
Virgou berencana membawa istrinya untuk berbulan madu di negara A. Ia juga sedang melakukan pekerjaan penting di sana. Ia sudah mengurus visa dan paspor istrinya.
"Sayang, tiga hari lagi, kita akan ke negara A, aku ada pekerjaan di sana," ujarnya memberi tahu.
"Aku harus ikut?' tanya Ita polos.
Virgou mengecup pipi istrinya. Mengusap bibir yang menjadi candunya. Sungguh ia beruntung mendapatkan istri seperti Puspita. wanita itu cepat sekali belajar dan beradaptasi.
"Iya, sayang. Sekalian bulan madu," jawab pria itu dengan suara serak.
Puspita langsung merajuk jika mendengar suara serak suaminya. Ia sangat hapal jika, Virgou bersuara seksi demikian. Wajah wanita itu langsung merona karena malu jika digoda sedemikian rupa oleh sang suami.
'Hei, kenapa kau merona seperti ini, sayang?" goda Virgou lagi.
"Sayang," rengek Puspita.
Mereka baru menikah dua bulan lalu. Aroma pasangan pengantin baru juga masih tercium. Virgou makin mesra dengan istrinya. Pria yang dulu tidak percaya akan pernikahan. Kini bertekuk lutut di dalam pernikahan untuk mendapatkan gadis pujaannya.
Sangat sepadan jika istrinya secantik dan lembut seperti Puspita. Virgou sangat mencintai istrinya itu.
"Tapi, jika hanya sebentar, lebih baik aku di sini saja," ucap Ita mengalihkan perhatian Virgou.
"Kita satu minggu, bisa saja lebih. Tapi tidak sampai dua minggu, sayang," jelas Virgou lagi.
"Oh, begitu. Oteh, aku siap kan baju-bajunya sekarang ya," ujar Puspita hendak kabur dari dekapan suaminya.
Sayang, yang ia hadapi adalah mantan mafia. Seorang yang memiliki seribu satu siasat dalam menghadapi musuh. Tentu hal-hal yang dilakukan Puspita langsung diketahui Virgou.
Sebelum berhasil melarikan diri dari dekapan pria itu. Virgou sudah menangkapnya. Lalu menggendongnya. Puspita terpekik.
"Jangan coba lari sayang," sahut Virgou enteng.
"Sayang, aku ingin menyusun baju-baju kita!" pekik Puspita mencoba meronta.
"Sstt, diam! Ini keinginan suami. Jangan menolak!'
Puspita langsung diam jika Virgou sudah mengatakan seperti itu. Mereka pun berjalan menuju kamar mereka, untuk memadu kasih.
Sedangkan di negara lain. Di sebuah bangunan tinggi, di mana para dokter ahli dan para medis dengan sertifikasi terbaik, mengangkat tangan. Mereka menyerah dengan kondisi pasiennya yang makin lama makin memburuk. Uang ternyata tidak bisa menambah usia wanita yang kini sudah seperti tengkorak hidup. Napasnya satu-satu. Detak jantung di monitor kian lemah, juga tekanan darahnya makin lama makin turun.
Gelengan kepala dokter membuat lemas sepasang suami istri. Mereka berdua menangis sambil berpelukan. Dokter hanya menepuk bahu keduanya.
"Maaf, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Virusnya sudah menyebar hingga ke jaringan seluruh otaknya," jelas dokter dengan raut penyesalan.
"Kemoterapi-nya gagal," lanjutnya.
Tuan Wijaya hanya bisa pasrah. Putri semata wayangnya tak bisa diselamatkan. Sedangkan sang istri hanya bisa menatap nanar sosok yang berbaring lemah menunggu ajal tiba.
Keduanya mendatangi putri mereka. Menatap sosok kuyu yang dulu begitu molek dan cantik. Rambut yang indah tergerai, kini hilang, hanya tersisa beberapa helai saja. Wajah yang dulu rupawan pun lenyap, terlebih luka bakar yang tidak bisa dihilangkan. Operasi plastiknya hanya mengembalikan 80% kecantikannya. Matanya yang cemerlang kini redup tak ada gairah. Kata dokter tubuh Selena menolak semua pengobatannya.
Air mata pria itu tak berhenti mengalir. Sedang wanita di sebelahnya pun tak berhenti menangis. Mata keduanya sudah sembab dan memerah, napas mereka juga mulai sesak.
"Mommy ... Daddy," panggil Selena lemah.
"Iya, sayang," sahut Brigitta ibu Selena.
"Aku ingin melakukan sesuatu sebelum kematianku. Aku mohon," pintanya dengan suara memelas.
Brigitta menangis begitu juga Wijaya. Ia tak dapat menahan laju tangisnya. Namun, akhirnya mereka menyanggupi keinginan terakhir putri mereka.
Selena ingin makan malam romantis bersama ayahnya, di sebuah rooftop dengan hiasan lilin dan bunga. Sebuah keinginan sederhananya dari kecil.
Wijaya menangis. Ia sadar jika banyak melewatkan waktu untuk sang putri. Ia menyangka dengan bekerja dan mengumpulkan banyak uang, akan membuat putrinya bahagia.
Wijaya memenuhi keinginan sang putri. Walau itu sangat berbahaya bagi kehidupan Selena. Tetapi perempuan itu bersikeras untuk melepas semua penunjang alat kehidupannya.
Di rooftop rumah sakit. Wijaya membayar mahal untuk mewujudkan keinginan sang putri. Sebuah makan malam romantis. Dihiasi banyak lilin dan bunga mawar.
Selena menggunakan gaun terbaik yang dari dulu ia idamkan. Gaun pengantin. Gaun sederhana warna putih dan gold rancangannya. Gaun itu sengaja ia simpan untuk hari pernikahannya kelak dengan pria pujaannya.
Siapa sangka. Pernikahan itu tak akan pernah terwujud. Perempuan itu melangkah perlahan dengan sepatu kaca berhias mutiara dan berlian di ujung sepatu dan heelsnya. Sepatutnya pun rancangannya sendiri. Memakai mahkota mutiara berbentuk kepang melingkar di kepalanya yang botak. Brigitta mendandani putrinya. Di sana ayahnya berdiri dengan senyum lebar. Wijaya mengenakan taxedo rancangan putrinya berwarna hitam dan gold. Sangat berkelas dan mewah.
Wijaya menyusul putrinya, lalu berjalan mengiringi ke tempat duduknya. Menarik kursi dan membantu sang putri untuk duduk di sana.
"Thank you, Daddy."
"You're welcome dear."
Wijaya menyuapi putrinya. Selena baru kali ini makan dengan lahap. Ia begitu bahagia. Musik waltz mengalun, makan sudah usai. Wijaya mengajak sang putri untuk berdansa.
Selena mengangguk kegirangan. Ini lah yang ia inginkan. Bermesraan dengan ayahnya. Ayah yang dulu selalu ia banggakan.
Selena memeluk Wijaya erat. Tubuh mereka bergoyang mengikuti alunan musik. Air mata Wijaya menetes seiring helaan napas Selena. Tubuh kurus itu terkulai di dalam dekapan sang ayah. Wijaya terus mengayunkan tubuh kaku putrinya yang telah tiada. Menangis tersedu-sedu.
Putrinya telah pergi selamanya. Dengan senyum bahagia dan dalam dekapan pria yang tepat, yaitu ayahnya. Cinta pertamanya.
Brigitta menangis sambil membekap mulutnya. Para dokter langsung ingin menghentikan aksi Wijaya, tapi langsung ditolak.
"Tolong, biarkan sebentar lagi. Putriku sudah pergi selamanya. Aku hanya sebentar, lima menit lagi," pintanya sambil menangis.
Dokter pun mundur. Membiarkan ayah dan putrinya melakukan dansa terakhir mereka.
bersambung
hmmm ... jujur othor nangis buat ini. Selamat jalan Selena. Semoga semua dosa mu diampuni.
next?