
Semenjak Rion sekolah. Anak-anak tidak mau diam. Mereka ribut juga ingin sekolah.
"Pik ... Nai mo pitut Ata' Ion petolah!" seru Nai ketika Romlah tengah membantu majikannya memandikan mereka.
"Emang Baby Nai, sudah bisa baca?" tanya Terra.
"Pudah Mama. Nai pisa paca!" akunya.
"Coba, Non Baby baca ini?" tunjuk Romlah pada tulisan sabun.
"Pandi!" jawab Nai yakin.
"Salah," ujar Terra menggeleng.
"Ih, peneul Mama. Imi pandi ... pusa-pusa!" seru Nai sangat yakin dengan jawabannya.
Sebenarnya jawaban Nai nyaris benar. Benda itu buat mandi, yang dia bilang pandi dan berbusa, dia bilang pusa-pusa.
"Sedikit lagi, sayang," ujar Terra harus membenarkan jawaban putrinya.
"Sean, benulut Sean imi pa'a?" tanya Nai.
"Pandi!" jawab Sean juga membenarkan jawaban saudaranya.
"Buh ... peneul Mama. Ini pandi!" seru Nai.
Terra menyudahi acara mandi anak-anaknya. Keempatnya digiring keluar kamar mandi dan dikeringkan tubuhnya. Sudah wangi dan memakai baju. Mereka terus meminta Terra mengantarkan ke sekolah kakaknya.
"Mama, ayo ... petesolah Ata' Ion!" ajak Sean dan Al.
"Iya, Mama. Nai judha mawu binten. Pisa paca, pisa pulis ... baya Ata' Ion!" ujar Nai.
"Kalian belum waktunya sekolah, sayang," ujar Terra memberi penjelasan.
"Mau Ata' Ion Mama!" rengek ketiga anaknya sedang Daud hanya diam.
"Panan bandu Ata' Ion ... Ata' tan pesolah ... euntan pita bilamahi Ata' woh!" ucap Daud mengingatkan.
Ketiga saudaranya sedih. Tidak ada lagi yang mengajak mereka bermain. Terra sangat tahu sekali. Ia pun akhirnya mengajak mereka untuk melihat kakaknya di sekolah.
"Ya sudah. Kita lihat Kakak belajar yuk."
"Beunel Ma?" tanya Daud kegirangan.
Ketiga saudaranya yang lain pun akhirnya melompat-lompat kegirangan.
"Pollee ... piyat Ata' Ion pesolah!" seru mereka.
Keempatnya langsung meminta Terra bergegas. Mereka tidak mau ketinggalan untuk melihat sang kakak idaman mereka.
Terra pun melaporkan diri akan datang telat ke kantor pada Rommy. Menyuruh pria itu dan Gabe menghandle semua pekerjaan yang ada.
Mereka pun berangkat bersama Budiman dan Gio. Di belakang mereka mengikuti satu mobil berisi empat pengawal. Dahlan, Reza, Rio dan Hilman mengawal Lidya ke sekolah. Hasan, Rinto, Bambang, Ferdi, Hendi dan Fendi mengawal Darren.
Hanya butuh lima belas menit mereka sampai sekolah taman kanak-kanak di mana Rion belajar. Semua turun dari mobil. Di sana ada Verro dan Juan yang mengawal Rion.
"Kita duduk di sini, sebentar lagi Kakak keluar untuk istirahat," ajak Terra menyuruh empat anaknya duduk.
Kedatangan Terra dan anak-anak menjadi sorotan semua wali yang menunggui anak-anak mereka.
"Bu Terra, mau jemput Rion ya?" tanya salah satu wali murid mengakrabkan diri.
"Iya, Bu," jawab Terra sopan.
"Duh, tuh anak-anaknya cakep-cakep yaa. Anak yang terawat. Maklum lah, kan Bapak Ibunya kaya, semua gizi dan vitamin terpenuhi. Jadi sehat-sehat deh."
Entah pujian atau sindiran. Terra hanya menghela napas panjang. Ia tak pernah membuat treatment khusus untuk semua anak-anak. Mereka makan makanan yang sama dengan semua anak-anak di Indonesia.
Bel berbunyi. Semua anak-anak yang ada di dalam kelas berhamburan. Mereka ribut..Sedang, Nai, Sean, Al dan Daud berdiri untuk melihat kakak mereka keluar.
"Ata' Ion!" panggil Daud kencang.
Rion menoleh lalu tersenyum lebar. Tidak bisa dihindari. Keempat bayi kembar itu berhamburan memeluk kakak mereka, sambil menangis.
"Ata' Ion ... Nai panen ... hiks ... hiks ...!"
"Al judha ... pesot benda pusah sepolah sih!" ujar Al tidak menginginkan Rion jauh darinya barang sekejap saja.
"Pulan yut," ajak Sean.
"Biya, pulan aja yut," ajak Daud juga.
Terra menggaruk kepalanya. Budiman dan lainnya hanya tersenyum lebar. Budiman mendekati mereka.
"Kalau Kakak nggak sekolah, nanti kakak nggak pinter," nasehat pria itu.
"Ata' pintel tot!" bela Nai tak terima.
"Nah, kalau pinter harus sekolah," ujar Budiman menimpali.
"Kan pulang sekolah Kakak main puas sama Babies," ujar Rion lagi.
"Baby," panggil Terra.
Rion dan lainnya pun mendatangi ibu mereka. Terra mencium semua anak-anaknya.
"Baby sudah makan. Mana bekalnya?" tanya Terra.
"Ah, hampir lupa. Gampang Mama," jawab Rion santai.
"Hai Della. Kamu bawa bekal apa nih?' tanya Rion menghampiri salah satu teman perempuannya.
Gadis kecil berkuncir dua itu kesenangan Rion memanggilnya. Bahkan menanyakan makanan yang dibawanya.
"Ini, Mamaku bikin lolade daging sama nasi kepal. Ada sosis dibentuk kaya cumi loh," jelas gadis kecil itu semringah.
"Wah, kayanya enak nih," sahut Rion.
"Ion mau?” tawar Della.
"Boleh?" tanya Rion.
Gadis kecil itu membuka kotak bekalnya. Lalu diberikan pada Rion. Satu rolade daging dan satu sosis sudah disantapnya.
"Wah, ini benar-benar enak. Sosisnya lucu kayak kamu," puji Rion sekaligus menggoda teman manisnya itu.
"Ion, aku bawa ini loh Onigiri, kamu mau?"
"Aku bawa Nasi goreng. Kamu boleh coba loh!''
"Mamaku bawain aku nasi bento loh. Ion mau coba nggak?"
Tawaran demi tawaran berdatangan dari para gadis. mereka menawarkan bekal untuk Rion cicipi. Dengan senang hati Rion memakan satu persatu makanan yang ditawarkan oleh temannya itu.
Tak lupa dia juga memberi pujian pada makanan dan gadis-gadis yang menawarinya makanan. Terra hanya ternganga begitu juga Budiman dan Gio. Sedang Verro dan Juan sudah terbiasa.
Rion kenyang. Ia pun menghampiri ibunya. Salah satu gadis kecil menawarinya air minumnya.
"Ion haus nggak. Nih, minum punyaku dulu. Aku belum minum, loh."
Dengan santai. Rion menyeruput sedotan yang disodorkan padanya. Hanya dua kali sedot. Ia pun menyudahinya.
"Makasih ya, kalena kamu haus aku hilang, kamu emang baik," pujinya sekaligus berterima kasih.
Dengan rona merah di pipi gadis itu pun mengangguk malu-malu. Ia pun berlari kedalam kelas. Terra melihat sekeliling, ia ingin tahu siapa wali dari gadis kecil itu.
Seorang pria berusia dua puluh limaan mengangguk padanya. Terra mengatupkan dua tangan di dada, sebagai permohonan maaf dan perkenalan. Pria itu pun melakukan hal sama sambil tersenyum lebar.
"Baby, besok nggak boleh gitu ya. Nanti, besok gantian kamu yang bawain makanan untuk mereka. Oke!" nasehat Terra.
"Oteh!" jawab Rion santai.
Terra mengelus kepala Rion. Bayi montok itu kini sudah besar. Pipinya yang kemerahan pun perlahan sudah hilang. Wanita itu memindai tubuh bayinya yang mulai menjulang tinggi.
"Cepat sekali kamu besar, Nak. Mama jadi nggak rela kehilangan momen-momen kecil ini terlalu cepat," keluh Terra dalam hati.
"Tapi, hidup terus berputar. Suatu saat kamu lah yang akan menjaga Mama dan Papa," ujarnya bermonolog lagi-lagi dalan hati.
Rion sudah masuk dari tadi keempat adiknya bersikeras untuk masuk kelas. Guru pun mengijinkan asal tidak membuat keributan.
"Bami peulbanji, pidat bibut palam pelas!' sumpah keempatnya.
Guru pun gemas dibuat keempat bayi kembar tersebut. Lalu mengajak mereka masuk dan mengikuti pelajaran hingga jam usai.
Pelajaran pun usai. Semua pulang dengan wajah ceria. Para gadis berpamitan dengan Rion.
"Ion, Della pulang dulu ya ... dah!"
"Santi pulang ya, dadah Ion!"
"Tina duluan ya. Sampai besok. Dah Ion!"
Dan banyak anak gadis yang berpamitan dengan pria kecil tampan itu. Rion hanya membalas mereka dengan lambaian tangan dan tersenyum manis.
Terra cemburu. Ia sangat tidak suka dengan semua anak gadis yang berebut perhatian putranya itu. Melihat ibunya cemberut, Rion menciumnya.
"Jangan kuatil Ma. Ion tetap sayang Mama. Mama adalah wanita nomol satu dalam hati Ion."
Pengakuan Rion membuat Terra senang bukan main. Walau ia yakin, suatu hari. Hati Rion akan terisi sosok spesial cantik lainnya.
"Ah, masih lama," ujar Terra santai.
bersambung.
ah ... suatu saat anak-anak akan mendapat pendampingnya.
next?