TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SERU-SERUAN LAGI



Untuk pertama kalinya, Dominic duduk menyaksikan bagaiman sembilan perusuh tampil. Begitu juga Karina dan suami juga anak cucunya.


Raka terus memeluk Lidya. Gadis kecil pengobat hatinya kini jadi seorang ibu.


"Kau hebat dik, punya anak langsung dua!" pujinya.


"Saf malah tiga!" celetuk wanita beriris abu-abu itu iri.


Raka tertawa. Ia senang jika Saf iri karena ia lebih menyayangi Lidya dibanding wanita cantik itu.


"Iya, kamu juga hebat dik, kakak bangga denganmu," pujinya juga.


Saf akhirnya tersenyum. Ia paham, Darren telah menceritakan semuanya. Raka adalah segalanya bagi Lidya, sama dengan daddy-nya.


Karmila hanya tersenyum melihat sang suami memanjakan perempuan bertubuh mungil itu. Ia tak keberatan sama sekali. Karena bagi Raka Lidya adalah pengobat hatinya.


Dua anak Raka sudah berbaur dengan paman dan bibi kecil mereka. Raffhan dan Zheinra juga duduk di sana.


"Jadi Raffhan dan Zheinra memilih kuliah di luar negeri?" tanya Bram pada putrinya.


"Iya, Pa. Paman Raja yang mengajak mereka. Terlebih, mereka tak memiliki anak. Jadi ingin ada teman, lagi pula keduanya sangat dekat dengan beliau," jelas Karina.


"Yah, mama kalo kangen sama cucu jauh dong," sela Kanya sedih.


"Nanti juga liburan panjang mereka pasti ke sini kok ma. Lagian kan sekarang bisa video call, lagi pula kita satu grup chat!" sahut Karina.


Kanya cemberut. Wanita itu ingin semua keturunannya berkumpul menjadi satu. Tapi, mereka telah memiliki kehidupan sendiri. Karina juga ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.


"Kapan kalian berangkat?" tanya Bram sedih.


"Rencananya satu bulan setelah kelulusan Raffhan, pa!" jawab Zhein.


Bram hanya mengangguk. Ia menyerahkan semua keputusan pada anak dan menantu perihal cucunya. Raffhan telah mendaftar dari semenjak kelas satu SMA untuk bisa kuliah di luar negeri. Kini remaja itu sudah kelas tiga SMA. Ia tak melakukan kelas akselerasi. Remaja itu beralasan ingin menikmati masa sekolah, bahkan ia sempat berpacaran dengan beberapa gadis.


"Cucumu itu genit, kakek!" adu Karina suatu hari.


"Dia pacaran sama dua gadis sekaligus!"


Bram terkekeh mendengar kisah cucunya yang berbeda dari Karina. Tentu saja. Jika kegiatan cucu dari Terra hanya lurus-lurus kecuali masalah mafia kemarin.


"Mereka memiliki kisah sendiri-sendiri," gumamnya sambil memandang semua keturunannya.


Mereka duduk santai beralas karpet tebal dan banyak bantal, pada bayi telah ditidurkan.


"Palo ... beumamat pian!" sambut Bariana memberi salam.


"Selamat siang!" seru semuanya membalas.


Gomesh, Budiman dan Gio sudah menyalakan kamera untuk merekam semua kegiatan atas perintah Virgou. Aini dan Putri ada di sana bersama bayi mereka yang sudah heboh sendiri.


"Baliana atan peubanyitan ladhu untut pemuana!" sahut bayi itu.


Delapan saudaranya bergoyang sesuka hati. Rion yang menjadi operator lagu. Para bayi sudah menyatakan akan menyanyikan lagu apa nantinya.


Lagu bintang kecil pun dipersembahkan oleh bayi cantik itu.


"Pintan peusil ... bi lamit yan pindhi ... panyat panyat ... bendias ampasa ... apuh inin beultan ban peulani ... dauh bindhi ... beutentat tau peulada!"


Dominic tersedak. Ia nyaris tertawa jika saja tidak disenggol oleh Sean. Pria itu menciumi remaja hingga Sean kesal.


"Grandpa!" dumalnya tertahan.


"Ba bowu baby," ujar Dominic penuh kasih sayang.


"Ba bowu pu," sahut Sean dengan senyum.


Keduanya kembali melihat aksi panggung. Bariana selesai bernyanyi. Semua bertepuk tangan heboh dengan muka memerah menahan tawa.


"Matasih, matasih!" ucap bayi cantik itu sambil membungkuk badan.


"Telima kasih Baby Baliana," ujar Benua


Balita itu menjadi pemandu acara bersama Domesh


"Sekalang, siapa lagi nih yang akan tampil. Menulutmu siapa Dom?" tanya Benua kini .


"Sepeltinya meleta sudah tak sabal untuk tampil," ujar Domesh menjawab.


"Oteh, pita eh ... kita tanyakan lansun saja ya!" Domesh mengangguk setuju.


"Siapa yang mau tampil selanjutnya?" tanya Benua semangat.


"Payah!" teriak Arion paling kencang.


Bayi itu memakai baju koko warna hijau muda. Lagu cicak di dinding menjadi pilihannya. Bayi itu pun mulai bergoyang.


"Bicat ... picat bi bindin. Piam-biam bewawat ... pantan setotol banut ... hap ... palu ti pantap!"


Virgou terbatuk, Herman lari menahan buang angin, Bram sudah tak tau lagi harus apa. Sedang Dominic makin menggila, ia mengacak rambutnya dengan muka memerah.


"Bicat ... picat li pindin ... piam-piam sewawat ... batan beuletol mamut ... hap ... palu bi mantap!"


"Astaghfirullah ... astaghfirullah!" serunya beristighfar lalu mengusap ujung mata yang telah berair.


Semua bergulingan menahan tawa. Zhein tak mampu mendengar lanjutan lagu itu. Ia memilih keluar mansion dan mengobrol dengan para pengawal yang bertugas.


Lagu selesai. Semua bertepuk tangan heboh. Bart berteriak dengan semangat. Hiburan itu membuatnya merasa muda kembali.


"Telima kasih Baby Arion," ujar Domesh dengan senyum lebar.


"Yah ... sualanya bagus sekali ya," puji Benua bangga.


"Setalan eh sekarang siapa lagi?" tanya Domesh.


"Sayang!" sahut Sky antusias.


Mik di serahkan sebuah lagu naik delman menjadi pilihan bayi tiga tahun lebih itu.


"Bada hali mindhu butulut ayah petota ... mait pelman bistimewa pududut pi muta ... pududut muta pat tusyil yan sedan beuleja ... meundelai tuda bupaya bait jalana ... hey ... tutitatituttitatitut ... tutitatitutatitut buala spatu puda!"


Dominic menyerah. Ia lemas dengan perut kram. Kepalanya pusing karena terlalu banyak menahan tawanya. Pria itu memeluk Sean yang paling dekat dengannya. Rasya memeluk pria itu. Ia juga ternyata menahan tawanya.


Lagu selesai. Semua bertepuk tangan meriah.


"Lagii!" teriak Bart semangat.


Ia menghapus jejak air yang ada di ujung matanya. Pipinya sudah kram karena menahan tawa luar biasa.


"Wah ... telima kasih untuk suala indahnya Sky!" ujar Benua dengan nada bangga.


Sky tersenyum dengan bangga. Terra menatap semua keturunannya juga dengan bangga.


"Ah, mereka makin besar dan makin pintar," pujinya.


"Aku setuju itu," sahut Karina.


Dua wanita itu saling menatap dan tersenyum. Kesibukan dan jarak membuat keduanya tak pernah bertemu kecuali hari-hari besar seperti ini.


"Aku kangen masa lalu," ujar Karina memeluk Terra.


"Ya, Te juga kangen masa lalu, masa mereka semua masih kecil-kecil," ujar Terra.


"Kakak, masih tak percaya, gadis kecil kita sudah menjadi seorang ibu," sahut wanita itu sambil merangkul adik iparnya.


"Te juga masih belum percaya. Tapi, kenyataannya sekarang Lidya sudah menjadi seorang ibu," sahutnya.


"Ah, aku ingat pertama kali ketika Haidar memperkenalkan dirimu sebagai kekasihnya. Bahkan waktu itu kau membongkar kebusukan day care abal-abal itu!"


"Memang apa kesan pertama kakak ketika melihat Te waktu itu?" tanya Terra penasaran.


"Rahasia!" bisik Karina.


"Ish ... kakak!" rajuk Terra kesal.


"Hais ... diam ... lihat sekarang si raja cerita hendak mempersembahkan diri!" ujar Karina menghentikan keingintahuan adik iparnya.


"Oteh ... sekalan kita lanjutkan dengan Bomesh ... ia akan membacakan puisi untuk pala mama semuanya!" ujar Domesh mempersilahkan adiknya tampil.


Bomesh memegang mik. Batita itu sudah hapal dengan apa yang ia katakan. Samudera membantu mencatat puisinya. Bayi bawah lima tahun itu belum mahir membaca.


Namun, dengan percaya diri ia tetap membawa secarik kertas berisi puisinya.


"Buisi beulbujul mama ... puah talya Bomesh Diaplo!"


Semua hening ingin mendengar puisi indah Bomesh.


"Mama ... entaulah batahali tuh ... entau peulalu beulsinal di lamit yan pilu ...!"


"Hmmmpppfffhh!" semua menahan tawa mereka. Tapi, sebisa mungkin mereka menikmati apa yang dipersembahkan puisinya.


"Mama ... entaulah mapas tuh ... entaulah terhidupan tuh ... panta muh atuh piada altina ... Mama entaulah seudalana badhi tuh ... ba bowu mama ... ba bowu papa!"


Puisi selesai. Semua berdiri bertepuk tangan dengan meriah. Demian bersiul keras.


"Bravo! Bravo!" teriak Dominic.


"Benpa ... plapo ipu pa'a?" tanya Arraya dengan mik.


Dominic pun terbahak mendengar pertanyaan bayi cantik itu.


"Benpa betawa ... pita hutum benpa!" teriak Azha memprovokasi.


"Bayo ... selan!" teriak Harun mengomando.


Maka semua bayi menyerang Dominic dengan ciuman menggemaskan.


bersambung.


ah ... anak-anak


next?