
Semua menghadap pegawai mau pun pengawal menghadap pada Terra dan Haidar. Mereka mengaku salah karena abai akan keselamatan Rion, tuan muda mereka.
Mereka tidak mengatakan alasan apa pun. Mereka mengaku salah. Terra hanya menghela napas panjang.
"Ya, sudah. Lain kali tolong pertajam kepekaan kalian. Saya, harap hal ini tidak terulang lagi," ujar Terra bijak.
"Terima kasih atas kebaikannya, Nona!" ujar para pengawal yang mukanya babak belur.
Lidya sedih melihat para pengawal mukanya terluka. Ia mendatangi mereka.
"Om semua nggak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.
"Kami tidak apa-apa, Nona," jawab Burhan dengan suara agak tercekat.
Lidya mengusap tangan mereka. Semua menggenggam tangan gadis kecil itu. Virgou langsung mengajak putrinya itu masuk. Matanya masih memerah karena marah besar.
"Lukanya diobatin ya," ujar Lidya perhatian.
"Iya, Nona," sahut salah satu dari mereka.
Semuanya masuk rumah. Para pengawal pun kembali bekerja. Dahlan mengganti kamera yang rusak. Terra menghampirinya.
"Sudah bener, Kak?"
"Sudah, Nona. Untung persediaannya masih ada. Mereka kurang teliti mencari. Mohon maklumi, Nona. Mereka rata-rata masih baru," ujar Dahlan sedikit menyesal.
"Sudah nggak usah dibahas. Makasih ya, Kak," ujar Terra meninggalkan Dahlan.
"Sama-sama, Nona," sahutnya.
Pria itu pun turun setelah tim mengatakan kamera berfungsi. Ia meletakan tangga di gudang. Dahlan mengamati lagi ruangan itu. Setelah yakin, ia pun menutup pintu dan menguncinya.
Sedangkan di kamar. Juni merasa sangat bersalah. Ia tadi begitu teledor. Padahal Rion masih bertanya padanya.
"Ya Tuhan. Kenapa aku teledor sekali. Padahal tadi Den Baby ngomong. Aku juga jawab. Kenapa malah aku pergi trus kunci pintu, tanpa lihat ada Den Baby ada atau nggak?"
Wanita itu pun memberanikan diri mendatangi majikannya. Air matanya sudah bersimbah membasahi pipi juga bajunya. Dengan takut-takut, ia menghadap Terra.
"Nyah ... hiks ... saya minta maaf, Nyah ... hiks .. hiks. Saya yang teledor, hiks ... hiks!"
"Kamu!" Virgou hendak menampar pipi perempuan itu.
"Kak!" peringat Terra.
Haidar langsung menarik Virgou, lalu membawa pria itu menjauh dari ruangan. Mereka semua tahu apa yang terjadi. Rion sudah menceritakannya.
"Ion tadi mau ambil bola, Ma. Trus mendadak gelap, pintunya ke kunci. Ion ingat waktu itu Ion dimasukin lemali sama olang pelempuan," jelasnya. Balita itu enggak menyebut nama ibu kandungnya.
"Baby, bilang nggak sama Bik Juni, kalau mau ambil bola?" tanya Puspita.
"Bik Jun kan baru berinteraksi dengan Baby, Te. Jadi wajar kalau instingnya tidak setajam Bik Romlah dan lainnya yang sudah ikut lama dengan kalian," ujar Puspita menerangkan.
Terra mengangguk setuju. Ia pun sebenarnya tidak mempermasalahkan lagi. Ini semua murni keteledoran dan kurangnya kepekaan para pegawainya.
"Sudah, nggak apa-apa Bik Jun. Lain kali yang teliti ya," ujar Terra bijak.
"Makasih, Nyah ... hiks .. makasih," ujar Juni berterima kasih.
"Ya, sudah sana. Kerjakan apa yang belum selesai. Sebentar.lagi makan siang. Kalian masak yang banyak ya, jangan lupa dibagi, seperti yang biasa saya lakukan!" titah Terra lembut.
"Baik, Nyah. Saya permisi," Terra mengangguk.
Juni pun pergi ke dapur membantu yang lainnya memasak. Kali ini, Terra tidak terjun langsung memasak. Ia ingin menemani semua anak-anaknya.
Khasya menemani Terra dan Puspita memeluk anak-anak mereka. Sedang Virgou tengah ditenangkan Haidar dan Herman.
"Sudah, nggak guna juga kamu marah-marah. Kejadiannya sudah terjadi dan sudah lewat. Beruntung Rion adalah anak yang kuat, jadi dia cepat pulih," ujar Herman menenangkan pria bule itu.
Virgou menghela napas panjang. Ia juga merasa bersalah. Ia terlalu emosi hingga semua pengawal kena imbasnya.
"Grandpa besok datang dengan semuanya. Mereka kaget ketika aku ceritakan jika Rion mengalami trauma," ujarnya sambil mengusap wajahnya kasar.
"Ya, sudah besok kita suruh Budiman dan Johar menjemput mereka. Biar Terra tak usah ke kantor," ujar Haidar.
"Nggak usah. Aku yang akan menjemput mereka, besok," ujar Virgou.
Haidar pun diam. Puspita memanggil semuanya. untuk makan bersama. Semua bangkit dan duduk di kursi makan. Setelah berdoa mereka pun makan.
Terra, Khasya dan Puspita menyuapi anak-anak mereka. Rion tidak mau disuap.
"Ion sudah gede. Masa disuapin," tolaknya.
Semua tersenyum. Mereka lega, Rion telah melewati masa traumanya. Balita itu begitu tangguh.
Usai makan anak-anak di dudukan sebentar di ruang bermain. Setelah itu botol susu sudah dipegang masing-masing oleh mereka.
"Ayo, bobo," ajak Rion.
Kedelapan bayi itu mengikuti komandan mereka. Terra membantu anak-anak menaiki tempat tidur yang dikelilingi pagar kayu agar tidak ada yang menggelinding jatuh.
Mereka pun akhirnya terlelap, begitu juga Rion. Berkali-kali Terra mencium balitanya penuh kasih sayang. Meraba lagi tubuhnya sudah tidak lagi hangat. Ia pun kembali ke ruangan di mana semuanya berkumpul. Lidya dan Darren sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
bersambung.
Nah ... dimaafkan ... lega.
next?