TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BAYI-BAYI LAHIR



Dua puluh menit berlalu. Kini Lidya sedang menyusui bayi-bayinya. Terra menangis melihat adik kecilnya itu sudah menjadi seorang ibu.


Terra begitu ingat ketika ia pertama kali melihat tatapan bulat penuh pengharapan padanya. Lidya yang kecil, pelukannya mampu menembus hati yang paling kelam menjadi tenang.


Bahkan sosok monster Dougher Young tunduk di pelukan Lidya.


"Sayang," panggil Terra berurai air mata.


"Mama, Iya udah jadi ibu, ma ... Iya udah jadi Mama!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Virgou memandang gadis kecilnya. Lidya adalah wanita yang tak bisa disingkirkan oleh siapapun di hati pria beriris biru itu. Terra menciumi Lidya.


Haidar juga menatap Lidya. Gadis kecil yang ia kira lemah. Ternyata adalah gadis yang paling kuat di antara mereka. Pria itu jatuh cinta pertama kali pada Lidya barulah pada Terra.


"Selamat sayang, kamu sudah jadi Mama," ujarnya dengan suara tercekat.


"Makasih Pa. Ba bowu!"


"Ba bowu pu," balas Haidar.


Herman pun mencium Lidya. Pria tua itu memeluk gadis kecil yang juga mengobati hatinya itu.


"Selamat sayang ... selamat. Bundamu senang melihat dua cucu tampannya," ujarnya sambil terkekeh.


Bart dan Bram mendatangi ibu baru itu. Mata keduanya berkaca-kaca. Lidya terharu, begitu banyaknya limpahan kasih sayang yang ia dapatkan.


Ia menatap dua saudara laki-lakinya, terutama pada Darren. Betapa ungkapan terima kasih pada kakaknya itu, jika saja Darren menyerah dan lari dari awal. Ia tak tahu nasib yang menimpanya juga Rion.


"Makasih kak. Makasih mau bertahan menahan siksaan selama itu untuk melindungi Iya ... makasih ... huhuhu ... hiks!"


Darren dan Rion memeluk saudara perempuannya itu. Rion juga mengucap terima kasih pada dua kakaknya yang hebat itu.


Bart dan Virgou menangis. Terutama Virgou. Ia merasa bersalah atas semuanya.


"Andai aku tak jahat ...," gumamnya.


"Kakak nggak jahat ... jika kakak nggak lakuin itu, mungkin kita tak akan pernah berkumpul seperti ini!" ujar Terra langsung memeluk kakak sepupunya itu.


"Aku lah yang mestinya disalahkan di sini. Aku yang membentuk Virgou membenci saudaranya sendiri, aku ...."


"Please stop it!" sela Bram kesal.


Pria itu juga sibuk menyeka air matanya. Hidungnya memerah, begitu juga matanya yang basah.


"Aku malah senang dengan semuanya karena aku mendapatkan Terra sebagai menantuku!"


"Aku juga bahagia karena kalian menjadi saudaraku!" sela Gomesh dengan wajah basahnya.


Semua menoleh pada raksasa itu. Budiman mengangguk. Ia juga paling beruntung mendapatkan keturunan Dougher Young, dan menjadi bagian keluarga Terra.


"Tak ada yang salah di sini. Semua yang terjadi memang sudah digariskan oleh Allah," sela Dav bijak.


Dominic mengangguk setuju. Pria itu juga bangga menjadi bagian keluarga. Jac setuju akan apa yang dikatakan Dav.


"Saya juga bangga menjadi bagian dari keluarga ini. Padahal saya bukan siapa-siapa," sela pria itu.


Lidya terharu. Ia merajuk pada semuanya. Gomesh mendatanginya memberikan pelukan pada cinta pertamanya. Begitu juga Budiman.


"Kau adalah cinta pertamaku, nona!" aku Gomesh.


"Aku juga, jatuh cinta pertama kali pada Nona Lidya," aku Budiman juga.


"Untung kalian sudah tua ya, jadi aku nggak susah ngerebut Lidya," celetuk Demian.


Plak!


"Aduh!"


Demian mengaduh karena Herman memberi pukulan pada lengannya.


"Ayah," rengeknya manja.


Dominic terkejut melihat putranya berubah seperti itu. Ia saja jarang mendapat rajukan manja dari Demian. Semenjak sang istri meninggalkannya. Demian berubah menjadi sosok dingin dan tak tersentuh.


'Kau jadi sangat lembut setelah bertemu dengan keluarga hebat ini, nak!' gumamnya bahagia dalam hati.


Tiba-tiba Putri masuk dengan napas terengah. Ia baru saja melahirkan tapi mendengar kabar yang baru saja ia ketahui membuat wanita itu harus buru-buru mendatangi keluarga ini.


"Dar!" panggilnya.


Darren menoleh. Jac mengernyit. Semua juga ikut menoleh.


"Bu bidan mau melahirkan!" serunya memberi tahu.


Kini semua panik. Darren berlari ke ruang persalinan yang berbeda dengan Lidya tadi. Karena dokter yang menangani juga berbeda.


"Sayang!" teriak Darren memanggil.


Saf sedang berjalan mengitari ruangan dengan wajah pucat.


"Ayah nunggu di luar saja, ya," pinta sang suster.


"Tapi saya suaminya. Saya ingin mendampingi istri saya melahirkan!" teriak Darren ngotot.


Saf tersenyum. Ia mengira semua orang sibuk dengan Lidya yang baru saja mendapatkan dua putra kembarnya.


Terra masuk sudah memakai baju OK.


"Sana kamu, biar mama sama Saf!" usirnya.


"Ma," rengek Darren mencebik.


"Sudah sana!" usir Terra.


"Ma, sakit!" kini Saf yang merengek manja.


Darren keluar, Terra masuk. Wanita itu akan menenangkan menantunya.


Demian diminta Virgou untuk menunggui istrinya.


"Justru Dem kesini karena Iya usir," sahut pria itu sebal.


"Astaga kenapa keluarga Starlight jadi sosok seperti ini?" sindir Virgou.


"Ck ... sepertinya dia terkontaminasi dengan sembilan perusuh mu," jawab Dominic.


Virgou terkekeh. Ia akan membayangkan keseruan di mansion Herman nantinya.


"Aku belum menonton secara live sembilan perusuh itu!' celetuk Bram.


"Ah, kakek akan pipis di celana jika menonton keseruan mereka," sahut Demian.


Mereka mengobrol untuk menghilangkan tegang. Kanya hanya mendengarkan saja percakapan para pria. Ia masih menunggu cucu menantunya.


"Duh, kok lama sih?" tanyanya cemas.


"Yang dikeluarkan tiga Ma," sahut Haidar tenang.


"Apa nggak operasi cecar aja?" tanya Kanya masih khawatir.


"Saf nggak mau, oma," jawab Darren lemah.


Pria itu seperti kehilangan fokusnya. Ia tak menyangka jika sang istri akan melahirkan di hari yang sama dengan adiknya.


Satu jam berlalu. Terra baru keluar dari ruang bersalin. Wajahnya basah antara peluh dan air mata. Ternyata, kesakitan dan rintihan menantunya membuatnya sedih. Walau ia memberi kekuatan pada Saf melahirkan bayi terakhirnya. Bidan cantik itu nyaris kelelahan.


"Mereka semua sehat dan selamat. Hanya saja Saf kelelahan," ujarnya memberitahu.


"Kita dapat dua cucu putri dan satu cucu putra mas," lanjutnya dengan penuh haru.


Haidar memeluknya. Darren sudah masuk dari tadi dan meng-adzani tiga anak kembarnya itu.


Dua puluh menit berlalu. Safitri sudah dipindahkan di ruang rawat inap yang tak kalah mewahnya dengan ruangan Lidya.


"Kita jadi satu kamar aja sih," pinta wanita itu yang tentu ditolak oleh pihak rumah sakit.


"Ah, matanya semua kaya uma, abu-abu!" pekik Rion senang.


Remaja itu menatap tiga bayi lucu di dalam boks. Ukuran ketiganya cukup besar. Masing-masing dengan bobot masing-masing 2kg dan panjang 45,5cm.


"Pantas perut uma besar," sahut Demian yang ditanggapi anggukan oleh Rion.


"Kalian belum menyiapkan nama?" tanya Bram pada kedua ayah.


Darren yang baru saja menciumi istrinya langsung menggeleng. Demian juga sama.


"Namanya Al bara Hasan Starlight dan El bara Harun Starlight!' jawab Dominic bangga.


"Nama cucu ku Aisyah Nabila Dougher Young, Maryam Sabila Dougher Young dan Muhammad Al Fatih Dougher Young!" sahut Haidar juga bangga


bersambung.


welcome triples!"


next?