
Sosok pria tampan duduk termenung. Wajah gadis cantik berhijab melintas diingatannya. Ia tersenyum sendiri.
"Lidya ... kau seperti bisa kulihat tapi kau tak bisa kusentuh, sama seperti bintang," ujarnya.
"Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan mu?" tanyanya.
Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk. Demian melihat nama Jacob tertera.
"Tuan, agama anda berbeda dengan Nona Lidya, itu lah yang membedakan dan menjauhkan diri Tuan," tulis pria itu.
Demian termenung. Ia baru menyadari, jika itulah perbedaan besar yang harus ia lewati untuk mendapatkan gadis idamannya.
"Agamaku apa?" tanyanya pada diri sendiri.
Tak lama, ia terkekeh pelan. Pria itu menyadari dirinya tak meyakini apa pun . Ia menghela napas panjang. Jacob memberinya satu artikel tentang ke islaman. Demian membacanya.
"Menarik," ujarnya.
"Cari guru yang berkompeten, yang tahu ilmunya," tulis Jacob lagi.
Demian mengetik.
(Mau belajar bersama?)
(Mau, Tuan!) tulis bawahanya.
(Saya juga tertarik dengan Islam!).
Demian menelepon pria bawahannya itu. Mereka saling ngobrol, untuk membicarakan di mana mereka akan mencari ilmu tentang keislaman.
Dua hari kemudian. Jacob datang ke ruang kerja atasannya. Ia memberi sebuah artikel kajian Islam yang diselenggarakan di sebuah bangunan.
"Kita ke sana," ujar Demian.
Hari minggu, ia mendatangi tempat itu. Siapa sangka ia malah bertemu dengan gadis pujaannya.
"Lidya," panggilnya.
Gadis itu menoleh. Ia bersama, Gio, Juan dan Hendra juga Leon. Mereka juga ikut menoleh padanya. Ia bersalaman dengan Leon. Bagian laki-laki dan perempuan di pisah. Kini, Demian tahu batasannya antara laki-laki dan perempuan. Ia semakin berminat dengan Islam. Bagaimana tata cara pendekatan seorang pria dengan wanita sesungguhnya yang diatur dalam Islam.
Kajian selesai. Ia pun mendatangai pemberi kajian, pria itu bertanya syarat-syarat masuk Islam.
"Pertama adalah jika laki-laki, dia harus dikhitan dulu. Lalu membaca kalimat syahadat," jawab pemberi kajian itu.
"Ah, saya sudah dikhitan ketika lahir. Kau bagaimana Jacob?" tanyanya pada pria bawahannya.
"Aku juga sudah," jawab Jacob.
"Berarti tinggal syahadat," ujar pria itu.
Keduanya terdiam. Mereka masih ragu.
"Jangan memaksa jika belum yakin," ucap pria itu lagi.
Waktu berlalu, kini baik
Demian dan Jacob sudah berada di mobilnya. Dua pria itu baru saja melalui proses yang menurut mereka sangat sakral. Hati keduanya berdegup dengan kencang. Demian ingat, ketika tangannya berjabatan dengan pria yang menuntunnya mengucap kalimat syahadat.
"Jacob!" panggilnya.
"Ya Tuan!" sahut pria itu.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Demian.
"Saya seperti jatuh cinta, Tuan," jawab Jacob dengan pandangan menerawang.
"Katanya, hidayah itu datang ketika kita mulai tertarik," jelasnya.
"Sehabis kita syahadat, kita sholat ya?" tanya Demian.
"Benar Tuan," jawab Jacob.
"Tuan Ahmad Subrata tadi memberi kita tuntunan shalat," lanjutnya.
"Oh ya, Tuan, lusa adalah jadwal Nona Lidya memberikan healing. Apa anda ingin melihatnya?' tanya Jacob.
"Aku ingin sekali, Jacob. Aku seperti setengah hidup jika tanpa dirinya," jelas pria itu.
Jacob menghela napas berat.
"Tuan lihat betapa sulitnya mendekati Nona Lidya. Kemarin para pengawalnya juga kuat-kuat dan posesif," sahut Jacob mengingatkan.
Demian mengangguk setuju. Bahkan kekuatannya, tak mampu ia tembus.
"Itu baru pengawalnya. Belum lagi ayahnya, kakaknya."
"Perjuangan cintaku masih panjang dan berat, Jac!' keluh Demian.
Sementara di benua lain. Darren kini berada di rumah sakit mengantarkan karyawannya yang kemarin mengalami kecelakaan.
"Pakai kacamata biar nggak kena angin dan debu ya," jelasnya.
"Baik, Dok. Terima kasih," sahut dua karyawan itu.
Kini tinggal Darren yang memandangi wajah Aini. Sedang gadis itu hanya menunduk dengan rona di pipi.
"Tuan!" panggil Budiman yang tak melihat tuan mudanya belum keluar dari ruang praktek dokter.
"Ah, ya," sahutnya lalu ia pun berdiri.
"Ini kartu nama saya. Jika diizinkan, saya ingin anda menjadi dokter perusahaan, yang menangani kesehatan seluruh karyawan saya. Bagaimana?" tawar Darren.
"Eeumm ... bisa jika hanya hari Rabu dan Sabtu. Saya bisa membuka praktek di kantor, Bapak," jawab Aini menerima tawaran.
"Wah, terima kasih jika begitu. Saya akan mempersiapkan semuanya," ujar Darren lalu tersenyum.
"Tuan," panggil Budiman lagi.
"Iya Baba," sahutnya.
"Mari Dok, assalamualaikum!" ujarnya pamit.
"Wa'alaikumussalam," sahut Aini membalas.
Darren sudah pergi dua menit lalu. Jantung Aini masih berdebar, bahkan wajah pria tampan itu masih melekat jelas dipikiran.
Begitu juga Darren. Kini senyum simpul ia ukir dalam lamunannya. Budiman hanya bisa menghela napas panjang.
"Dia pria dewasa, bukan bocah berusia delapan tahun lagi," keluhnya dalam hati.
Sedang di tempat Lidya. Hari ini ia kembali melakukan konseling dan healing. Kini, ia bersama beberapa asisten yang memiliki kekuatan sama dengannya.
Demian kembali menyaksikan bagaimana cara gadisnya menyembuhkan orang yang trauma akan kekerasan.
"Kau penyihir!" tuduh salah satu pasien.
Bart, Demian, Jacob, Gio, Juan dan Hendra berdiri. Lidya memberi kode agar semuanya tenang.
"Aku tak percaya jika kau bisa menyembuhkan. Kau memakai kuasa gelap!" tuduh wanita itu tanpa bukti nyata.
"Anda punya bukti?" tanya salah satu asisten.
"Aku memang tak punya bukti. Tapi, ilmu tenung yang ia miliki, bisa melumpuhkan siapapun. Ia bisa membunuh dengan ilmu yang ia miliki!" jawab perempuan itu dengan suara keras.
Semua pasien menatap wanita itu. Lidya, memandang wanita yang menatapnya dengan marah.
"Nyonya, saya tidak memiliki apa pun. Karena, itu adalah milik Tuhan," sahut Lidya.
"Kau jangan berbohong. Aku akan memutus kekuatan mu!" teriak wanita berkulit kecoklatan itu.
Wanita itu mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah lonceng. Gio, Hendra dan Juan sudah menjadi tameng Lidya. Sedang Jacob berdiri untuk melindungi tuannya.
"Devaa sujke peanan!" wanita itu komat-kamit.
"Menyingkir lah dan pergilah kau kuasa gelap!" pekik wanita itu. Gio sangat kesal. Ia pun menyeret perempuan itu keluar gedung.
Wanita itu berteriak-teriak. Ia mengutuk semuanya. Lidya menangis mendengar tuduhan kasar tanpa bukti dari wanita yang tidak dikenali.
Demian menelepon bagian rumah sakit. Kenapa bisa masuk wanita tadi hingga mengacaukan sesi konseling.
"Tidak ada peserta itu dalam daftar, ia memakai identitas palsu untuk mengacaukan acaramu, Lidya," jelas Demian setelah menerima penjelasan dari pihak rumah sakit yang menangani siapa saja yang mendapatkan konsul gratis.
"Sudah tidak apa-apa. Kau memang harus mendapatkan shock therapi seperti ini. Karena ke depannya, siapa tahu ada yang tidak menyukai cara penyembuhanmu," jelas Bart menenangkan Lidya yang menangis dalam pelukannya.
"Iya Grandpa," ujar gadis itu sesengukan.
"Sayang, di BraveSmart ponsel tidak ada warna untuk tukang sihir atau tenung seperti yang dituduhkan wanita tadi," sahut Bart sedikit kesal.
Sesi pengobatan selesai. Pihak rumah sakit memperketat peserta yang ingin ikut serta dalam Konsul dan healing gratis.
"Maaf, tapi tim keamanan rumah sakit mendapat kan kertas ini di tempel di loker Dokter Lidya!" lapor salah satu penjaga rumah sakit.
"evil witch!"
tulisannya bebercak darah. Entah darah apa.
Penjagaan Lidya makin diperketat. Nyawa gadis itu terancam.
bersambung.
waduh ...
maaf ya reader ... othor lagi sakit jadi baru bisa up satu. Minta doa kesembuhan yaa ... makasih dan ba bowu.
next?
wah ...