. Biar bagaimanapun juga, mereka berjanji untuk memulai pernikahan ini pelan-pelan. Fara tidak mau jika sang suami akan berpikiran yang tidak-tidak saat melihatnya memakai pakaian seperti itu.
Fara menghentikan langkahnya beberapa langkah dari tempat tidur. Dia bingung harus tidur dimana malam itu. El yang melihatnya mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa masih berdiri di sana?" Tanya El.
"Eh, ehm, a-aku akan tidur di sofa, Mas." Jawab Fara sambil beranjak hendak mengambil bantal.
"Kenapa harus tidur di sofa? Kita sudah menikah. Sudah seharusnya kita tidur ditempat yang sama. Tidur di sini, di sampingku." Kata El.
"Eh, apa tidak apa-apa?"
"Justru kalau kamu tidur di sofa akan ada apa-apa nanti."
"Hhaah?"
"Sudah, jangan banyak bertanya. Sini, aku ingin ngomong." Kata El sambil menepuk sisi tempat tidur disampingnya.
Mau tidak mau Fara mengikuti keinginan sang suami. Dia segera merangkak ke atas tempat tidur dan duduk bersandar seperti yang tengah dilakukan oleh El. Setelahnya, terjadi keheningan cukup lama antara El dan Fara. Keduanya masih diam tak bersuara karena canggung. Hingga El memberanikan diri untuk memulai pembicaraan tersebut.
"Ra," El membuka suara.
"Eh, iya." Fara sedikit terkejut.
"Kamu tahu benar bagaimana perasaanku,.."
"Iya, Mas. Aku tahu jika kamu masih mempunyai perasaan terhadap kak Revi. Aku juga tahu tidak akan mudah untuk menghilangkannya. Aku tidak akan menuntut,..."
"Ra, dengar dulu aku ngomong!" Sergah El karena Fara sudah memotong perkataannya.
Fara seketika menutup mulutnya rapat-rapat dan menganggukkan kepalanya. El menghembuskan napas beratnya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kamu tahu aku masih mempunyai perasaan terhadap Revi. Tapi, itu tidak sebesar dulu. Aku minta bantuanmu agar aku benar-benar bisa melupakannya. Bagaimana? Bisa?" Tanya El.
Fara masih diam tak menjawab pertanyaan El. Kedua matanya masih mengamati wajah El yang kini berada di depannya. El yang melihat Fara hanya diam langsung menggoyangkan bahu Fara.
"Ra, kamu dengar aku ngomong apa?" Tanya El geram.
"Eh, iya Mas. Aku dengar kok."
"Lalu, bagaimana?" Tanya El tidak sabar.
"Sebelum aku jawab, boleh aku bertanya?"
El mengangguk mengiyakan pertanyaan Fara.
"Eh, kenapa menanyakan hal itu?" El mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan Fara.
"Maaf, Mas. Setidaknya, aku harus tahu masa lalu kalian, jadi aku bisa mengambil langkah yang diperlukan untuk membantu kamu agar dapat melupakan kak Revi."
El mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bisa mengerti maksud Fara.
"Ehm, aku tidak tahu pastinya sejak kapan. Rasa itu muncul tiba-tiba. Kami selalu berada di sekolah yang sama sejak kecil hingga kuliah. Mungkin, karena sering bersama itulah muncul rasa seperti itu." Jawab El.
"Ehm, mungkin itu yang disebut witing tresno jalaran soko kulino, Mas." Jawab Fara yang mulai bisa mengerti.
"Eh, apa? Wit itu kan pohon? Jalaran itu kuda, ya? Soko itu pilar begitu?"
"Astaga, Mas. Itu peribahasa Jawa. Artinya cinta ada karena terbiasa. Jangan diartikan terpisah begitu. Memangnya baju terpisah. Lagian, kuda itu jaran bukan jalaran." Gerutu Fara.
"Ya, mana aku ngerti artinya begitu. Aku hanya tahu sedikit-sedikit. Itu juga gara-gara nenek waktu masih ada dulu."
"Lalu, apa yang membuat mas El suka dengan kak Revi?" Tanya Fara.
"Nggak tahu."
"Masa iya sih nggak tahu."
"Aku beneran nggak tahu kenapa aku bisa suka sama dia."
"Kalau begitu, aku harus mulai dari mana untuk membantu kamu, Mas?" Tanya Fara. Dia sendiri bingung harus melakukan apa.
"Tidak usah berpikir untuk menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri. Jika kamu ingin aku bisa mencintaimu, buat aku mencintaimu karena dirimu sendiri. Bukan karena orang lain." Kata El.
Seketika Fara membulatkan mata dan mulutnya setelah mendengar perkataan El. Dia bingung harus memulai dari mana.
"La-lalu, aku harus mulai dari mana?" Tanya Fara.
"Ehm, dimulai dari aktivitas yang biasa dilakukan suami istri." Jawab El.
"Hhaaah? Yang iyes-iyes begitu?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungan vote, like dan komen ya.
Berhubung saat ini sudah masuk tanggal 1 Syawal 1442 H, othor mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. 🙏