TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MAKAM



Terra memberhentikan mobilnya di salah satu tempat pemakaman umum. Gadis itu turun di salah satu kios yang menjual bunga tabur dan air untuk para peziarah kubur yang datang.


Sudah nyaris lima bulan, semenjak kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Terra tak menyambangi makam sang ibu.


Di blok H1, gadis itu berdiri pada satu makam yang nisannya bertuliskan nama sang ibu. Aura Sabriana Triatmodjo.


"Assalamualaikum, Bu. Apa kabarmu? Maaf jika Te, jarang menyambangi Ibu," ujar Terra dengan nada bergetar.


Gadis itu jongkok di sebelah kiri makam. Ditaburnya bunga yang baru dibelinya tadi di atas pusara sang ibu. Buliran bening menetes di pipinya yang mulus. Hatinya sesak menahan himpitan yang menekan sanubarinya.


Sesekali ia mengusap kasar air yang membasahi pipinya. Ia tergugu dengan pilu yang panjang. Sungguh ia ingin menyerah. Tapi, kelebatan tiga anak yang tak berdosa membuat ia beristighfar.


Terra membuka ponsel di mana ada applikasi al-qur'an di sana. Di carinya surah Yasin. Sejurus kemudian, terdengarlah lantunan ayat suci itu dengan suara merdu di selingi isak tangis.


Usai membaca Yasin. Gadis itu memanjatkan doa, untuk ibunya. Gadis itu berdoa agar sang ibu selalu dalam keadaan tenang dan bahagia, serta di tempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya.


Terra mengusap nisan. Membungkuk dan memberi kecupan pada nama yang tertera. Setitik air menetes membasahi nisan.


"Selamat tinggal, Bu. Inshaallah, Te nanti datang lagi bersama dengan anak-anak. assalamu'alaikum," ujarnya pamit lalu menghapus jejak air matanya.


Gadis itu berdiri dan mulai melangkah meninggalkan makam. Ia berencana juga mengunjungi makam sang ayah.


Dalam perjalanan menuju makam sang ayah. Gadis itu ingat. Ketika pada dokter menanyakan tentang pemulasaran Ben Hudoyo. Terra menyerahkannya pada pihak yang berwajib. Gadis itu minta tolong, karena tidak memiliki kerabat siapa pun.


Mendiang Ben Hudoyo di makamkan di tempat sedikit angker. Makam di mana korban kecelakaan yang tidak dikenali dan tidak diambil oleh pihak keluarga. Terra berpikiran untuk memindahkan makam ayahnya nanti.


Setelah memasuki halaman parkir. Gadis itu bertanya pada pihak penunggu makam di mana ayahnya di kubur. Petugas mengantarkannya. Gadis itu menatap gundukan tanah dengan nisan kayu bertuliskan nama Ben Hudoyo.


Terra menelan saliva kasar ketika melihat makam sebelahnya yang hanya bertuliskan "Korban kecelakaan tanggal 24 Januari 2020. no. 332. Hanya kepala dan tubuh hancur."


"Aku harus pindahin makam Ayah dari sini!' ungkap Terra pasti.


Gadis itu pergi ke kepolisian setempat di mana Terra meminta bantuan untuk memakamkan ayahnya.


"Mau dipindah di mana Dik?" tanya kepala polisi bernama AKP Agus. "Sudah di pesan makamnya?"


Terra menggeleng. Gadis itu menjawab jujur jika ia tak tahu menahu apa saja yang harus dipersiapkan untuk pemindahan jasad ayahnya.


"Begini saja. Bagaimana jika, saya membantu adik untuk mencari lokasi pemakaman yang layak atau adik punya saran lain?" tanya AKP Agus.


"Saya sih maunya Ayah di makamkan di tempat pemakaman daerah D, Pak," jawab Terra.


"Baik saya akan tanyakan di lokasi tersebut, apakah ada tanah kosong untuk jasad korban. Ada lagi?"


"Ehmm ... kalau jasad wanita yang bersama Ayah saya kemarin di mana ya?' tanya Terra.


"Ah ... saya lupa. Nanti akan saya tanyakan ke bagian forensik, ke mana jenazah Nyonya Firsha di makamkan. Karena kami juga luput akan laporan korban tersebut," jelas AKP Agus lagi.


"Baik, jika sudah ada kabar, saya atau anak buah saya menelepon adik untuk melakukan hal selanjutnya," ujar AKP Agus lagi setelah menyimpan nomor ponsel Terra, begitu juga sebaliknya.


"Baik Pak, saya tunggu. Jika bisa secepatnya ya, Pak. Saya agak ngeri kalau mesti ziarah ke tempat ini," ungkapan Terra membuat AKP Agus terkekeh.


"Baik. Jika besok, lusa pasti saya akan hubungi," jelasnya lagi.


"Terima kasih, Pak. Selamat siang!" ujar Terra memberi hormat.


"Selamat siang!" AKP Agus membalas hormat.


Terra berlalu dari tempat itu. Hatinya sedikit lega, akhirnya jasad ayahnya akan ia pindahkan sebentar lagi.


bersambung.


oh ... next?