TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PESTA OTAK LAGI



Di ruangannya. Tampak banyak sekali berkas yang harus diselesaikan. Hari ini Terra memeriksa semua neraca divisi yang bernaung di perusahaannya.


Terra sangat puas perusahaan milik mendiang ayahnya ini mulai merangkak naik. Terlebih perusahaan cyber miliknya.


Setelah Puspita keluar karena menikah. Kini, bagian marketing ditangani oleh Margareta. Gadis cantik asli Tapanuli. Begitu viralnya gadis itu, hingga Terra penasaran. Margareta atau biasa dipanggil Reta ternyata fresh graduate sebuah sekolah menengah ekonomi atas. Mengalahkan kandidat sarjana.


Gadis cantik yang wajahnya mirip dengan artis Korea pemeran My Love from Another Star dan Legend of The Blue Sea  yakni Jun Ji Hyun. Bukan hanya wajahnya yang cantik tapi gaya bahasa daerahnya yang kental. Gadis berusia delapan belas tahun ini. Mengalahkan ratusan kandidat karena menguasai empat bahasa asing.


Terra langsung jatuh hati ketika melihat performa gadis itu ketika menjelaskan fungsi dan kehebatan data chip dalam empat bahasa asing. Herannya, logatnya hilang ketika berbahasa asing tersebut.


"Te, ada serangan data dari sektor A!" sahut Rommy tegang membuyarkan lamunan Terra.


"Oh ya?" Terra langsung berdiri dan melangkah ke divisi IT.


Di ruangan nampak sibuk orang-orang memblok serangan. Terra menatap layar melihat pergerakan serangan. Kepalanya miring ketika melihat begitu banyak akun kloning yang mati sebelum menembus data.


"Panggil, Tuan Gabriell kemari!" titah Terra.


Lima belas menit kemudian pria yang diminta pun datang. Terra berdiri dari kursinya.


"Tuan, bisa kau lihat serangan di blok A ini?"


Gabe duduk di kursi yang tadi Terra duduki. Pria itu menatap layar. Lalu dengan gerakan cepat, tangannya mengetik sesuatu.


Gunawan tak dapat melihat gerakan itu. Pria yang sudah bekerja selama tujuh tahun di perusahaan Hudoyo ini menelan saliva kasar.


'Gila. Nggak Bapak, nggak anak. Sekarang ponakannya juga punya kemampuan sama!' takjubnya dalam hati dengan mulut ternganga.


"Bagaimana, apa kamu bisa menanganinya?" tanya Terra.


"Ini hanya umpan yang mereka kirim, Nona Dougher Young," jawab Gabe tenang.


"Benar, mereka hanya memancing reaksi kita," sahut Terra.


Ia pun duduk di sebelah Gabe. Mengambil keyboard bluetooth. Ia menatap layar menuju pesta sebenarnya. Hanya dalam hitungan jari. Serangan yang ditunggu pun datang.


"Semua. Jauhkan jari kalian dari keyboard!" titah Terra dengan suara tinggi.


Semua menjauhkan diri.


"Apa kau siap, Gabe?" ujar Terra dengan seringai menyeramkan.


"Tentu," sahut Gabe juga tak kalah menyeramkan.


Mereka pun mulai membunuh serangan. Tak kenal ampun. Ternyata sektor A hendak disusupi akun mafia yang ingin mencuri data.


Sedang di seberang sana. Seorang pria bermata abu-abu sangat stress ketika mencoba memasuki sebuah jaringan data perusahaan yang menurutnya sangat bagus untuk dicuri data dan dijual di pasar gelap. Sayang. Serangan kloningnya mati hanya dalam hitungan menit. Karena penasaran. Ia kembali menyerang dengan akun DoubleKing miliknya. Lagi-lagi, akun yang sudah malang melintang di dunia pencurian data itu hangus dalam hitungan menit juga.


"Aarrgh!" teriaknya frustrasi.


Pria itu membanting laptop yang sudah menemaninya hampir lima tahun. Baru kali ini, ia tak bisa menembus kulit ari perusahaan yang hendak dicurinya.


"Chi è lui? Perché anche il mio account è morto!" (Siapa dia? kenapa akunku malah yang mati!). Pekiknya frustrasi. "È tutto finito!" (habis semuanya!)


Tubuh pria itu merosot ke lantai. Menekuk kaki sebagai tumpuan kepalanya. Tangannya menjambak rambut. Habis sudah data yang ia curi tanpa sisa. Menatap laptop yang hancur. Pria tampan itu mendengkus pasrah.


Pria tampan itu berdiri. Kembali menatap laptop yang hancur. Ia pun mengambilnya. Kemudian membawa benda persegi empat itu keluar dari sebuah ruangan bawah tanah.


"Buon pomeriggio prete!" (Selamat siang pastur!) sapa salah seorang biarawati.


Pria tampan itu hanya mengangguk. Lalu ke tempat sampah. membakar laptopnya hingga hangus, lalu menguburnya dalam-dalam. Kemudian melangkah kembali ke dalam gereja. Hari ini ia sedang mempersiapkan kutbah jumat tentang bahaya nya dosa.


Sedang di tempat di mana Terra dan Gabe duduk, bernapas lega. Semuanya mengusap keringat di dahi. Lalu bertepuk tangan.


"Salut untuk kalian semua!" puji Terra pada semua karyawan divisi IT.


"Semangat. Akhir bulan ini bonus menanti!" sahut Terra lagi dengan senyum lebar.


Semua pun bersorak. Mereka tentu senang bekerja di sebuah perusahaan yang mengerti kinerja mereka. Bahkan tak sayang menambahkan reward bagi mereka yang berdedikasi tinggi.


Terra menatap Gabe. Ia pun mulai berpikir sesuatu. Kemudian ia pun mengangguk. Mengingat kejadian ketika di reuni tadi malam. Terra hanya memiliki tiga teman saja ketika sekolah. Haidar sampai heran.


"Kamu nggak punya sahabat?" Terra menggeleng.


"Te, toko online kita udah berkembang besar dan sekarang malah punya kantor dan karyawan sendiri. Kita lihat, kamu nggak pernah lagi ambil bagianmu setelah tiga tahun lalu?" tanya salah satu teman Terra yang bekerjasama mendirikan toko online.


"Iya ya?" Terra hanya menanggapi dengan senyum.


"Iya, sampai Wulan ngiler lihat penghasilan kamu sudah menyentuh angka dua ratus juta. Tanpa kamu bersusah payah bekerja."


Entah itu sindiran atau pujian. Terra meyakini, jika ketiga temannya itu mulai berpikiran tak sehat.


"Jadi mau kalian apa?" tanya Terra dingin. "Bukankah modalnya itu dari saya semua?"


Ketiga teman Terra itu hanya mematung. Mereka salah bicara. Terra akhirnya memandang malas acara. Memang tadinya ia tidak mau menghadiri acara ini. Selain ia tak punya teman karib. Banyak guru yang tidak begitu suka dengan kepintarannya. Bahkan tak sedikit bertanya perihal masalah pribadinya. Terra tak menyukai itu.


Wanita itu datang karena mendapat penghargaan sebagai siswi berprestasi. Terra langsung mengajak pulang suaminya setelah mendapat penghargaan itu.


"Apa sebaiknya aku berhenti kerja ya?" tanyanya dalam hati.


"Anak-anak sudah mulai besar. Aku tak mau melewatkan tumbuh kembang mereka," lanjutnya lagi bermonolog.


Menatap Gabe yang tengah memandang layar dan sesekali mengetik sesuatu. Ada wajah usil di sana lalu kemudian ia tertawa tertahan. Padangan mereka bertemu. Gabe hanya tersenyum kikuk ketika kedapatan oleh Terra dia mengusili salah satu akun penyerang.


"Te, ke ruangan lagi ya," sahut Terra pamit.


Gabe juga berdiri. Ia sekarang menjabat CEO di perusahaan cyber milik Terra. Perusahaan itu pun sudah berkembang pesat di bawah kepemimpinan Gabe.


Terra sudah memilih. Ia akan kembali di balik layar. Anak-anak butuh dirinya di rumah. Ia akan meminta Rommy mengumpulkan semua berkas dan akan memulai memindahkan tampuk pimpinan pada Gabriel. Sedang untuk perusahaan cyber ia sudah memiliki kandidat yang sama hebatnya dengan Gabe. Yakni Gisella Elizabeth Dougher Young.


"Nggak salah kan aku menempatkan semua saudaraku di pucuk pimpinan perusahaan milikku sendiri?"


bersambung.


menurut readers gimana?


hahaha ... sorry ya mestinya ini update semalam. Weh malah othor ketiduran 🤭 maklum lah belum nganu 😆.


next?