The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.88



"Hhmmm setahuku banyak sih. Benarkan, Mas?" Kata Revina sambil mengunyah sisa makanannya dan menoleh menatap wajah Bian.


Seketika Angga tersedak mendengar panggilan Revina kepada Bian. Angga buru-buru mengambil air minumnya dan menenggaknya hingga habis. Sementara itu, Revina yang tersadar telah keceplosan pun mendadak panik.


"Mas?" Tanya Angga sambil menatap tajam ke arah Revina. "Kamu memanggil pak Bian dengan sebutan, Mas?"


"Hhaah? Kamu salah dengar kali, Ngga. Pak, aku memanggil pak Bian dengan sebutan Pak." Kilah Revina.


"Iya kah?" Angga masih tidak mempercayai perkataan Revina.


"Iya, benar. Tapi, jika pak Bian mau dipanggil dengan sebutan Mas, aku bersedia sekali lho." Kata Revina sambil tersenyum ke arah Bian.


Bian menjadi salah tingkah dengan ulah sang istri. Meskipun dia sudah mulai terbiasa dengan godaan sang istri, namun Bian masih sering saja salah tingkah. Bian segera berdehem untuk menetralisir tenggorokannya yang tiba-tiba mengering.


"Eheemmm. Jangan suka aneh-aneh Rev." Kata Bian sambil melirik sang istri.


"Saya kan tidak aneh-aneh, Pak. Saya hanya menawarkan kepada Bapak, kan. Itu pun jika Bapak berkenan. Jika tidak, nanti saja saya akan memanggil suami saya dengan sebutan, Mas." Jawab Revina.


Bian hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Angga yang melihat tingkah Revina pun melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama sudah hafal dengan tingkah Revina.


"Pak Bian asli Jawa?" Tanya Angga.


"Iya, saya asli dari sebuah kabupaten di Jawa Timur. Namun, sejak SMA sudah pindah ke Surabaya." Jawab Bian.


"Berarti bisa bahasa Jawa dong?" Tanya Angga kemudian.


"Hhhmmm. Lumayan."


"Kalau boleh tahu, apa artinya bojo, Pak?" Tanya Angga.


"Suami." Jawab Bian dengan santainya.


"Apaa?? Kamu sudah menikah, Rev?!"


Seketika Revina dan Bian terkejut mendengar pertanyaan Angga. Mereka benar-benar tidak mengetahui maksud Angga. Bian berpikir, jika Angga sudah mengetahui pernikahannya dengan Revina. Bian hanya bisa menoleh menatap wajah Revina.


"Dengar Angga, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami bisa menjelaskan semuanya." Kata Bian. Dia sedikit panik setelah melihat Angga mengerutkan keningnya bingung.


"Menjelaskan apa, Pak?" Tanya Angga.


Revina hendak menjawab pertanyaan Angga, namun Bian segera mencegahnya.


"Kami tidak merencanakannya sebelumnya. Pernikahan kami juga mendadak sekali. Ada suatu keadaan yang membuat kami menikah secepatnya." Jawab Bian.


Angga semakin terkejut. Kedua bola matanya membesar dengan sempurna. Jangan lupakan mulutnya yang terbuka karena terkejut.


"Ka-kalian sudah menikah?" Tanya Angga.


"Eh, maksudnya apa? Bukanya kamu tadi sudah mengetahui pernikahan kami?" Kali ini giliran Bian yang bingung.


Setelahnya, Bian terpaksa menceritakan semuanya kepada Angga dan meminta Angga untuk merahasiakan pernikahan mereka. Setidaknya, sampai Revina menjadi karyawan tetap. Bian tidak ingin ada anggapan jika Revina mendapatkan pekerjaannya karena sudah menjadi istrinya. Angga pun mengerti dan berjanji tidak akan memberitahukan orang lain terkait pernikahan Revina dan Bian.


•••


Beberapa minggu pun berlalu. Kini, El sedang mengendarai mobilnya untuk menjemput Fara yang saat ini sedang ada urusan di kampus. El sudah memberitahukan kepada Fara jika saat itu dia sedang dalam perjalanan menuju kampus sang istri.


"Mau balik sekarang, Ra?" Tanya Mitha, teman sekelas Fara, yang saat itu kebetulan sedang melintas di dekat Fara.


"Ah, iya Mit."


"Nunggu suami atau supir kamu?" Tanya Mitha kembali. Ya, kebanyakan teman-teman Fara memang sudah tahu jika Fara sudah menikah. Namun, mereka belum mengetahui siapa suami Fara.


"Suami. Dia masih di jalan, kok."


"Mau aku temani?"


"Nggak usah, Mit. Sebentar lagi juga datang kok. Kamu balik duluan saja." Jawab Fara sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Aku balik dulu." Kata Mitha sambil beranjak berdiri.


"Iya, Mit. Hati-hati." Kata Fara sambil tersenyum.


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai El sudah sampai di kampus Fara. Melihat hal itu, Fara segera masuk ke dalamnya.


"Mas, mampir di warung depan SMA ku dulu ya. Aku mau membeli rujak buah." Kata Fara setelah memasang seat belt nya.


"Tumben mau rujak?" 


"Entahlah. Tiba-tiba saja aku ingin memakannya."


"Hhhmmm."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon bantuan vote untuk othor ya. Jangan lupa kasih like, komen dan hadiah jika berkenan. Terima kasih. 🤗