TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RESEPSI KE DUA



Hari ini, Dav kembali menggelar resepsi keduanya. Kandungan Seruni sudah menginjak tujuh bulan. Ia sengaja mengadakan resepsi ke duanya sekalian mengadakan syukuran tujuh bulanan istrinya.


Selama kehamilannya, Dav juga membawa sang istri ke dokter ortopedi untuk memeriksa tulang kakinya.


"Tulang anda sudah lama tak bengkok. Kemungkinan lemas karena anda terbiasa ditopang oleh alat, jadi syaraf dan otot kaki anda bertumpu pada benda ini," jelas dokter waktu itu.


"Saran saya, lakukan terapi anda berjalan tanpa alat untuk menguatkan semua syaraf otot kaki anda," lanjutnya.


Dav dan Seruni begitu bahagia mendengar penjelasan dokter. Seruni hanya perlu sesekali melatih ototnya. Dav melarang dia memaksa diri untuk berjalan tanpa alat.


"Sayang, jangan paksakan kakimu ya, aku nggak mau terjadi apa-apa," ujarnya penuh kekhawatiran.


Seruni terharu. Tak biasanya ia mendapat kelakuan manis itu. Kini, usahanya pun diperbesar. Beberapa rumah di sekitar tempatnya sudah dibeli oleh Dav.


"Wuih ... horang kaya mah, enak. Beli rumah seenaknya. Nggak liat tetangga yang kesusahan cari makan, bahkan harus mikir gimana bisa uang seratus ribu dipakai buat makan satu Minggu atau kalau bisa sebulan," keluh salah satu tetangga Seruni.


Dav tak peduli. Ia sudah yakin akan pindah dari tempat yang penuh dengan penyakit ini. Ia tak mau sampai gelap mata.


"Jangan pedulikan mereka, sayang," ujar Seruni menenangkan.


Dav sangat beruntung mendapat seorang wanita yang begitu kuat hatinya. Ia tak bisa membayangkan selama ini Seruni menjalani hidupnya ketika belum bersama dirinya.


"Aku beruntung mendapatkan dirimu," ujar pria itu penuh kebanggaan.


"Aku lebih beruntung mendapatkanmu," sahut Seruni juga tak kalah bangga.


Pesta resepsi diadakan setelah acara selamatan tujuh bulanan. Dav sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin janin yang ada di dalam kandungan istrinya. Ia tak mempermasalahkan apa pun itu.


Sepasang suami istri itu mengundang tiga ratus anak yatim. Sebagian adalah panti yang dikelola oleh Khasya. Wanita itu yang menjadi panitia tamu undangan. Sebelum resepsi bahkan beberapa tamu undangan datang. Mereka mengucap selamat dan doa.


"Mami, yang diperut ini cuma satu kan?" tanya Rion sambil menunjuk perut buncit Seruni.


"Iya Baby, hanya satu," jawab wanita itu sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, sehat-sehat ya Baby, jangan nakal di sana," ujarnya sambil mengelus perut Seruni.


Sedangkan Puspita juga sudah menuju bulan kelahirannya. Perutnya sudah besar, tetapi sepertinya sang bayi belum menunjukkan aktifitasnya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Rion lagi sambil mengelus dan mengecup perut dari mommynya itu.


"Ssshh ... dia bergerak Baby," jawab Puspita ketika Rion mengelus dan mengecup perutnya.


Bart yang ada di sisi Puspita menuntun wanita itu untuk duduk dan menenangkan dirinya. Virgou sibuk mengurusi semua tamu undangan yang datang. Terra yang melihat Puspita sedikit kesakitan segera menyambangi wanita itu.


"Kak?" tanyanya khawatir.


"Sudah tidak apa-apa," jawab Puspita menenangkan adik iparnya.


Khasya sudah selesai dengan acara tujuh bulanan Seruni. Wanita itu juga meminta Puspita beristirahat saja.


"Apa perlu kita panggilkan Virgou?" tanyanya.


"Tidak usah, Bunda ... aku bisa menanganinya," sahut Ita tenang.


Darren sudah bersiap-siap Anak-anak semua berada di bawah komando Rion. Mereka menuruti bayi besar itu. Budiman juga berjaga-jaga. Gomesh ikut sibuk bersama tuannya.


"Ata'Ion ... Ata'Ion!" panggil Domesh, bayi yang sebentar lagi dua tahun itu.


"Ada apa Baby?" tanya Rion.


"Pita banyi yut!" ajak batita itu.


Rion berpikir sejenak. Pemain musik kini tengah menampilkan performa terbaik mereka. Banyak orang-orang kaya di sini. Para musisi itu menampilkan yang terbaik agar dilirik oleh orang-orang kaya dan memanggil mereka untuk meramaikan pesta.


"Nanti pas mereka beristirahat ya. Kita minta Ata' Dallen yang memainkan musiknya,'' ujarnya.


"Oteh!" sahut anak-anak.


Benar saja, musik dan penyanyi begitu mengeluarkan kebisaan mereka. bahkan tembang-tembang teranyar mereka perdengarkan. Tapi, tak ada satu pun orang bertepuk tangan.


Akhirnya, mereka beristirahat. Hal itu dipergunakan oleh Rion. Dia tak perlu melatih anak buahnya untuk melakukan pertunjukan yang hebat.


Satu skenario drama sudah didiskusikan. Anak-anak berusia balita akan mempertunjukkan suara mereka.


"Balo ... pemamat sian halidin pemuana!"


Semua tamu menoleh. Senyum lebar tercetak di wajah para tamu undangan.


"Beultenal tan ... mana atuh Domesh Juniol, atuh atan banyi tan ladhu puat Papi Baf!" ujarnya lalu menundukkan kepala.


Semua bertepuk tangan sambil menahan tawa mereka. Lagu anak-anak berjudul "Kasih Ibu" berputar.


"Pasih Bibu ... pedat peta ... tat pelindah pepanjan masa ... banya bembeli pat lalap belani .. badai san bulya ... penilani bumiya!"


Semua terbahak mendengar lagu yang berubah mendadak itu. Domesh makin asik menggoyangkan pinggulnya. Seruni terduduk lemas karena tertawa. Sriani yang juga diundang baru pertama kali melihat keseruan itu. Ia pun antusias berada di depan panggung dan memberi tepukan dan ikut bergoyang. Musik kembali dimulai. Gisel juga ikut bernyanyi..


"Basih ... pibu ... pedata peta ... tat belindah pelanjan pasa ... banat belembi ... palalap tembali ... padai san sulya meminali pumiyaaa!"


Lagu selesai semua bertepuk tangan meriah. Para pemusik mulai terancam. Mereka mencoba ingin kembali menguasai panggung yang mendadak penuh penonton.


Sang pemain keyboard nampak berbicara pada MC acara.


"Pak, bisa dialihkan acaranya kembali pada kami?"


MC itu pun mengangguk. Ia tiba-tiba mengambil mic.


"Terima kasih adik. Sekarang biar para kakak musik yang kembali bertugas ya," pinta MC.


"Siapa yang berani mengusik anak-anak di panggung akan berurusan dengan ku!" tekan Budiman.


Pria itu ada di sana. Tengah mengamati suasana. MC itu menelan saliva kasar. Budiman menatap tajam pada pria yang berpakaian dengan warna mencolok itu.


Tiba-tiba seorang tamu menyela.


"Biarkan anak-anak menghibur kami. Yang tadi suruh pulang aja!"


Rion di atas angin. Ia meminta Benua kini memperlihatkan kemampuannya menggoyang panggung. Satu lagu dangdut berjudul "Begadang" menjadi pilihannya.


"Bedadan janan bedadan ... talo piada ahilna ... bedadan poleh paja aaa ... talo ada beluna ..."


Benua menggoyangkan pinggulnya. Virgou yang mendengar lagu dangdut sangat antusias ia kini juga ikut bernyanyi bersama Benua.


"Kalau kau banyak bergadang muka pucat karena darah berkurang ... kalau kena angin malam maka penyakit pun akan cepat datang ...."


"Palilah ipu sayani padan ... janan bedadan petiap balam .... pohaa!" Benua melanjutkan nyanyian Virgou.


Puspita terpingkal melihat kelakuan sang suami. Hingga tiba-tiba ia mulai merasakan kontraksi.


"Aarrgh!"


"Sayang!" teriak semuanya.


Puspita makin terkikik geli. Ia yakin jika semua tamu akan bingung sekarang.


Herman langsung menggiring Puspita ke mobil, begitu juga Virgou.


"Baby, hibur semua tamu ya," pinta Virgou pada Rion.


"Oteh Daddy!" sahut Rion sambil melakukan gerakan hormat yang diikuti semua anak-anak.


Rion kembali menghibur semua tamu. Seruni sedikit khawatir, tetapi Khasya menenangkannya.


"Sudah, kita berdoa akan kelancaran lahirnya baby ya," Seruni mengangguk.


Dua jam berlalu. Pesta sudah usai. Kini semuanya mengunjungi Puspita. Seorang bayi laki-laki tampan beriris biru kembali hadir ditengah-tengah keluarga.


"Grandpa saja yang namai bayinya," ujar Virgou pada Bart.


"Namanya Muhammad Harun Black Dougher Young!"


bersambung.


Welcome baby Harun!


next?