
"Piya ... penata badha nayis ya?' tanya Bomesh bingung. "Tan padi Bomesh uendat padi banyi bandul."
Semua tersenyum lebar mendengar protes dua bayi itu. Nai mencari lagu, ia mengajak Arimbi ikut nyanyi bersama. Sebuah lagu dangdut "Perawan atau janda"
Musik dimulai. Dua gadis cantik itu bergoyang pinggul. Herman melotot terlebih Haidar. Ia ingin menghentikan semuanya. Tapi, melihat senyum yang terbit di wajah Lidya, ia pun urung melakukannya.
"Abang pilih yang mana
Perawan atau janda?
Perawan memang menawan
Janda lebih menggoda ...."
Arimbi bernyanyi centil sambil mengedipkan matanya. Ia menggoda Gomesh. Pria itu menganga lebar. Nai kini bergiliran nyanyi, ia mencolek dagu Budiman.
"Abang pilih yang mana
Perawan atau janda?
Perawan memang cantik
Janda lebih menarik ...."
Para bayi ikut bergoyang pinggul. Kean dan Cal ikut bergoyang dengan Nai dan Arimbi.
"Hai, neng ... godain Abang dong!' pinta Kean genit.
"Astaghfirullah!' sahut Khasya menyebut.
Safitri tertawa terbahak-bahak. Ia pun maju ikut bernyanyi bersama dua adik cantik itu. Ia pun menyanyikan lanjutannya.
"Abang pilih yang mana
Perawan atau janda?
Perawan memang cantik
Janda lebih menarik ...."
Saf menggoyang bahunya dengan mata dikedipkan pada Darren. Pria itu tersenyum lebar. Aini memilih menyingkir.
Kaila dan Maisya tak mau kalah. Mereka juga menyanyikan lagu tersebut. Virgou akhirnya pun ikut berjoged. Harun, Azha, Ari dan Ara terbangun karena kehausan. Khasya dan Terra masuk ke kamar, begitu juga Seruni dan Gisel. Mereka tak mau ikutan gila dengan suami mereka.
Nai dengan berani menggoda Dominic.
"Kalau abang pilih janda
Sudah pasti lebih dewasa
Sudah bermain cinta
Banyak pengalamannya!"
Dominic tertawa terbahak-bahak. Lidya yang tadinya sedih akhirnya ikut masuk acara. Gadis itu juga bernyanyi. Ia berjoget centil dan menggoda Herman, Haidar dan Virgou bersamaan.
"Abang pilih yang mana
Perawan atau janda?
Perawan memang bohai
Janda lebih aduhai!"
Suasana makin seru. Anak-anak balita tak mau kalah ikut bernyanyi.
"Apan bilih yan pana ... belawan aba panda .... belawan meman banis, panda bebih beunalit!'
"Astaga ... bisa kau hentikan ... perutku sudah kram!" ujar Bart sudah kepayahan menahan tawanya.
Aini sedikit lega karena dari tadi ia memang hanya menikmati keseruan saja. Sedang dua adiknya ikut berjoged.
Lagu perawan atau janda selesai. Kaila ingin bernyanyi lagu India. Tum Hi Ho.
Suara gadis itu sangat merdu. Semua bergoyang mengikuti irama lagu. Bahkan Darren mulia menggila. Ia menari balet.
"Eh, dari tadi kita aja yang nyanyi, gantian yang cowok dong nyanyi!' pinta Saf.
"Kita mulai dari Ata' Dallen aja dulu ya," lanjutnya lalu tersenyum jahil.
Darren sedikit berpikir, lalu ia pun mengangguk tanda setuju. Sebuah lagu romantis milik Admesh, cinta luar biasa.
"
Waktu pertama kali
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu!"
Suara indah Darren membius semua orang termasuk Saf dan Aini. Aini tak menyangka jika Darren memiliki suara sebagus itu.
Pria itu menyorongkan miknya ke depan Bomesh. Sepertinya bayi itu hapal dengan lagu tersebut.
"Pelimalah ladhu imi, dali olan piasa ... Pati pintatu badamu luan piasa ... atu tat bunya buna ... atu tat bunya balta ... yan tu bunya banya bati yan petia ... bulus badamu ...."
Semua menahan tawanya. Budiman menggaruk kepala ketika sebuah lagu indah berubah makna dan artinya gara-gara seorang balita yang menyanyikannya.
Hari sudah menjelang malam. Usai makan malam. Safitri pamit, semua anak sedikit sedih ditinggal oleh gadis itu terutama Lidya dan Rion. Demian sudah pulang setelah Maghrib. Semua keluarga sepakat untuk menggelar acara pernikahan setengah tahun paling lama, tiga bulan paling cepat.
Terra dan Haidar mengantar Saf dan Aini ke mobil milik bidan itu. Lalu kendaraan bergerak meninggalkan halaman mansion Virgou.
Haidar memeluk istrinya. Ia bahagia, walau ada drama ketika Demian melamar Lidya. Pria itu masih merasa sanggup untuk menjaga anak gadis itu.
"Jangan menolak jodoh yang datang. Demian orang baik, bahkan bacaan Qur'an nya juga bagus," ujar Terra menenangkan suaminya.
"Iya sayang, aku hanya berpikir Lidya masih kecil. Padahal dia adalah anak gadis yang memang seharusnya menikah," ujar Haidar.
"Semoga semuanya lancar hingga akad ya," harapnya.
"Aamiin!"
Terra mengamini doa suaminya.
"Sayang, menurutmu bagaimana dengan Safitri. Jarang-jarang loh Rion lengket sama orang lain, padahal bayi kita itu baru kenal dengan Saf?" tanya Terra meminta pendapat.
"Saf, anak baik. Bahkan semua anak sangat dekat dengannya dan berani bermanja. Maaf, bukan aku membedakan dengan Aini. Tetapi, kedekatan Saf dengan anak-anak kita membuat ku condong dengan gadis bongsor itu," jawab Haidar panjang lebar.
Terra mengangguk setuju. Dulu, dengan Seruni, anak-anak memang lengket tapi tidak Rion.
"Mungkin karena Darren adalah kakak kandung Rion. Jadi ia merasa kakaknya akan baik-baik saja ketika bersama Safitri," jelas Haidar lagi seakan membaca pikiran istrinya.
Terra tersenyum. Mereka masuk mansion. Ternyata semua sudah masuk kamar masing-masing. Terra dan Haidar pun masuk kamar di mana dua anak kembarnya yang baru berumur empat bulan berada, keduanya terlelap. Haidar gemas dengan pipi keduanya yang bulat dan pahanya yang montok.
"kalian sehat terus ya sayang," doa pria itu lalu mencium satu persatu bayinya.
Terra sudah merebahkan diri. Haidar menyusul dan memeluknya.
"Sayang," panggilnya dengan suara serak.
Terra sangat paham keinginan sang suami. Ia pun berbalik dan menerima semua apa yang dilakukan pria itu padanya, bahkan sesekali ia membalas perbuatan sang suami lebih panas.
Di tempat yang berbeda. Dua pria tengah melamun. Demian dan Darren. Jika Demian memikirkan pernikahannya sedang Darren memikirkan hatinya. Ia ingin memastikan dan tak mau mengulang kesalahan ketika ia menyukai Aini dulu.
Terra dulu pernah memperingati pria itu untuk melihat gadis lain. Karena pasti ada yang jauh lebih cantik. Tapi, dulu memang ia suka pada Aini, padahal banyak gadis yang tak kalah cantik.
"Kenapa aku jadi plin-plan gini?" tanyanya gusar. "Kok aku kek playboy yang suka berpindah hati dengan cepat?"
Ia menghela napas berat. Pria itu memang tak lagi merasakan detak yang sama pada Aini. Tapi, pada Saf. Naluri prianya bekerja. Sungguh, ia begitu menikmati ketika memeluk gadis bongsor itu.
"Bibirnya sepertinya manis," gumamnya lalu tiba-tiba ia langsung beristighfar.
"Kemarin dengan Aini, menyentuhnya saja aku gemeteran padahal cuma pegangan tangan. Sama Saf kok aku pengen lebih?" tanyanya lagi-lagi gusar.
Darren pun menutup jendela dan beralih ke sudut ruang. Di sana ada mushaf Al-Qur'an. Pria itu masih terjaga wudhunya. Karena selesai isya pria itu langsung masuk kamar.
Perlahan ia membuka benda berukuran kecil itu, lalu perlahan ia membaca ayat demi ayat penuh dengan kekhusyukan.
bersambung.
oh ... othor judha pawu bilaman don? 🥺🥰
next?