TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CINTA DI ULANG' TAHUN KAILA



Hari berlalu Aini sudah mendapat persetujuan KPR rumah yang akan ia cicil selama lima tahun ke depan. Saf jadi tercerahkan. Ia juga mengambil hunian itu.


"Dari pada ngontrak, jatuhnya sepuluh tahun bayar kontrakan, itu masih punya orang. Ini, kita nyicil sama aja nyicil sepuluh tahun rumah udah punya kita," ujarnya.


Ia mengambil hunian paling pojok. Sedikit di depan dua blok berbeda dengan Aini. Ia juga memilih cicilan selama lima tahun. Dua minggu lagi, rumah itu sudah bisa ditempati.


Saf lagi-lagi membantu Aini pindahan rumah. Memang tak banyak benda yang dibawa. Aini pun sudah menyewa mobil bak terbuka untuk mengangkut kasur dan lemari yang ia beli juga perabotan memasaknya. Lemari pendingin milik yang punya rumah sewa. Setelah membantu Aini. Saf dan Aini beserta dua adiknya diundang ke acara ulang tahun Kaila, putri dari Virgou. Pria itu mengundang keduanya. Usai ashar mereka pun mendatangi hunian mewah itu melalui map digital. Honda Civic milik Safitri menjadi mobil paling sederhana di antara mobil lainnya di halaman parkir hunian mewah itu.


"Wah, rumahnya besar sekali," puji Saf.


Lidya yang melihat teman sekerjanya datang langsung menyambanginya. Putri tak bisa datang karena Jac tengah berkunjung ke rumahnya. Gadis itu bahagia jika sahabatnya itu telah mendapatkan pujaan hatinya.


"Aku ingin undang Mas Demian ke ultah Baby Kaila untuk apa ya?" gumamnya tiba-tiba.


"Assalamualaikum, Dek Dokter," sapa Safitri lalu terkekeh.


"Wa'alaikumussalam, Bu bidan," sahut Lidya lalu tersenyum.


Lalu ia membawa semuanya ke dalam mansion. Anak-anak langsung bermain bersama yang lainnya. Terra memeluk Ditya dan Radit.


"Kalian tidak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.


"Alhamdulillah, Mama," sahut Ditya dengan senyum lebar.


Terra lega. Kemarin Virgou menceritakan kejadiannya pada adik sepupunya itu. Puspita sampai masuk kamar karena tak mau mendengarkan cerita menyeramkan itu. Khasya juga mengecup dua bocah itu.


"Aini," panggil Terra.


"Mama," sahut Aini.


Terra memeluk Aini. Ia bersyukur gadis yang nyaris saja menjadi menantunya itu baik-baik saja. Lalu tatapannya tertuju pada sosok bongsor yang kini tengah bercengkrama dengan Kakek dan kakak sepupunya.


Seruni datang bersama suami dan putranya. Anak kembar Terra Arion dan Arraya ada di kamar mereka bersama Harun.


"Bawa masuk bayimu," ujar Terra pada Seruni lalu mencium bayi yang mulai gembul itu.


"Kak, apa iya bayi laki-laki akan mengigit ****** ibunya setiap menyusu?" tanya Seruni sedikit mengeluh.


"Iya sayang. Yang sabar ya," jawab Terra dengan pandangan pasrah.


"Apa dia sudah menarik-narik pentilmu dan memainkan gusinya di sana?" Seruni mengangguk.


Terra terkekeh, dua bayi kembarnya pun sudah melakukan itu. Bahkan terkadang mereka berdua minta disusui bersamaan.


"Aku masuk dulu ya, Kak," Terra mengangguk.


David sudah bergabung dengan Bart dan Virgou. Haidar juga ada di sana. Terra menyambanginya.


"Sayang, kau pasti mengenal Safitri, dialah yang menolong Aini kemarin," ujar Haidar.


"Tante," sapa gadis itu lalu mencium punggung tangan Terra.


"Terima kasih, Nak. Kau menyelamatkan dua anak yang tak berdosa," ujarnya.


"Sama-sama Tante," sahut Saf.


"Jadi Terra, Safitri ini nama sebenarnya Serinity Aurelie Velareal," ujar Virgou memberitahu.


"Ah ... jangan bilang kau adalah putri dari Tuan Jonnas Albert Velarial dan Alina Ferdiansyah!" seru Bart


"Grandpa tau mendiang kedua orang tua saya?" tanya Saf heran.


"Saya adalah Ketua Klan DYoung," cicit pria tua itu.


"Astaga, saya bersama master mafia!" seru Saf terperangah.


"Ck ... semua hancur ketika sektor D terbongkar. Aku masih penasaran siapa yang membongkar sektor yang selama ratusan tahun baik-baik saja itu," ujar Bart penasaran.


Terra diam dan sedikit kikuk. Walau hanya sepersekian detik kekikukannya hilang dan kembali normal.


"Ayah membuka gerbang juga waktu itu," ujar Saf menimpali.


Bart menghela napas panjang. Ternyata selain hacker yang menghancurkan bisnis semua mafia. Ternyata ada orang dalam yang membuka gerbang.


"Ah ... seperti itu rupanya," ujar Bart.


"Ayah meninggal dunia empat tahun setelah ibu berpulang. Saya baru lulus kebidanan," jelas Safitri.


Darren juga ikut dengar di sana. Hanya Rion dan Lidya juga Aini bermain bersama anak-anak.


"Selamat ulang tahun Kaila Afsyun Putri Black Dougher Young!"


Anak-anak mulai ramai. Ditya dan Radit terperangah melihat kue besar bertingkat warna pink itu. Kaila, gadis kecil cantik beriris biru, mirip sekali ayahnya. Usianya sudah delapan tahun, sama dengan Rasya dan Rasyid.


"Barakallah fii umrik Kaila," ujar Khasya.


Puspita mencium putrinya. Seruni juga sudah keluar dari kamar, ia hanya menaruh bayinya saja di sana.


"Makasih Mommy, Mami, Bunda, Mama, Bommy," ujar gadis kecil cantik itu.


Kue dipotong. Ditya dan Radit sangat bahagia, mereka baru pertama kali memakan kue ulang tahun.


"Emang waktu ulang tahun Kak Rion, Adit sama Ditya nggak dapat ya?" tanya Rion.


"Nggak Baby, kan kuenya pagi-pagi sudah habis sama pasukanmu," jawab Lidya.


Rion terkekeh.Aini pun berjanji ulang tahun Radit yang sebentar lagi akan dirayakan sekaligus selamatan rumah barunya.


"Ata' Babitli!" panggil Bomesh.


Safitri tersenyum lebar. Batita tampan itu membawa satu potong kue untuk gadis cantik itu.


"Imi tue puat Ata' Babitli teulsayan," ujarnya lalu menyerahkan piring kertas berisi kue..


"Terima kasih baby ganteng," ujar gadis itu lalu memberi kecupan pada pipi bulat Bomesh.


"Imi binuman panis seupeulti Ata' Babitli dali atuh," ujar Benua membawa minuman sirup di gelas plastik.


"Ah, makasih baby tampan," sahut Saf menerima minuman itu.


"Atuh eundat bi syium?" tanyanya meminta.


Safitri terkekeh geli. Ia pun mencium gemas pipi merah Benua.


Samudera menyuapi gadis itu walau sesekali suapannya masuk ke mulutnya sendiri.


"Ata' Babitli ... Spy atan bepanyitan belbuah ladhu puntutmu!" ujar Sky di depan mik.


Rion memasang lagu anak-anak dengan judul "Ambilkan bulan,"


"Pambiltan Pulan Bu ... pambiltan pulan pu ... yan palu belinal bi lamit ... bi lamit pulan benelan ... pahana pampai peulpintan ... pambil tan pulan pu ... puntut peunelani pidultu yan pelap bi palam belap ...."


Semua bertepuk tangan Safitri harus mengurut pipinya yang kram karena kebanyakan menahan tawanya.


"Bomesh pawu panyi!" pinta bayi itu.


Sky memberikan miknya. Sebuah lagu "lihat kebunku," berputar. Bomesh sudah bergoyang pinggul.


Seruni sampai merebahkan dirinya bersandar pada sang suami yang sudah tak bisa menahan tawanya. Robert melarikan diri. Ia juga sudah tak tahan untuk tertawa sekuat-kuatnya.


Safitri sudah duduk di bawah bersama Lidya dan Aini diikuti Darren. Safitri juga tak bisa menahan tawanya. Samudera sudah menghukum gadis itu dengan ciuman bertubi-tubi.


"Pihat bebuntu ... benuh penan puna ... bada yan butih pan lada yan pelah ... beuliap pali ... bulilam pemua ... pawal belati ... pemuana pindah ....!"


Safitri tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak. Samudera langsung menerjangnya. Gadis itu nyaris jatuh jika tak ada Darren dibelakangnya.


"Eh, maaf," ujar Saf yang sudah kram perut dan pipinya.


Samudera di atas tubuhnya lalu disusul Domesh dan Sky.


"Janan petawa Ata' Babitli!" seru mereka.


Tubuh dua insan saling berhimpitan. Detak jantung keduanya berpacu seirama. Saf memandang netra coklat terang yang menahan tubuhnya. Jantungnya pun ikut berdetak sama kencang dengan Darren.


bersambung.


ah ... jatuh cinta lagi ...


next?