
Budiman geram bukan main ia, marah. Sugeng melarikan diri. Tim dari Budiman mendapati rumah kontrakan pria itu telah kosong.
Budiman melihat pergerakan Sugeng. Sayang. Penindainya sudah tidak aktif atau kunciannya lepas. Ternyata Sugeng sudah beralih profesi. Pekerjaannya yang menjadi petugas kebersihan, sudah ia tinggalkan.
Budiman sedikit kesulitan. Karena ponsel ini, tidak begitu leluasa melihat pergerakan Sugeng yang melarikan diri. Kamera pengintai pun hanya masuk beberapa saja. BraveSmart ponsel masih dibatasi jarak dan penguncian massa-nya.
"Segera beri laporan pada pihak kepolisian, biar kami yang mengurus," ujar salah satu perwira polisi yang ikut bergabung dalam tim uji coba ponsel ciptaan Darren.
"Andai, karya ini diperluas dan dipermudah pengurusan ijin. Kita akan jauh meninggalkan negara-negara adikuasa," ujar Budiman sedikit mencibir.
Perwira polisi itu hanya menghela nafas panjang. Memang, ia sedikit kecewa dengan sistem birokrasi negaranya. Seperti kasus masa lalu. Ketika karya anak bangsa tak dilirik oleh pemuka negara.
Begitu karyanya diambil dan diakui oleh negara lain. Semuanya kebakaran jenggot. Kebanggan itu hilang. Mereka tak bisa jumawa, karena mengabaikan karya anak bangsa.
"Yang sabar, ya. Mudah-mudahan negara kita akan lebih baik ke depannya," ujarnya sambil menepuk bahu pria tampan itu.
Budiman kembali ke rumah sakit. Dia bergantian jaga dengan rekannya yang lain. Ketika sampai di ruang tunggu. Rekannya berdiri. Mereka bersalaman, dan pergi meninggalkan ruang tunggu.
Budiman merebahkan diri di sofa. Kepalanya sedikit pening. Ia belum tahu kabar dari keadaan nona kecil yang mulai menguasai hati dan pikirannya.
Ponselnya berdering. Sebuah nama terselip di sana. Pria itu hanya menghela nafas. Sepertinya ia harus mengakhiri hubungan dengan Leana, kekasihnya. Gadis itu selalu menuntut perhatian sedang pekerjaannya bukan pekerjaan yang bisa seenaknya ditinggal begitu saja.
"Halo," ia mengangkat telepon itu.
"........!"
"Sudah cukup Lea. Aku sudah lelah. Jika memang inginmu begitu. Baiklah kita putus!" tukas Budiman lalu menutup telepon.
Budiman langsung memblok nomor ponsel Leana. Ia tak mau lagi pusing memikirkan asmara. Ikatan dinas tak bisa ia abaikan, sebelum masa tugasnya habis. Ia tak bisa menikah.
Lagi-lagi pikirannya kembali pada kondisi nona kecilnya. Sejenak pria itu kembali duduk, memejamkan mata sambil memanjatkan doa kesembuhan bagi Lidya.
Sugeng tertawa-tawa sambil meraih pinggul salah satu pramuria. Ia benamkan wajahnya ke dada yang menyembul dari baju ketat berwarna biru langit itu. Memberi gigitan kecil, hingga menimbulkan ruam kemerahan di kulit dada sang wanita.
"Ih ... Akang nakal deh," ujar perempuan itu genit.
Sugeng terkekeh. Bibirnya monyong sambil tangannya menyelip uang lima puluh ribu di sela dada perempuan itu. Mendapat tips yang lumayan. Sebuah kecupan tentu tidak masalah bagi wanita penghibur. Sukur-sukur pria itu memboyongnya masuk kamar. Maka bayarannya jauh lebih mahal.
Perempuan itu membisikan sesuatu pada Sugeng. Pria itu jadi bernafsu mendengar bisikan itu. Sugeng pun berdiri dari area judi. Ia bosan karena selalu memperoleh kemenangan.
Dengan langkah pasti, Sugeng menggeret perempuan yang sudah menaikan libidonya. Memesan kamar dan beradu tubuh hingga kelelahan sampai pagi menjelang.
Sugeng keluar dari sebuah rumah penyedia segala kenikmatan dunia. Dari urusan lendir sampai yang gemar berjudi.
Pria itu pergi ke kontrakan barunya. Besok ia akan bekerja sebagai cleaning servis di sebuah kampus ternama di kota itu.
Pria itu sama sekali tidak tahu jika aksinya membuang ular di dekat rumah Terra, mampu membuat semuanya panik.
Pria itu telah memperhatikan Terra selama satu minggu penuh. Dendamnya pada gadis itu masih ia pendam. Selain itu pria itu masih ingin mencicipi tubuh Terra yang terbilang sangat seksi itu.
Dulu ketika ia melihatnya pertama kali. Pria itu sudah berfantasi mesum tentang gadis itu.
"Kita pasti bertemu Terra dan kita akan mengerang nikmat bersama," ujarnya dengan seringai menyeramkan.
Kemudian pria itu pun tertawa terbahak-bahak.
bersambung.
next?