TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KELUARGA



"Daddy latsasa nayis ... wawoh ... dala-bala Daddy," tuduh Rion pada Virgou.


"Apa kau bilang?' Virgou tak terima.


Pria itu langsung menghukum Rion dengan menciuminya. Rion sampai tergelak. Lidya yang masih menenangkan Gomesh, mulai mengurai pelukannya.


"Om pidat apa-apa?" tanya Lidya.


Gomesh pun mengangguk. Pria itu jadi tenang setelah dipeluk Lidya. Ia sangat terpukau dengan kekuatan dari pelukan gadis kecil itu. Tiba-tiba.


Cup!


Lidya mencium pipi Gomesh. Lagi-lagi pria besar itu menangis. Baru kali ini ia mendapat kecupan begitu tulus. Dan itu ia dapatkan dari seorang gadis kecil yang baru berusia empat tahun.


"Syuhdah ... eundat usyah nayis teyus," ujar Lidya menasehati.


"Tan, Om ... syiapa namana?" tanya Lidya.


"Nama saya Gomesh, Nona," jawabnya sambil mengusap air matanya.


"Om Domesh ... halus dadhi olan tuat ... bial bisya linduni Daddy," saran Lidya lagi.


"Baik, Nona," sahut Gomesh tegas.


"Oh, Nona, kau cantik sekali. Mau kah kau jadi kekasihku?" pinta Gomesh.


"Kau cari mati!" pekik Virgou dan Budiman bersamaan dengan tatapan horor.


Gomesh tertawa. Ia langsung merasa ia berada di tengah keluarga. Pria yang masa kecilnya sengaja diletakkan di depan gereja dulu oleh keluarganya. Memberinya bekal pisau dan menyuruh ia memaksa orang memberinya uang. Jika ia gak mendapat uang. Ia akan dihukum cambuk dan tidak boleh makan.


Ia tumbuh di area yang sangat keras. kembali dibuang di pangkalan mafia. Virgou yang menemukannya. Ia menjadikan pengawal dengan mengirimnya ke sebuah perusahaan SavedLife yang khusus membina para pria yang ingin menjadi pengawal. Selama tiga tahun penuh ia belajar dengan tekun. Kekuatannya jangan ditanyakan lagi.


Pria besar itu bisa merobohkan bangunan kecil hanya dengan satu kali tendangan saja.


"Ayo, princess. Kau harus ganti baju. Bajumu kan basah," ajak Virgou.


Lidya pun mengikuti Daddy-nya masuk. Gomesh menatap Budiman. Dua pria itu saling pandang dengan tatapan tajam. Tentu tidak ada yang menang atau pun kalah.


"Kak Budi!' panggil Terra.


"Ya, Nona!"


"Ngapain kalian berdua? lagi saling naksir ya?" tuduh Terra.


"Ih amit-amit!" seru keduanya langsung memutuskan pandangan keduanya.


Terra tertawa terbahak-bahak. Ia pun meninggalkan mereka setelah berhasil menggoda keduanya. Budiman hanya menghela napas panjang.


Gomesh menepuk bahu Budiman. Jujur ia iri dengan klien yang Budiman dapatkan.


"Kau beruntung sekali," ujarnya iri.


Budiman hanya tersenyum penuh kemenangan pada Gomesh. Hingga pria itu berdecih.


"Ya, aku memang beruntung," sahut Budiman setuju.


Mereka kembali bercengkrama. Sedang di dalam mansion Rion kembali berbuat ulah. Ia mengambil lipstik milik Puspita dan mengaplikasikannya di bibir Daddy-nya. Virgou hanya pasrah.


Puspita tertawa terpingkal-pingkal melihat sang suami diberi gincu oleh Rion. Virgou menatap mesum istrinya. Puspita langsung bungkam.


'Ah, alamat gue nggak tidur nih, ntar malam," keluhnya dalam hati.


Terra yang melihat Puspita tak berkutik ketika ditatap kakaknya. Langsung tertawa tertahan. Ia tak mau mendapat hukuman dari suami juga kakaknya.


Puspita mengerucutkan bibirnya. Akhirnya Terra mengajak kakak iparnya itu masak untuk makan malam.


Keduanya ke dapur. Dibantu Nunik dan Inah. Mereka memasak dengan segenap hati.


Waktu berlalu, malam pun berlanjut. Semuanya sudah tidur dalam kamarnya masing-masing. Darren sudah memiliki kamarnya sendiri di mansion ini.


Hanya Lidya dan Rion yang masih tidur dengan ayah dan ibunya. Haidar memeluk Terra dan memberinya ciuman mesra. Wanita itu tersenyum. Mereka pun saling memagut.


Sedangkan di kamar Virgou. Suasananya lebih panas. Puspita terus mengerang nikmat di bawah kukungan suaminya. Virgou tak memberinya ampun, setelah sang istri berani mentertawakan dirinya ketika Rion memberinya lipstik pada bibir pria itu.


Sedang di luar, semua pengawal bertugas mengitari halaman. Budiman mendapatkan kamarnya. Gomesh juga sedang beristirahat. Sedang di kamar lain. Inah tengah mengaji. Setelah usai, ia menutup mushaf dan menciumnya, kemudian diletakkan di atas nakas.


Merebahkan diri. Mencoba menutup mata. Ia merasakan perbedaan antara perlakuan Terra dengan Puspita. Keduanya sama-sama baik. Tetapi, ia merasa nyaman ketika bersama Terra.


"Apa bawaan Nyonya Terra seperti itu yaa?' tanyanya.


Ia pun menggeleng menghalau semua pikiran buruknya. Membaca doa sebelum tidur. Ia pun kemudian terlelap tanpa lagi harus berjibaku emosi dengan Herni.


Hari berganti, pagi pun datang. Sarapan pagi terhidang. Tim pengawal juga mendapat sarapan. Virgou bilang Terra terlalu memanjakan pekerja. Terra menggeleng.


Gabe datang pagi-pagi. Ia marah-marah karena tidak ada yang bilang jika pada berkumpul. Virgou menjitak adiknya itu.


"Sembarangan kamu ngomong. Liat ponselmu, bodoh!'


"Kak!" tegur Terra.


Virgou melipat bibirnya ke dalam. Pria itu lupa ada anak-anak. Lagian adiknya ini duluan yang memberi masalah. Gabriel hanya tersenyum kikuk.


"Makanya yang di kantung celana itu ponsel. Jangan kondo ...."


"Kak!" seru Terra lagi sambil melotot.


"Hais!'


Gabe tertawa melihat keputus asaan Virgou. Ia pun meledek. Lalu dengan manja, Gabe meminta suap oleh Terra.


"Tak tau umur!" sengit Haidar dan Virgou bersamaan.


"Ck, apa sih kalian!' sengit Terra.


Keduanya hanya bisa mendengkus kesal. Sedang anak-anak tengah bermain tebak-tebakan bersama Puspita.


"Mommy Ita. Janan syusyah-syusyah!' protes Lidya.


"Oh, sorry. Tapi ini mudah kok. warnanya hijau, dia suka melompat. Namanya apa ayo?'


Darren hendak menjawab benar, tapi ia pasti dimarahi dua adiknya. Maka ia pun menjawabnya dengan salah.


"Kelinci!'


"Ah ... Kakak salah. Kelinci memang melompat tapi, warnanya kan nggak hijau," sahut Puspita.


"Patat!" seru Rion.


Virgou menyemburkan air yang diminumnya. Haidar tersedak. Terra tertawa terbahak-bahak. Rion pun melotot pada ibunya. Terra langsung diam menahan tawa.


Sedangkan Virgou dan Haidar hanya membuang muka, agar tidak melihat wajah lucu Rion.


"Nah, Rion benar. Beri tepuk tangan!' semua bertepuk tangan.


Rion bangga dia benar menjawab Walau bahasanya salah. Lidya cemberut. Gadis kecil itu belum menjawab satu pun pertanyaan.


"Oke sekarang pertanyaan terakhir. Yang tau harus tunjuk tangan yaaa," mereka mengangguk antusias kecuali Lidya.


"Hewan apa yang punya kantung di dadanya dan jalannya melompat?"


Darren lagi-lagi hendak menjawab, tapi melihat kedua adiknya berpikir keras. Ia pun ikut-ikutan berpikir. Rion sangat menggemaskan. Bibirnya mengerucut dengan dahi berkerut. Tanganya ia topang ke dagu sambil mengusap pipi chubby nya dengan jari telunjuk.


Sedang Lidya, ia tahu binatang itu. Gambarannya sudah jelas diingatkannya. Sayangnya, ia lupa namanya.


"Tan ... tan ... tanulu!" pekik Lidya akhirnya.


Puspita bertepuk tangan. Jawaban Lidya benar. Semua ikut bertepuk tangan. Lidya akhirnya kembali tersenyum.


"Hei, kalian tidak main bola di luar?" tanya Virgou.


"Darren kurang mahir main bola, Dad," jawab Darren sambil meringis.


"Kenapa wajahnya begitu? Ada apa?' tanya Virgou ketika melihat wajah Darren ada kenangan buruk tentang bola.


Haidar menceritakannya. Betapa marahnya Virgou mendengarnya. Ia sampai mengeraskan rahang hingga berbunyi gemerutuk karena gigi diadu.


"Kemari lah sayang," ucap Virgou memanggil Darren.


Darren mendatangi Daddy-nya. Ia pun dipeluk oleh pria yang dulu paling menakutkannya.


"Kau adalah pria kuat. Daddy yakin, kau anak pemberani. Lain kali jika ada kejahatan. Jangan kau simpan sendiri ya," saran Virgou.


Darren mengangguk. Gabe ke ruang keluarga. Ia menyalakan karaoke. Lalu mengambil mik.


Rion yang mendengar musik langsung berhambur ke tempat itu. Semua harus siap menahan perut.


"Pit pit pit puni bujan pidatas pentin. Bailnya pulun pidat pelila ... pobalah benot tahan dan bantin. Ponon pan pebun pasah memuas ...."


bersambung.


oke deh Rion ... up to you.


next?