
Kini Haidar telah memboyong keluarganya ke rumah baru. Rumah Terra yang lalu disewakan. Semua perabotan Terra dibawa ke rumah baru bahkan bertambah. Lidya kini memiliki kamar impiannya sendiri.
Kamar biru dengan lukisan awan dan pelangi. Bahkan bantal-bantal yang tersusun pun seperti awan.
"Kamar Iya bagus sekali!" puji Darren.
Pria kecil itu hanya mengubah konsep kamar. Dari tokoh Marvel kini hanya biru dan hitam saja. Darren sepertinya sudah menemukan dirinya. Pria kecil itu sudah lebih dewasa. Lidya sangat senang dengan pujian kakaknya itu.
"Iya, peulnah mimpi lihat Ayah di atas awan. Kelihatan seneng banget," sahut Lidya menjelaskan konsep kamarnya.
Deg! Jantung Darren berdegup kencang. Begitu juga Terra. Mereka berdua langsung memeluk Lidya.
"Sayang, jangan bicara seperti itu, Nak!" pinta Terra sendu.
Lidya merasa heran. Padahal ia hanya melihat kesenangan jika berada di antara awan. Seperti ketika naik pesawat waktu itu.
"Emang kenapa, Ma?" tanyanya tak mengerti.
Terra hanya menggeleng, menyingkirkan pikiran buruk yang baru saja melintas di otaknya. Lalu mendaratkan ciuman pada kening putrinya.
"Sayang. Bagaimana sama meja belajar dan lemari. Apa kamu suka?" tanya Terra mengalihkan percakapan.
"Bagus, Ma. Iya syuka!" pekiknya senang.
Terra tersenyum. Lalu membelai sayang kepala Lidya. Darren pun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba Rion datang.
"Ata' Dallen, Ata' Iya ... patanya mo pelgi patihan silat!" omelnya. "pini budah sole!"
"Ah, iya lupa," sahut Darren lalu menepuk dahinya.
Mereka bertiga ternyata sudah mendaftarkan diri sebagai pesilat tempat di mana Darren berlatih. Terra baru mengetahuinya beberapa hari lalu.
"Darren sendiri yang daftarin, Ma," begitu jawaban Darren ketika ditanya ibunya.
"Ayo, Mama juga ikut!" ujar Terra semangat.
Terra sudah mempersiapkan semuanya. Meletakkan keempat bayi kembarnya dalam stroller khusus. Tas dan segala keperluan anak-anak berada di bawah stroller itu. Romlah menenteng satu tas berisi air minum juga penganan kecil untuk anak-anak agar tidak jajan.
Budiman dan tim sudah siap. Baru mereka berangkat. Haidar datang bersamaan dengan Herman dan istri juga kembar sepasangnya. Satrio dan Arimbi. Tak lama berselang Virgou datang bersama Puspita juga Kean dan Cal.
"Te, kamu mau buat anak-anaku apa? Kok masih kecil sudah kau suruh berlatih silat!" tegur Herman dengan nada tak suka.
"Emba pa'a-pa'a. Bial Ion tuat! Emba ada yan belani sama Ion!" Rion menyela perkataan Herman.
Pria itu menghela napas panjang. Terra hanya bisa mengendikkan bahu pasrah. Virgou hanya diam. Ia tidak keberatan jika anak-anak tertarik dengan bela diri sedini mungkin.
Mereka semua pun berangkat ke tempat latihan. Melihat banyaknya orang datang bahkan ada yang bule membuat mereka jadi pusat perhatian. Dengan gagahnya Rion maju. Tetapi, Darren menariknya, menyuruh adiknya tidak boleh sombong. Rion menurut.
"Spasa yan sombon ... bowang Ion cuma maju," gerutunya pelan.
Master silat pun datang. Seorang pria lanjut usia. Tapi masih gagah dan gerakan silatnya juga sangat baik. Lidya dan Rion menjadi anak bawang. Mereka disuruh memperkenalkan diri.
Guru silat yang dipanggil Abah Ali itu. Memanggil Rion. Peserta didik paling muda.
"Peultenaltan nama Ion danten!" sahut Rion memperkenalkan diri.
"Selamat datang Rion ganteng," sapa Abah Ali sambil terkekeh.
"Mari sini. Coba tendang tangan Abah!" pinta Abah Ali.
Rion bergerak maju. Lalu.
"Ssshh!" Abah Ali menggoyangkan tangannya berkali-kali ketika tendangan Rion telak.
"Kuat juga kakinya. Siapa ini Bapaknya!" Haidar dan Virgou berdiri.
Terra menepuk kening sambil geleng-geleng. Abah Ali menengok Darren. Pria kecil itu hanya tersenyum bahagia. Seakan mengabaikan pikiran buruk yang datang. Ia memanggil dua pria itu. Haidar dan Virgou pun mendatangi guru silat tersebut.
Tiba-tiba satu serangan dilancarkan oleh Abah Ali tanpa pemberitahuan. Haidar dan Virgou reflek menangkis serangan. Sama-sama kuat dan terarah. Rion yang melihatnya tidak suka.
Balita itu menendang tungkai kering Abah Ali dengan keras. Kaki yang terlatih tentu bukan tandingan kaki kecil balita itu.
Rion menangis, karena kakinya sakit. Abah Ali langsung menggendong balita itu menenangkannya.
"Ouh, sakit, Nak. Maaf ya. Mana sini yang sakit," ujar Abah Ali sambil mengusap kaki yang menendangnya tadi.
Ia akui tendangan Rion sangat baik untuk anak seusianya. Jika dilatih dengan benar, ia sangat yakin Rion akan menjadi sosok terkuat yang pernah ada.
"Masih sakit?" tanya Abah Ali pada Rion.
Rion menggeleng. Abah terkekeh melihat balita lucu itu. Ia pun menurunkan Rion dan menyuruhnya duduk. Sedangkan Haidar dan Virgou pun kembali ke tempat duduknya semula.
"Kamu sini, Nak," panggil Abah pada Lidya.
Lidya maju dengan malu-malu. Pria itu tersenyum. Lalu menyuruh Lidya menyerangnya. Sayangnya. Gadis kecil itu hanya bergeming, menatap pria dewasa di depannya dengan pandangan polos.
Abah Ali begitu tersentuh dengan pandangan Lidya. Ia bingung. Lalu menyuruh orang untuk menyerangnya. Satu pukulan telak mengenai wajah Abah Ali. Lidya tiba-tiba menangis.
"Itu ... itu kan syakit ... hiks ... hiks ... Abah eundak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Abah Ali menurunkan tubuhnya. Lidya mendekati dan mengelus pipi Abah yang tadi kena pukul. Seketika air mata Abah menetes. Ia merasakan betapa besarnya energi gadis kecil ini. Pria itu menatap keluarga yang seperti kesebelasan itu.
Anak-anak pun selesai berlatih. Lidya belajar gerakan dasar. Abah mengajarinya gerakan seni dan pengobatan tenaga dalam. Energi besar Lidya dialihkan dan dipusatkan ke hati dan pikiran gadis kecil itu. Abah Ali mendatangi keluarga Darren.
"Bisa saya bicara sebentar dengan semuanya?" pintanya.
Mereka semua mengangguk. Abah Ali membawa mereka ke rumah yang tak jauh dari padepokan silat miliknya. Selama Darren berlatih. Ia hanya beberapa kali melihat Terra ketika Darren naik sabuk.
Istri Abah Ali menyuguhi mereka teh manis hangat dan singkong rebus. Virgou sangat antusias dengan makanan itu. Abah Ali sampai tertawa melihat bule yang doyan makan singkong rebus.
"Nanti kita ke kebun. Kebetulan Abah nanem singkong dan sepertinya sudah panen. Jadi kita nanti tarik sama-sama ya," ajaknya, yang langsung ditanggapi anggukan antusias bukan hanya Virgou tapi semuanya.
"Jadi bisa jelasin hubungan kalian dengan anak-anak spesial ini?" tanya Abah Ali serius.
Terra menceritakan semuanya. Bahkan trauma yang dilewati oleh ketiga anaknya itu. Abah Ali mendengarkan secara seksama. Setelah Terra bercerita. Barulah ia menyadari dari mana kekuatan ketiga anak tadi. Terutama Lidya.
"Abah hanya kasih saran saja. Tolong kalian ajari mereka kebajikan dan keburukan. Mereka masih begitu polos untuk mengerti siapa yang benar-benar jahat dan siapa yang benar-benar baik. Terutama Lidya dan Rion. Keduanya memiliki kekuatan luar biasa. Yang satu mengobati dan yang satu bisa saja menjadi pembunuh berdarah dingin."
Terra tercenung. Abah menepuk bahu Terra. Pria itu sangat berterima kasih tidak meninggalkan ketiga anak itu begitu saja.
"Terima kasih ya. Kamu nggak ninggalin mereka."
Lalu seperti janjinya. Abah membawa para pria ke kebun untuk mencabut seratus pohon singkong di sana.
bersambung.
pegel-pegel dah tuh.
anak-anak Terra emang beda Abah!
next?