TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERKELAHIAN DARREN



Ujian sebentar lagi akan dimulai. Darren begitu sibuk menyiapkan semuanya. Sudah dari jauh hari pria kecil itu membuat catatan-catatan kecil yang ia tempel di satu papan.


Bel berbunyi. Tanda pelajaran telah usai. Semua murid bernapas lega. Mereka semua memasukkan buku-buku dan pulpen mereka. Tidak ada tugas. Sekolah melarang para guru untuk membebani anak-anak dengan tugas di rumah karena sebentar lagi ujian.


"Dar, kita bikin kelompok belajar yuk. Kamu ngajarin kita-kita yang nggak ngerti," usul salah satu teman sekelasnya.


Darren tampak berpikir. Sepertinya tak masalah jika ia berbagi cara belajarnya pada teman sekelasnya.


"Oke," sahut Darren setuju.


"Ya, udah. Nih, gue, Rahaja dan Nino yang mau belajar bareng sama kamu," ujar Wira.


Darren sangat tahu siapa-siapa nama yang disebut. Biang tukang bolos dan tukang onar. Suka jahilin anak perempuan. Sebenarnya ia sedikit keberatan. Tetapi, ia pun akhirnya mengangguk juga.


"Ya, udah kita bikin jadwal. Kapan mulai belajar bareng. Maunya sih pas minggu aja, gimana?" tanya Wira memberi usul.


"Oke, kalo bisa sih sore ya. Soalnya kalau pagi, gue mesti bantuin ibu gue jagain adik-adik," ujar Darren setuju.


"Oke, jam empat sore ya, nggak lama.Paling satu jam aja," usul Wira lagi.


Darren mengangguk setuju. Mereka keluar kelas. Datanglah Rahaja dan Nino. Mereka lain kelas dengan Darren dan Wira.


"Jadi gimana?" tanya Rahaja.


"Udah, dia setuju. Ya kan Dar!" jawab Wira.


Darren memperhatikan gelagat ketiganya. Ia sedikit curiga. Instingnya mulai bekerja. Tetapi dia mengangguk juga menyetujuinya.


"Oke kalau gitu," ujar Rahaja.


Rahaja sudah tiga kali tidak naik kelas. Nino pun demikian. Mereka naik kelas enam ketika Darren naik juga bersamaan dengan Wira.


Mereka pun pulang. Darren dijemput oleh empat pengawalnya. Rahaja dan Nino juga Wira saling pandang.


"Gue duluan ya!" pamit Darren..


"Oke, kita ketemu lagi. Jangan lupa belajar barengnya!" teriak Nino.


Darren pun mengangkat jempolnya ke udara, tanda oke. Ketiga pria menjelang remaja itu saling pandang satu dengan lain.


"Kita lihat saja, ntar," ujar Rahaja.


Entah apa yang mereka rencanakan. Nino sudah gelisah. Begitu juga Wira.


"Pokoknya kita harus berhasil kali ini. Jika tidak ...."


"Dah, ah. Ayo pulang!" ajak Rahaja kemudian.


Mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Darren tidak pulang bersama adiknya hari ini, karena Lidya masuk pagi. Jadi sudah pulang duluan.


Hari minggu pun tiba. Darren datang. Kali ini ia bersama dengan Daddy-nya. Entah kenapa hari ini Virgou yang tengah bertandang ke rumah Terra bersama istri dan anak kembarnya. Ingin menemani Darren pergi belajar kelompok.


"Daddy tidak apa-apa, nungguin Darren?" tanya pria kecil itu merasa tidak enak.


"Tidak masalah. Kalau perlu Daddy akan bersamamu ke kelas belajar bersama. Kangen masa sekolah dulu," jawab Virgou santai.


"Ya, sudah. Darren ke kelas dulu ya. Mungkin teman-teman sudah menunggu," pamit Darren.


Virgou mengangguk. Ia juga turun bersamaan dengan Darren dari mobil Jeep putihnya. Darren berlari menuju kelas. Sedangkan Virgou berjalan pelan menyusuri lorong sekolah.


Pria itu tertawa kecil mengingat masa kecilnya dulu. Terlebih perseteruannya dengan Ben, ayah dari Terra.


Virgou memilih kelas akselerasi agar selesai lebih dulu dari Ben. Ia lulus dengan nilai terbaik. Tetapi, hanya pandangan merendahkan dari kedua orang tuanya juga para saudaranya.


"Ah ... mereka sudah mendapat ganjarannya. Meninggal muda tanpa keturunan. Hanya tinggal aku sendiri dari pihak Dougher Young," ujarnya sambil menghela napas panjang.


Tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di lantai dua. Sekolah Darren ada dua lantai dan kelasnya ada di lantai dua. Virgou mempercepat langkahnya. Setengah berlari ke lantai dua.


Di sana ia melihat Darren tengah berkelahi. Tiga lawan satu. Meja dan kursi mulai berantakan. Aksi main keroyok tidak terelakkan. Darren menangkis bahkan juga memberi serangan balasan.


"Ehem!" Virgou berdehem keras.


Semua anak yang berkelahi berhenti. Tiga anak yang mengeroyok Darren tiba-tiba pucat pasi, melihat sosok tinggi besar menjulang. Rahaja yang paling besar di antaranya tiba-tiba menyerang Virgou.


"Heeeaaa!"


Tap! Virgou menangkap kaki yang hendak menyerang selangkangannya. Memutarnya dengan mudah dan melemparnya begitu saja.


Brug! Rahaja terbanting di antara meja dan kursi.


"Aarrgh!" teriaknya kesakitan.


Virgou melihat luka sobek di bibir Darren. Ia pun murka. Menarik dua orang lainnya dengan tangan. Lalu dilemparnya ke arah di mana ia melempar yang satunya tadi.


"Aarrgh!" teriak mereka berdua.


Virgou menggulung lengan bajunya. Ia kembali ingin menghajar tiga anak begundal itu. Tetapi Darren menahannya.


"Untuk kali ini, boleh Darren yang menyelesaikannya Daddy?" pintanya sambil menatap Virgou penuh keyakinan.


Virgou akhirnya mengangguk setelah berpikir lama. Darren mendekati tiga teman sekolah yang menyerangnya tadi.


"Gue udah ngerekam semua perkataan kalian juga ancaman kalian. Bahkan gue juga merekam aksi pengeroyokan kalian," ujarnya dengan tatapan tajam dan dingin.


"Gue nggak percaya Lo udah ngerekam semuanya!" sahut Rahaja sambil meringis kesakitan.


Darren dengan tenang mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka rekaman juga video pengeroyokannya. Ketiganya kaget.


Virgou sangat berang mendengar perkataan dan ancaman tiga begundal itu. Tangannya sudah gatal ingin memberi pelajaran lagi.


(Isi rekaman)


"Pokoknya Lo harus ngasih kita contekan. Gue udah lihat data pembagian kelas. Gue duduk di depan Lo. Wira di belakang Lo dan Nino di sisi kiri Lo!" (suara Rahaja mendominasi)


"Gue nggak mau dan Gue nggak bisa!" (Suara Darren menolak).


"Lo harus mau. Kalo enggak Adik Lo yang cantik itu gue cium di depan umum!" (Suara Nino mengancam).


"Jangan bawa adik Gue!" (suara Darren mulai marah).


"Makanya Lo harus nurut kita-kita. Kalo nggak mau hidup adik Lo suram karena gue paksa cium dia!"


"Ingat. Kita bertiga akan nyium adik Lo bergantian!" (dua ancaman Rahaja mendominasi).


"Gue nggak mau!" (Suara Darren berteriak. Dari sana mulai ada suara pukulan.)


Bug!


Sebuah Video rekaman bagaimana Darren dikeroyok dan melempar semua temannya di antara meja dan kursi.


"Loh kok Om ini nggak ada di layar?" tanya Wira bingung..


Darren hanya tersenyum miring. Tiba-tiba beberapa guru dan petugas kepolisian datang. Mereka menangkap dengan bukti yang dikirimkan oleh Darren.


Ketiga anak itu terancam dikeluarkan dari sekolah dan tidak bisa mengikuti ujian akhir nasional. Guruu mereka juga memberi beberapa bukti kenakalan lain yang dilakukan oleh ketiganya.


Virgou diperiksa. Pria itu mengaku datang setelah ketiga anak itu dilempar oleh putranya.


"Sebaiknya, Putra Bapak diobati," ujar salah satu petugas.


"Baik, saya akan bawa anak saya untuk divisum. Agar bukti makin lengkap," ujar Virgou kemudian.


Mereka pun berlalu. Langsung menuju rumah sakit terdekat bersama beberapa petugas untuk melakukan visum.


Usai visum dan memberi keterangan pada pihak polisi. Mereka berdua pun pulang ke rumah.


Sampai rumah. Terra langsung panik melihat luka lebam di wajah putranya. Virgou pun menjelaskannya.


"Begitu ceritanya, Te."


Terra memeluk Darren. Haidar mengepal.erat tangannya. Virgou tertawa mengejek Haidar. Ia menang banyak hari ini.


"Ck kalian ini masih saja bertingkah seperti anak kecil!" protes Terra melihat dua pria saling adu tatap itu.


"Papa sama Daddy lagi marahan?" tanya Lidya dengan mata sendunya menatap dua pria yang ia cintai.


"Nggak sayang. Kami hanya bercanda. Kami saling sayang, kok," jawab mereka menyanggah kata-kata Lidya.


Melihat kedua pria yang ia cintai saling rangkul, membuat Lidya tersenyum manis. Ia mencium pipi dua pria itu.


"Iya sayang sama Papa dan Daddy," ungkapnya tulus.


"Daddy juga sayang."


"Papa juga sayang."


Lidya pun tersenyum kemudian memeluk keduanya erat.


bersambung.


hei ... yang dilawan Darren bukan hanya tenaga yang main tapi otak juga.


next?