TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DARREN



Sepulang dari ngaji. Darren banyak termenung. Virgou mendekatinya. Membelai sayang kepala putra dari mendiang pamannya itu.


"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Virgou lembut.


"Daddy," panggil Darren lirih.


"Iya, sayang," sahut Virgou.


"Apa benar keputusan Darren menolak lomba?" tanyanya lagi.


"Semua keputusan di tangan kamu, Nak. Menurut Daddy, sayang sekali jika kau melewatkan kesempatan ini," jelas Virgou menjawab pertanyaan Darren.


"Maksud Daddy?" tanya Darren belum paham.


"Benar kata Daddy mu. Lomba ini adalah kesempatan kamu belajar, seperti kata Mommy Puspita tadi," sahut Herman menimpali.


Darren terdiam. Ia sedikit merenung. Hatinya masih berat untuk mengikuti lomba itu. Ia tidak rela jika pahala mahkota itu untuk ibu kandungnya Firsha.


"Bagaimana kau kesampingkan saja pahala yang akan kau dapat," sahut Haidar memberi pendapat.


Darren menatap ayahnya. Ia masih ragu dengan semuanya.


"Sayang, jangan mengejar pahala untuk melakukan kebaikan. Walau kita berharap pahala itu. Bukankah semua ibadah kita Allah yang terima? Jadi siapa tahu salah satu ibadah kita tidak diterima Allah," jelas Haidar.


Darren masih setia dengan bungkamnya. Pria kecil itu masih belum rela. Ia hanya berpikir janji Allah itu pasti. Maka semua apa yang dia lakukan pasti akan mendapat ganjaran untuk kedua orang tuanya.


"Sudah jangan pikir macam-macam. Kami semua menghargai apa pun keputusan kamu, Sayang. Ayah, Papa dan Daddy kamu mendukung semua yang kau lakukan selama itu dalam jalan kebenaran," sahut Herman memberi penenangan.


"Iya, semua terserah Darren. Tapi, jika kau minta pendapat Daddy ya,.sayang sekali jika kau melewatkan itu, Nak."


"Makasih, Papa, Daddy, Ayah atas saran dan dukungannya. Nanti Darren akan istikharah dulu. Buat meyakinkan diri untuk ikut pertandingan itu," ujar Darren mengucap terima kasih.


Virgou mencium lembut pucuk kepala Darren. Pria kecil itu pun bergegas ke kamar. Mereka telah shalat isya jamaah. Herman dan Haidar juga mencium kening putra mereka itu.


Terra tersenyum. Ia sangat terharu. Wanita itu selalu mendoakan yang terbaik untuk kesemua anak-anaknya. Khasya dan Puspita juga berdoa yang sama dengan Terra.


Pagi menjelang Rion menatap adik-adiknya yang juga menatapnya penuh minat. Semuanya melempar senyum pada Rion.


"Assalamualaitum baby-baby spemuana. Pemamat padhi!" sapanya.


"Apa talian sudah mandi?" bayi-bayi itu hanya mengangguk dengan sambil tersenyum lebar.


"Baba ... baba ... baba!"


"Soli ... Ata' Ion butan Baba. Tapi, Ata'!" ralatnya pada bayi-bayi tersebut.


"Apat!" bayi-bayi itu mengulang bahasa Rion.


Balita mau tiga tahun itu berpikir keras. Akhirnya mengangguk setuju.


"Ayo kita oke-oke!" ajaknya.


"Daddy!" panggilnya.


"Iya, Baby!" sahut Virgou.


"Ion mau oke-oke sama Baby memua!" pintanya.


Pria itu pun langsung memasang karaoke yang dibeli Bram waktu itu. Gisel datang bersama David membawa banyak makanan.


Budiman ikut masuk ketika Gisel datang.


"Hai," sapanya pada gadis pujaannya.


Wajah Gisel bersemu merah. ia menunduk malu. Budiman hanya tersenyum melihat gadis itu. Pria itu tak bisa berbuat lebih selain memandangi kecantikan Gisel.


Baik Virgou, Haidar, Herman dan David hanya memutar mata mereka malas.


"Dasar CEO bucin!" ledek Haidar.


Ledekan itu tentu tak ditanggapi oleh Budiman. Gisel hanya bisa tersenyum lebar. Semuanya memang menggoda mereka. Tapi, gadis itu tahu jika mereka semua mendukung percintaan Gisel dan Budiman.


"Ion mau banyi!" pekik Rion di depan mik.


Semua bertepuk tangan. Gomesh yang baru datang juga tengah menikmati cemilan yang dibawa oleh Gisel tadi.


Rion menyerahkan mik pada baby Satrio. Bayi itu hendak melahap mik itu. Virgou langsung mencegahnya.


"Baba ... no!" pekik baby Satrio galak.


Virgou tergelak. Ia pun makin sengaja memainkan mik. Hingga Satrio merebut mik itu.


"Baba, no!" pekiknya lagi.


Virgou menciumi bayi montok itu. Satrio jadi tergelak. Ia selalu berkata ''no". Mik dipegang oleh Kean. Balita itu mulai bersuara.


"Hebeluebkau ... heleiahbnmejanma ... Imnsunalaj euammabuncskkkwhjnlllaunayi ...."


Rion bergoyang mendengar suara baby Kean yang tidak sesuai musik. Semua tertawa. Rion malah marah.


"Banan petawa!"


Semuanya melipat bibir mereka ke dalam. Mik kini berada dalam genggaman Sean. Nyaris sama bahasa yang bayi itu gunakan dengan saudaranya Kean. Semua bayi dapat jatah nyanyi. Begitu juga ketua regu mereka, Rion.


"Bulun patak pua ... binggap dibendela ... penek sudah tua ... bidinya pindal duwa ...."


"Ped dun ... ped dun ... ped dun palala ... ped dun ... ped dun ... ped dun ... palala ... ped dun palala ... ped dun ... ped dun ... ped dun ... palala ... bulun patak pua!"


Semua bertepuk tangan dengan meriah. Rion membungkuk hormat. Lidya sudah terlelap dalam pangkuan Puspita sedang bayi-bayi mereka setia membuka mata bersama komandan mereka, Rion.


Sedang di dalam kamar Darren. Tampak pria itu mengaji. Hati kecilnya masih diselimuti oleh keraguan. Setelah pergolakan batin. Ia pun mengambil air wudhu. Membentang sajadahnya lalu mulai istikharah.


Tetes demi tetes air mata mengalir dari pelupuk matanya. Pria kecil itu benar-benar pasrah pada sang maha pencipta. Setiap sujudnya ia terisak. Hingga salam dan menutup dengan doa.


"Ya Allah. Engkau lah Yang Maha Tahu segala yang hamba tidak ketahui. Engkaulah pemberi segala nikmat dan cobaan yang hamba jalani."


"Ya Allah. Kuatkan diri hamba untuk mengikuti lomba ini. Bukan maksud untuk pamer. Hamba ingin lebih banyak belajar dari banyak guru. Hamba ingin lebih baik setiap membaca kitab-Mu. Hanya kepada-Mu hamba berserah. Tetapkan hati hamba wahai Engkau Sang Pemilik Hati manusia. Aamiin."


bersambung.


Aamiin.


next?