
Haidar mengendarai mobil sportnya menuju rumah Terra sang kekasih. Pria itu begitu penasaran dengan sosok bodyguard yang menjadi pengawal gadis itu.
Pria itu tahu, rupa para pengawal dari perusahaan ''SavedLife'' itu semuanya tampan. Hanya saja, ia penasaran. Setampan apa pengawal yang menjadi bodyguard kekasihnya itu.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, pria itu sudah sampai di rumah Terra. Penjaga pintu membukakan pagar melihat siapa yang datang.
Setelah memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Terra. Pria itu sudah mendapati sosok tampan dengan balutan formal warna hitam, khas bodyguard.
"Sialan. Dia tampan sekali!" sungutnya dalam hati kesal.
Pengawal itu menyadari kedatangan Haidar. Tentu saja ia tahu siapa sosok yang datang. Haidar suka wara-wiri ke tempat perusahaannya. Selain memesan beberapa pengawal khusus. Haidar juga mengikuti training di camp khusus tempatnya mengabdi.
Bahkan Haidar merupakan pendidik terbaik di atasnya. Budiman sangat tahu level kekuatan pria yang kini memandangnya tajam itu.
"Selamat petang, Tuan muda," sapanya sambil menunduk hormat.
Haidar hanya berdehem menjawab sapaan pengawal itu. Pria itu berlalu dan masuk ke dalam rumah. Budiman hanya menghela napas panjang.
Setelah tadi mendapat ancaman dari anak usia delapan tahun. Kini ancaman itu jauh lebih kuat dan berbahaya datang dari pria yang notabene adalah kekasih dari klien yang mesti ia jaga.
Adzan maghrib berkumandang. Seorang asisten rumah tangga memanggilnya untuk masuk ke dalam. Sebenarnya ia sedikit sungkan jika sering masuk dalam rumah.
Setelah ia memindai seisi rumah dan aman. Ia merasa ada hal lain dalam rumah itu. Perasaan asing menyusup masuk dalam sanubarinya. Sesuatu yang membuat hatinya berdesir seakan dialiri oleh tegangan listrik dengan skala kecil. Istilahnya tersetrum.
"Kakak muslim kan?" sebuah pertanyaan menyentak lamunan Budiman.
Ia mengangguk.
"Kita jamaah yuk. Di belakang situ ada tempat air buat wudhu, kita tunggu di sini," ajak Terra.
Deg!
Lagi-lagi setruman itu ia rasakan. pria itu sudah lama menundukkan kepalanya di atas tanah. Seperti tersihir, pria itu berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Terra. Di sana sudah ada Darren dan Haidar yang sedang berwudhu.
Pria itu melepas sepatu juga kaos kakinya. Mengambil sandal yang ada. Menggulung lengan dan celana panjangnya. Sejurus kemudian pria itu pun mensucikan dirinya.
Tak lama, semua sudah berada di ruang tempat bermain anak. Haidar memimpin sebagai imam. Budiman berdiri diapit oleh Darren dan Deno, kemudian Rion. Di belakang shaf ada, Terra, Lidya dan ketiga asisten rumah tangga.
"Rapatkan shaf!" titah Haidar.
Darren mengumandangkan komat. Semuda berdiri.
"Allahu Akbar!'
Maka melantunlah denagn merdu ayat suci yang dibacakan oleh Haidar. Mereka pun shalat dengan khusyuk.
Sedang Rion. Bocah montok itu pun berusaha mengikuti gerakan sholat dengan baik dan tidak berisik.
**********
Mereka kini sudah berada di sebuah arena permainan anak. Terra memanjakan anak-anak karena besok adalah hari minggu. Jadi, di sini lah mereka.
Budiman tampak mengamati ketiga anak yang bermain. Karena Terra menugaskannya demikian. Tiba-tiba.
Set!
"Hup!' Budiman menangkap bola plastik berukuran kecil yang mengarah padanya.
Pria itu mengetahui siapa pelakunya. Rion tersenyum sambil bertepuk tangan. Budiman cukup terkejut.
Balita yang baru berusia satu tahun itu, mampu melempar benda kecil ini sangat kencang dan kuat. Telapak tangan Budiman sedikit perih.
Pria itu menyangka jika, Rion juga memiliki keahlian khusus. Pria itu melempar lagi bola ke arah Rion.
Set ... bola melayang.
"Hup!' tidak kena.
Budiman hanya tersenyum tipis. Ia menggeleng kepala. Dugaannya salah. Ia pun mendudukkan kembali dirinya.
"Om Budi!" sebuah suara lucu menggemaskan milik Lidya memanggilnya.
Pria itu menoleh asal suara.
"Iya, Nona kecil," saut Budiman hormat.
"Om Budi lelah?" tanya Lidya dengan pandangan menelisik.
Entah apa, tiba-tiba hati pria itu berdenyut aneh ketika mendengar pertanyaan Lidya. Pria itu menggeleng.
"Tidak Nona. Sudah tugas saya."
Tiba-tiba Lidya menggenggam tangan Budiman. Matanya yang jernih menatap netra pria yang kini memandangnya. Jantung Budiman berdegup dengan kencang tidak seperti biasanya.
"Om halus sabal ya, jagain Iya, Tata Dallen syama Baby Lion juga Mama. Tapi, yang pelenting Om juga jaga dili Om telutama ini," Lidya menyentuh dada Budiman.
Deg! Deg! Deg!
Sebuah sunggingan senyum paling manis yang pernah Budiman lihat, diberikan oleh gadis kecil bernama Lidya.
Sosok pria yang dilatih fisik dan mental menghadapi segala macam rintangan. Bahaya juga ancaman yang bisa menghilangkan nyawanya.
Sosok yang dibangun dan ditempa begitu dahsyat untuk melawan semua musuh terkuat. Sosok yang dibentengi oleh tembok beton yang tinggi juga kawat berduri.
Kini, sosok itu hancur sehancur-hancurnya. Karena perhatian sosok mungil nan cantik. Lidya mencium tangan Budiman.
Kemudian balita berusia tiga tahun itu berlari kembali bermain bersama kakaknya.
Budiman menatap tangan yang tadi baru saja dikecup oleh Lidya. Sebuah bekas luka besar terlihat di sana. Luka yang menyayat hatinya. Luka yang ditimbulkan oleh orang yang mestinya menyayangi dan melindungi dirinya.
Luka di mana satu pun orang yang tidak bisa menyentuhnya, bahkan kekasihnya sekali pun. Luka yang tadinya masih begitu perih ia rasakan.
Kini. Setelah kecupan Lidya. Rasa perih dan sakit itu hilang tanpa bekas. Badai es yang ia ciptakan di hati mendadak reda.
Tes!
Secara tak sengaja buliran bening menetes dari sudut matanya.
'Apa ini!' pekiknya dalam hati.
Sebuah tepukan menyadarkan dirinya.
"Itu belum seberapa. Jika kau lebih lama kenal. Maka bersiaplah menjadi manusia," bisik Haidar.
Deg!
Lagi-lagi Budiman terpana. Ia sangat mengenali siapa Haidar. Sosok pria paling dingin dan paling kaku juga paling ditakuti. Berubah total ketika bersama keluarga kliennya.
"What a suprising familly," gumam Budiman.
Pria itu tidak menyesal bekerja dengan sebuah keluarga yang begitu hangat. Ia percaya, jika ia akan mendapatkan pelajaran yang banyak dari kelurga ini.
"Aku akan melindungi kalian dengan taruhan nyawaku sendiri!" tekadnya.
bersambung.
ck ... emang beda didikan Terra mah!
Lidya i lope you ...
babang Budiman ... othor baper sama ente .. eh ðŸ¤