
Hari Berlalu. Waktu berganti. Semua kembali pada kesibukannya masing-masing. Leon telah pulang kembali bersama dua anaknya ke Eropa.
Sedangkan Bart, Frans juga Virgou berada di perubahan cyber yang didirikan Terra. Betapa bangganya Bart mengetahui perusahan pengolahan pengamanan data bisa sebesar ini.
Mereka kini duduk di sebuah ruangan customer service. Di sana ada Puspita. Gadis berdarah campuran, ayah Minang dan ibu Aceh.
Virgou yang memang sengaja menebar pesona pada gadis ini, begitu intens menatap sosok yang kini tengah menjelaskan beberapa keunggulan produk yang mereka tawarkan.
"Lalu apa kelemahan data ini?" tanya Frans dengan mata yang terus lekat pada wajah gadis berbentuk oval itu.
Sedang Virgou hanya menatap bibir berlipstik warna pink yang terus bergerak.
Sedang Puspita sudah setengah mati menahan semua rasa yang bergejolak dalam dirinya. Tiga pria tampan dengan pesona luar biasa. Walau usia mereka separuh dari usiannya. Tetapi, gadis itu bisa meleleh hanya senyuman tipis yang diterbitkan oleh tiga pria itu.
"Kelemahan dari data ini adalah manusia lemah, serakah, pengkhianat dan kemaruk," jawab Puspita tegas.
Bart mengangguk puas. Ia setuju dengan gadis berkulit kecoklatan di depannya. Jika sistem sudah secanggih ini masih bisa kecolongan, berarti ada yang salah. Kesalahan itu dari manusia yang dibilang gadis itu tadi.
"Baiklah, saya ingin berkas cara kerja sistem ini. Apa bisa?' tanya Bart.
"Bisa Tuan. Anda tinggal memanggil tenaga ahli anda dan melakukan kompetisi untuk menyerang data kami," tantang Puspita sambil tersenyum ramah.
"Kompetisi ... apa?"
"Iya, kami mengadakan kompetisi bagi semua perusahaan yang ingin melihat sistem kerja data kami. Siapa yang bisa masuk dalam Shield awal yang kami buat. Kami akan beri reward seribu dolar," jawab Puspita masih dengan senyum ramah.
"Lalu, apa kerugian kami jika kami ternyata gagal memasuki data perusahaan ini?" tanya Bart penasaran.
"Ucapkan selamat tinggal pada akun data anda," jawab Puspita singkat padat.
Bart, Frans dan Virgou menelan saliva mereka. Sebegitu berbahayakah sistem yang diciptakan oleh perusahaan ini?
'Pantas saja Jepang sangat tertarik bekerja sama dengan perusahaan cyber ini. Tekhnologi mereka lebih canggih. Tapi, jika tidak dilengkapi dengan kekuatan perlindungan data perusahaan. Maka sia-sia.
"Apa ada korban selama ini?" tanya Frans ingin tahu.
"Perusahaan Nagoya Tech. harus merombak semua sistem mereka dari awal, hingga terjadi pemecatan besar-besaran. Tuan bisa melihat beritanya di internet," jelas Puspita.
Gadis ini sangat tahu sifat-sifat orang Eropa. Mereka berdiri terlalu angkuh memandang kulit lain dari kasta rendah. Berbeda dengan mereka yang berkulit putih, terlebih memiliki rambut pirang dan mata biru.
Rambut Bart yang keperakan dan iris biru, menandakan jika pria itu salah satu penganut paham rasisme.
Benar dugaan Puspita. Pria itu tak langsung percaya dengan berita yang keluar dari mulut seorang karyawan biasa darinya. Terlebih hanya seorang cs.
Bart menyalakan ponsel untuk mencari kebenaran berita itu. Benar saja. Berita yang menjadi trending lima bulan lalu masih bercokol di tajuk utama sebuah berita bisnis. Sampai sekarang perusahaan itu masih memperbaiki sistem data mereka secara menyeluruh.
"Apa Tuan masih ingin bukti lebih kuat lagi?' pancing Puspita kembali bertanya.
"Ah ... emm ... tidak, saya percaya," jawab Bart gugup.
Virgou bertepuk tangan salut terhadap Puspita. Begitu salutnya sampai ia berdiri sambil bertepuk tangan.
"Kau luar biasa. Caramu mengendalikan diri, jawabanmu yang lugas juga terarah. Pandanganmu juga penilaian mu terhadap seseorang, sungguh luar biasa," pujinya.
Frans mengangguk setuju. Dari tadi Pria itu memperhatikan gestur gadis itu. Bagaimana cara dia menahan semua hasrat dari dalam diri gadis itu. Bahkan mampu berdiri dengan dengan dada terbuka dan kepala tegak.
Selama ini ia berkeliling mengunjungi berbagai perusahaan, bertemu dengan customer service atau resepsionis. Semuanya akan terkulai bahkan diantaranya berdesah dengan mata berkabut gairah ketika menatap pria bule itu.
Sedangkan di depannya, sosok gadis bertubuh sedikit kekar, jika dilihat high heels yang tingginya mencapai tujuh centi. Frans memperkirakan tinggi gadis itu kurang dari 160cm. Gadis dengan name tag Puspita H.. Frans tidak tahu apa kepanjangan H. di belakang nama gadis itu.
"*M*ungkin itu nama ayahnya," pikir Frans.
Gadis itu mampu mengendalikan dirinya. Bahkan bisa membungkam telak kesombongan mereka. Seakan mengatakan jika Puspita adalah gadis yang sangat berpengalaman dengan apa yang dikerjakannya.
"Aku salut dengan penjelasan mu, Nona ...." Frans menggantung perkataannya.
"Puspita, panggil saya Puspita, Tuan," saut Puspita sambil mengangguk sopan.
"Kak Ita!" Puspita menoleh.
Terra tersenyum lebar. Terlihat binaran kebanggan terpancar dari mata wanita itu. Terra sangat yakin akan kemampuan gadis berusia dua puluh dua tahun itu.
"Nona," panggilnya.
"Dia yang terbaik, selama aku menemui seorang customer service," jawab Bart sambil memuji karyawan cucunya itu.
"Baiklah. Dua minggu lagi Leon datang membawa surat kerja sama. Aku juga ingin memiliki saham perusahaan cyber ini. Kata Virgou, kita harus berani membayar tinggi?' Terra hanya tersenyum.
"Sudah waktunya makan siang. Ayo," ajak Terra pada ketiga pria tampan itu tanpa menjawab pertanyaan kakeknya.
"Hei ... kau tak menjawab pertanyaan ku?!" jawab Bart kesal sambil menggandeng lengan Terra.
"Saham perusahaan ini dijual di pasar saham, Grandpa bisa membelinya bebas di sana. Jangan mau dibohongi sama Kak Virgou!" ucap Terra sambil meledek Virgou.
"Hei kau!" sela pria itu tak terima.
Frans menatap lekat gadis yang masih berdiri menunggu tamunya keluar, baru ia akan keluar makan siang.
"Terima kasih atas penjelasan luar biasa tadi," ucap Frans sambil mengulurkan tangannya.
Puspita membalas uluran tangan itu dan menjabatnya.
"Sama-sama, Tuan. Senang bisa bekerja sama dengan anda," ucap Puspita formal.
Frans terkekeh. Sikap formal gadis itu bertolak belakang dengan tangan dingin berbalut keringat yang kini dalam genggamannya itu.
Pria itu melepas jabatannya. Kemudian melangkah lebar menyusul tiga orang tadi. Sepeninggalan semuanya. Puspita langsung terduduk lemas.
Gadis itu meraba detak jantungnya yang tadi berlompatan seakan ingin keluar dari sarangnya. Ia merasa basah pada benda yang ia pakai di dalam sana. Ia pun berdecak.
"Masih aja mesum otak gue!' sungutnya kesal.
Ia pun menghentakkan kaki. Mengganti sepatu dengan sendal jepit. Bergegas pergi ke kantin. Perutnya sudah meronta minta di isi.
Tak lama kemudian ....
Sudah waktu tiba jam pulang kantor. Semua orang berhamburan segera ingin pulang melepas lelah, begitu juga Puspita.
Gadis itu ke bilik ganti. Mengganti rok span biru di bawah lutut dengan celana jeans yang dengkulnya sedikit sobek. Memakai jaket jeans belel dan mengambil helm.
Perawakan manis dan lembut berubah menjadi bar-bar dan cuek. Gadis itu juga mengganti sepatu haknya dan ia simpan dalam loker, menggantinya dengan sepatu slop warna hitam.
Gadis itu melenggang ke laur gedung yang telah memperkerjakan dirinya selama nyaris satu tahun ini.
Ketika ke halaman parkir ia bertemu dengan Boss beserta tiga pria tadi.
"Kakak!" panggil Bossnya.
"Nona," sapanya sambil mengangguk hormat pada pria di belakang Terra.
Frans terperangah sedang Virgou langsung tersenyum terpukau.
"Menarik," pikirnya.
"Kakak naik motor lagi?' tanya Terra sambil berjalan menuju kendaraan masing-masing.
"Benar, Nona," jawab Puspita.
Frans, Bart dan Virgou makin terperangah dengan kendaraan yang akan dinaiki Puspita, sedang Terra biasa saja.
Sebuah motor trail melesat pelan ketika Puspita melaju di depan mereka. Gadis itu pun pamit.
"Mari, Tuan-tuan, Nona!"
Lalu ...
Brum! motor itu melesat kencang meninggalkan kantor.
bersambung ...
Boss nya aja kek gitu ... masa karyawannya biasa aja ... beda cerita dong ... Yee kan?
next?