
Mendengar ajakannya diterima oleh sang gadis. Membuat Haidar senang bukan main. Ia mengangkat tinggi-tinggi tubuh Terra hingga nyaris terpekik.
Haidar memutar tubuh gadis itu dan menirukannya lagi. Secara tak sadar. Pria itu ******* bibir Terra.
Terra terkejut. Ia terdiam sesaat. Haidar yang tersadar melepas tautannya. Meredakan nafasnya yang menderu.
"Maaf ... maaf, aku terlalu bahagia," ujar Haidar.
Kembali ketukan terdengar. Terra melepaskan pelukan Haidar. Pria itu nampak gugup karena kesalahannya. Sedang Terra mukanya sedikit ditekuk.
Terra membuka pintu. Ia meminta bik Ani dan Romlah menunggui anak-anaknya.
Haidar menjajarkan langkahnya dengan Terra. Berusaha meminta maaf. Sedang, baik Rommy, Aden dan Budiman hanya memandang kedua insan itu dengan pandangan bingung.
Empat pria tampan mengikuti Terra. Semua wanita memandang Bossnya dengan pandangan iri.
"Kak, apa sudah kau bereskan resepsionis tadi?' tanya Terra dingin tanpa melihat Rommy.
Rommy menelan saliva. Pria itu menatap Haidar penuh tanda tanya. Sedang Haidar hanya tersenyum kecut.
"Kak Rom!" panggil Terra sedikit keras.
"Ah, iya. Sudah aku bereskan. Ia beralasan sakit perut tadi. Tapi, ketika di cek kamera pengintai, dia ternyata sedang berada di kantin bergosip entah dengan siapa," jelas Rommy.
Terra mengangguk.
"Sayang," panggil Haidar setengah merengek.
Terra risih dengan kelakuan kekasihnya itu. Gadis itu masih ngambek dengan ciuman mendadak dari pria itu. Bukan apa-apa, tapi ....
"Nanti kita bicarakan lagi, ya," ujar Terra memandang Haidar.
Pria itu hanya menghela napas panjang. Bayangan menikah yang tadi sudah digadang-gadang oleh gadis itu perlahan sirna gara-gara kecerobohannya.
"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi," saut Haidar dengan nada datar.
Hati Terra sedikit sakit mendengar suara datar dari pria yang sudah mengisi hatinya itu. Gadis itu sedikit mendekatkan tubuhnya pada Haidar, kemudian menggenggam tangan pria itu.
Haidar melirik tangannya yang digenggam sang kekasih. Pria itu tersenyum sangat tipis. Membalas genggaman tangan sang gadis.
Sebuah bayangan indah yang tadi sempat hilang, kembali muncul. Ia pun pergi dari perusahaan Terra dengan hati berbunga-bunga.
*********
Waktu berlalu, mereka sudah ada di rumah. Anak-anak pun sudah tidur. Terra masih berkutat dengan pekerjaannya.
Brak!
Sebuah batu terlempar. Kemudian diiringi laju motor yang sangat kencang. Pelaku pelemparan melarikan diri, tanpa bisa dikejar.
Para tim langsung beraksi. Mengunci target dan langsung mengejar pelaku yang tidak jauh jangkaunnya.
Budiman langsung mengecek batu yang dilempar. Beruntung, Deno sedang bersamanya di teras.
Terra keluar dari dalam rumah. Gadis itu mendengar suara lemparan cukup keras.
"You next!"
Budiman menggeleng. Tulisan berbeda dari sebelumnya. Pria itu yakin jika pengirim teror bukan dari orang yang sama.
"Sugeng tak mungkin bebas dari hukum secepat ini. Bajingan itu juga didakwa dengan pasal berlapis," ujar Budiman.
Terra hanya memandang malas teror itu. Gadis itu sudah biasa semenjak ayahnya masih hidup mengahadapi teror seperti ini.
"Menurut Kakak. Siapa lagi kini yang ingin mengganggu Te?"
"Sepertinya, ia yang sangat iseng memang ingin mengganggu ketenangan Nona," jawab Budiman.
"Jika Te, hidup sendiri, mungkin Te tidak akan menggubris teror ini. Tapi, sekarang ada anak-anak. Te takut, mereka nanti yang kena teror," jelas Terra dengan nada sedikit takut.
Budiman juga mengangguk. Tiba-tiba tim mengatakan jika pelaku tidak bisa ditangkap karena telah meninggalkan motornya begitu saja di gang yang sempit.
"Sepertinya yang kita hadapi bukan orang sembarangan, Nona. Dia tahu wilayah sini, pria itu berhasil kabur dan menyamar sebagai orang biasa," jelas Budiman lagi.
"Sepertinya, BraveSmart ponsel harus banyak perbaikan. Kita harus secara detail mengunci sosok yang berbahaya seperti tadi," ujar Terra.
Budiman hanya mengangguk. Terra bangkit, ia pun kembali ke dalam rumah.
Ketika sampai di dalam. Terra menggeliat. Ia berkacak pinggang. Masalah makin rumit.
"Kalau gini, gimana mau nikah?' runtuknya kesal.
bersambung.
iya juga ya ...
next?