TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
COMEBACK LIDYA!



Setelah beristirahat tiga hari, ketika kemarin baru sampai. Hari ini Bart mengajak semuanya kesebuah kawasan bermain terbesar di Eropa.


Dengan menaiki bus kecil. Mereka berjalan-jalan mengitari ikon-ikon ibukota. Anak-anak banyak bertanya benda-benda yang aneh menurut mereka.


Dengan senang hati Bart, atau Gisel yang menjawab. Budiman dan Gomesh berada dengan tuan mereka. Dua penjaga tampan ini menjadi target keusilan para bayi.


"Om Pudi ipu pa'a?" tanya Nai melihat satu benda.


"Itu patung Napoleon Bonaparte," jawab pria itu.


"Spasa ipu papopon pompalte?" tanya Cal ingin tahu.


Budiman pun menjelaskan siapa Napoleon Bonaparte. Para bayi mendengarkan dengan serius. Gomesh gemas bukan main. Ia merengkuh empat bayi, lalu menggelitik mereka dengan mulutnya.


"Om Pomesh!" pekik Cal tak berhenti tertawa.


"Om Domesh. Palo badhi latsasa paya Om, pedibana?" tanya Satrio.


"Olahraga dan makan sayur," jawab Gomesh.


Keseringan berkumpul dengan bayi. Membuat Gomesh mengerti apa yang mereka katakan. Pria itu kadang geli sendiri, ketika mengartikan perkataan Kean dan Cal.


"Om Domesh, banyi don," pinta Daud.


Gomesh pun bernyanyi. Suara merdu itu membuat para bayi jadi mengantuk. Mereka pun tertidur di kursi mereka. Mereka memang dari tadi ada di tempatnya.


Tempat yang dituju sudah sampai. Anak-anak yang tidur pun di dorong oleh stroller kembar. Para ayah mendorong kereta. Darren dan Lidya sudah besar, jadi bisa berjalan kaki tanpa harus di dorong oleh kereta. Rion meminta gendong Frans.


Anak-anak terbangun karena cuaca sedikit terik dan ramai. Mereka mengungkapkan kekaguman mereka secara spontan. Orang-orang yang melihat bayi kembar yang lucu langsung gemas.


Para bodyguard pun menjadi benteng untuk mereka. Mereka menuju sebuah kawasan VVIP. Hanya orang-orang yang berkantung tebal yang bisa masuk ke sana. Bart salah satunya.


Budiman dan Gisel sengaja dibiarkan berduaan oleh klien mereka. Bart menyuruhnya. Sepasang kekasih itu tentu menggunakan kesempatan itu dengan baik.


Bergandengan tangan dan ber-swafoto berdua. Momen romantis ini mereka kenang. Bahkan Budiman berani mencium tangan gadis itu.


Gomesh dan lainnya yang jomlo hanya bisa menatap nanar pasangan itu.


"Tuan, sekalinya anda memiliki keturunan perempuan, mereka masih bayi begini," sahut Gomesh menatap empat bayi perempuan. Lidya, Arimbi, Nai dan Mai.


"Iya, bukan bayi, Om!" protes Lidya menyela.


"Ah, iya. Berapa lama lagi aku harus menunggumu, Nona?'


Lidya hanya tersipu malu. Terra membelalak. Ia memukul gemas lengan pria besar itu. Lidya tidak menyukai kekerasan langsung menegur ibunya.


"Mama, don't hurt him!"


"Oh, Mama nggak nyakitin Om, Sayang. Mama gemes aja," ia memandang horor pria tampan itu.


Gomesh membentuk huruf v dengan dua jarinya. Terra memberengut. Haidar langsung merangkul pinggang istrinya dan membawanya berjalan sambil mendorong kereta bayi mereka.


Darren menggandeng adiknya sambil menatap tajam pria raksasa itu. Gomesh hanya tersenyum kecut. Virgou menyenggol bahunya. Herman pun sama. Bart hanya bisa menghela napas panjang.


Mereka semua berjalan-jalan anak-anak minta naik komedi putar. Semua bodyguard menjaganya termasuk Budiman. Darren dan Lidya tertawa.


"Kak, Iya, duduk di situ ya?" ujarnya sambil menunjuk sebuah bangku kayu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Oh, oke," sahut Darren ketika melihat bangku yang ditunjuk oleh adik perempuannya.


Lidya pun berjalan ke bangku dan duduk di situ. Seorang badut yang bertugas memberi balon pada anak-anak, melihat gadis kecil duduk sambil memandangi orang dewasa perlahan mendekat.


"Give me the ballon, please," pinta anak-anak yang mengerumuninya.


Dengan senang hati, badut itu pun memberikan balonnya. Namun tidak balon berwarna pink. Balon ini khusus untuk gadis kecil yang cantik tengah duduk di bangku sendiri.


"Hi, girl. This is for you," ujar sang badut sambil menyerahkan benang balon pink.


Lidya pun menoleh, dari bibir yang tersenyum mendadak pucat. Matanya tiba-tiba kosong. Badut yang tak mengerti apa yang terjadi. Memanggil gadis kecil itu.


"Hi, girl this is for you," ujarnya lagi menyerahkan benang yang mengikat balon pink.


Tatapan Lidya kosong. Wajahnya pun memucat. Badut itu pun panik. Ia menyentuh pipi gadis kecil itu.


"Girl are you okay?"


"Hei ... stay away from my sister!" pekik Darren.


Badut menatap Darren. Pria kecil itu juga terkisap menatap badut. Mendengar teriakan Darren semua menoleh Terra yang melihat putrinya memucat dan menatap kosong. Langsung berlari.


"Sorry please stay away from my daughter. she is afraid of clowns!" (maaf, tolong menjauh dari putri saya. Dia takut sama badut!) pinta Terra yang tak mau melihat badut.


"Oh, i'm sorry i don't know that," (Oh, maaf. Saya tidak tahu itu!) ujarnya menyesal langsung menyingkir dan menjauh.


Haidar langsung menenangkan Darren. Satu kilas trauma kembali menyerang anak-anak. Untung Rion tidak ada, dia aman bersama Frans.


"Lidya ... sayang ... ini Mama, Nak," panggil Terra dengan berurai air mata.


Badut yang menatapnya dari jauh sangat sedih. Padahal ia tidak berniat untuk menakuti. Perlahan ia melepas balon warna pink ke udara.


"Kita semua kembali ke mansion!' titah Bart.


Lidya digendong Terra. Mendekap erat gadis itu. Ia berusaha untuk tidak menangis hingga membuat semua anak bersedih.


Semua pulang. Rion pun melihat kakaknya yang tidak baik-baik saja, langsung terisak tertahan. Gomesh tertegun. Ia baru saja mendapat info tentang penyiksa pada tiga anak itu. Budiman tak berhenti menghapus air matanya. Gisel jadi ikut menangis tertahan. Leon menenangkan putrinya. Semua pulang kembali ke mansion.


Bart memanggil dokter pribadinya. Terra terus memanggil putrinya. Lidya seperti hilang.


"Sayang ... Iya ... Nak ... ini Mama!" panggil Terra.


Darren memeluk Virgou. Ia tersedu-sedu di dada pria itu. Virgou nyaris menahan napasnya. Puspita mengelus punggung suami untuk menenangkannya.


"Waktu itu, ketika Tante Firsha habis pulang berpergian sama Tante Selena dalam keadaan mabuk. Ia merias wajahnya seperti badut dan menakuti Lidya yang sedang bernyanyi. Lidya terkejut dan berlari. Tante mengejarnya sampai di bawah kolong tempat tidur, lalu berlaga ingin menarik-nariknya sambil tertawa."


Satu lagi kisah kelam anak-anak Terra.


"Ayah datang. Tante berhenti dan langsung ke kamar mandi. Darren yang menyuruh Lidya keluar dari sana," lanjutnya dengan suara tercekat.


"Apa yang dilakukan Ayahmu?" tanya Virgou datar.


Darren menggeleng. Virgou memeluk Darren. Ia tak menyangka jika Ben bisa sekejam itu pada darah dagingnya sendiri.


Dokter datang dan memeriksa Lidya. Gadis kecil itu didiagnosa memiliki organic brain syndrome yakni kondisi fisik dari otak yang bermasalah yang kemudian berefek pada psikologi seseorang.


"Tenangkan dia, Nyonya. Beri dia keamanan dan kenyamanan. Mungkin tadi begitu terkejut karena tiba-tiba badut itu datang. Maka rekaman buruk dalam memori otaknya memaksa mengingat suatu kejadian buruk," jelas dokter sebelum pergi.


Semua diam. Bart menyuruh anak-anak makan karena sudah waktunya makan siang. Para orang tua pun harus memperhatikan anak-anak mereka.


"Apa tidak apa-apa, Terra bersama Lidya, Dar?' tanya Bart takut-takut.


"Grandpa, apa kau pikir aku bohongan menyayangi putriku, Lidya?" tanya Haidar dengan ekspresi cemas.


Bart memeluknya dan meminta maaf. Mereka berdua memandangi Terra yang terus memanggil Lidya.


bersambung.


Lidya ... kembali lah, Nak!"


next?