TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BAHAGIA DAN ANAK-ANAK



Masalah Lidya selesai. Semua keluarga menghela napas lega. Terutama Terra. Wanita itu menangis haru melihat putrinya baik-baik saja.


"Sayang, kau pulang saja, ya," pinta Terra setengah memohon.


"Mama," sahut Lidya meminta pengertian.


Terra hanya bisa menghela napas panjang. Semua adik-adiknya mengatakan rindu padanya. Ia masih. harus sepuluh kali memberikan konseling, artinya dua minggu lagi, ia berada di Eropa.


"Ya, sudah. Hati-hati di sana ya, Nak. Jaga kesehatan dan jangan lupa shalat," pinta sang ibu mengingatkan.


"Iya, Ma. Ba bowu," ujar Lidya.


"Ba bowu pu," sahut Terra membalas.


Sambungan video call berakhir. Kini, Lidya dimanjakan oleh semua keluarga. Gadis itu disuapi ayah-ayahnya.


"Besok, Daddy, Papa dan Ayahmu harus kembali ke Indonesia. Banyak pekerjaan di sana," ujar Virgou pada Lidya.


"Oh, aku ikut jika kalian pulang besok. Aku sudah terlalu lama di sini," ujar Sriani menimpali.


"Bu, tinggallah lebih lama lagi, ya," pinta Widya.


"Maaf sayang. Rumah di sana juga butuh perawatan, Ibu juga tak terbiasa dengan udara di sini," ujarnya beralasan.


Gabe sangat menyayangkan jika mertuanya begitu cepat pulang. Padahal ia sangat menyayangi ibu yang melahirkan istrinya itu.


"Ata'Iya ... pita ote-ote yut!' ajak Sebastian semangat.


"Ayo!' sahut Lidya juga semangat.


Lidya memasang alat karaoke. Semua anak berebutan memegang mik.


"Tian pulu!" pekik Sebastian marah pada adiknya.


"Pilly!" sahut Billy tak kalah kuat suaranya.


"Babies!" tegur Virgou.


Bukannya berhenti malah, dua batita itu saling pukul-pukulan. Billy yang lebih kecil sampai menangis. Lidya kualahan.


"Ah .. andai ada Baby Ion di sini," keluh gadis itu.


"Haachhii!" Rion bersin ketika tengah berada di ruangannya Haidar.


Remaja itu tengah mengerjakan sebuah mega proyek yang baru dua hari lalu ia menangkan. Haidar memang sedang memperjuangkan proyek raksasa yang melibatkan banyak perusahaan termasuk perusahaan Demian dan Herman di dalamnya.


Banyak pengusaha besar kalah tender dari perusahaan Haidar. Mereka tak mengira jika remaja yang baru saja mengalami vase akil baligh itu mampu memberi presentasi luar biasa hingga ia mampu menjadi kepala bagian pengendali mega proyek ini.


"Alhamdulillah," ujar Rion setelah bersin.


"Yaharmukallah!' sahut Bobby.


"Apa anda sakit, Tuan. Jika iya, kita bisa menghentikan dulu, dan melanjutkannya nanti," saran Bobby.


"Tidak apa-apa, Om. Ion hanya gatal saja hidungnya tadi," sahut Rion sambil menggosok hidungnya.


Mereka pun kembali bekerja. Sedang di mansion Bart kini Herman dan Haidar menenangkan dua bersaudara yang kini menangis karena dimarahi ibunya.


Ella sebagai kakak jadi ikut-ikutan sedih, karena tidak bisa menjadi penengah untuk kedua adiknya. Sedang baik, Gabe, Virgou dan lainnya hanya menonton saja. Toh, perkelahian antar saudara itu sudah biasa.


"Jangan salah, Kean dan Cal juga suka berkelahi di rumah hingga membuat Mommy mereka naik darah," sahut Virgou memberitahu.


Haidar mengangguk setuju. Keenam anaknya memang tampak akur jika ada Rion, tetapi jika tak ada, ibu mereka harus perang urat leher jika mengatasi kenakalan anak-anaknya itu. Terlebih quarto mereka. Nai yang bisa saja tiba-tiba di atas lemari karena mengejar cicak. Atau Sean yang ada di atas pohon mengambil bolanya, padahal banyaknya pengawal yang mengawasi tetapi tetap saja kecolongan.


Robert yang tak berhenti harus menceburkan diri ke kolam karena duo R yang melempar barang-barang ibunya. Entah itu panci, bedak, lipstik atau bola kesayangan Sean kakak mereka.


Haidar dan Terra harus lari melihat apa yang terjadi. Saat itu Rion ditugasi Haidar pergi ke luar kota untuk mengikuti seminar bisnis. Sedang Darren dan Lidya belum pulang dari kegiatannya.


"Ada apa?" tanya Haidar khawatir.


Robert basah kuyup. Sean ada di tangan Juan dan Rasya juga Rasyid di tangah Hendra dan Felix. Ketiga anaknya itu tampak marah terutama Sean.


"Sean!" panggil ibunya.


"Sean nggak suka jika barang-barang Sean diambil tanpa permisi!" sahut bocah berusia sebelas tahun itu dengan napas memburu.


"Rasya, Rasyid?" panggil Terra lagi ingin meminta penjelasan dari duo R nya itu.


"Apis ... Ata' Sean belit! Eumba bawu tasih binjem polanya!" ujar Rasya kesal.


"Biya, Pantana. pita puang polana te, tolam!" sahut Rasyid menimpali.


Terra menghela napas panjang. Kesalahan terbesarnya adalah menyerahkan semua urusan anak-anak pada bayi besarnya, Rion.


Maka Terra pun menasehati ketiga putranya yang berseteru itu. Mereka saling meminta maaf. Walau beberapa saat kemudian, yang lainnya juga berseteru kembali.


"Biarkan mereka, namanya juga anak-anak. Nanti juga mereka akur lagi," sahut Gabe akhirnya menyerah.


Herman jadi tahu betapa istrinya pasti kepayahan menghadapi kenakalan ke lima anaknya yang memang super jahil tersebut.


Sedang di sebuah apartemen mewah, sosok tampan kini memandangi awan yang selalu melukis wajah gadis cantik berhijab.


"Aku tak boleh seperti ini. Aku harus menghentikan kegilaanku pada Lidya. Dia cinta pertamaku, aku sangat berharap dia lah cinta terakhir ku," ujarnya bermonolog.


"Wahai gadis ... tolong jaga hatiku yang sudah kau rebut. Aku tak mampu berpaling darimu. Walau ini tak boleh, karena Allah pasti sangat tak menyukai umat-Nya lebih mencintai mahluk dari pada-Nya," lanjutnya.


"Ya Allah, jadikan aku hanya mencintaimu saja," doanya berharap.


Demian duduk dan kembali melukis, ia memang jago sekali menggambar. Tadinya wajah-wajah gadis cantik yang menjadi objek lukisan-lukisannya. Tetapi, semenjak ia mengenal Islam objeknya pun berganti, ia belajar kaligrafi. Secara otodidak dan melihat video yutub, ia mengembangkan bakatnya.


Lukisan wanita tetap jadi objek galeri lukisnya. Tetapi kebanyakan adalah abstrak dan kaligrafi. Lukisan berjudul tangan malaikat pun kini menjadi sorotan utama para pecinta seni, bahkan banyak yang ingin membeli karya itu dengan nilai fantastis.


"Kebahagiaan itu adalah sadar, ketika cinta kita berbalas karena Allah merestui-Nya." begitu tulisannya pada lukisan itu.


Kembali ke tempat Lidya. Kini anak-anak sudah selesai berdrama. Mereka kini saling bergoyang dan bernyanyi. Tian yang paling suka bernyanyi. Lagu, naik ke puncak gunung menjadi pilihan bayi itu.


"Bait-bait ... petuntat punun ... Pindi-pindi setali. pait-pait betuntat bunun bindi-bindi sepali ....


Tili banan bubihat baja banat bolon pelamaaa ... bili, tanan pulipat paja ... banat bolon celana ...."


Semua tertawa, Virgou menyemburkan air yang hendak diminumnya. Bart sampai terpingkal mendengar kata-kata terakhir lagu tersebut.


"Setalan Pilly, bawu banyi!" pinta Billy yang langsung merebut mik dari kakaknya.


"Tian bewum pelesai!" pekik Tian marah.


Dan ... pletak! Mik dipentungkan ke kepala Billy. Beruntung Lidya cepat melindungi kepala bayi itu dengan tangannya.


"Tian!" pekik Widya marah.


"Huwwwaaa ... Pilly matal!" teriaknya.


Bersambung ...


ah anak-anak ...


next?