
Dua pria beda usia itu kini tengah bercengkrama. Bart dan Bram memang sudah lanjut usia terlebih Bart. Namun ketampanan dua pria itu menarik perhatian orang-orang terlebih kaum hawa.
"Gila udah gaek masih aja gagah ya!" puji salah satu wanita sosialita.
"Wih, keknya sugar Daddy nih. Kantong tebal, muka ganteng trus kesepian. Ih, bisa kali gue deketin salah satu," celetuk salah satu gadis berseragam sekolah.
"Why is it so hot in here. They look at us like they want to strip!"(kenapa di sini panas sekali. Mereka melihat kita seperti menelanjangi?) tanya Bart pada Bram dengan nada risih.
"Just ignore them!"(acuhkan saja mereka!) tukas Bram.
Tak lama, sosok cantik mendekati mereka. Wanita itu saling menempelkan pipi ke pipi Bart dan dengan Bram ia mencium sekilas bibir pria itu, sengaja.
"Hei!" tegur Bart.
"On purpose, I'm tired of seeing their hungry stares!"(sengaja, aku jengah melihat tatapan lapar mereka) sahut Kanya melirik para wanita yang menatap dua pria ini.
Bart menggeleng, sedang Bram sedikit kesal pada istrinya. Andai ini bukan tempat umum. Mungkin saja ia akan membalas ciuman Kanya lebih panas.
"Aku akan membalasnya nanti di kamar," ujar Bram mengedipkan matanya menggoda Bart.
"Oh my God!"keluh Bart tak percaya.
Bram tertawa puas. Ketiganya meninggalkan tempat dengan berbagai argumen pada wanita yang dari tadi mengincar dua pria itu. Terlebih, Kanya menggaet dua lengan kokoh suami juga kakek dari menantu perempuannya itu.
"Kau membuat imagemu buruk Kanya!" tegur Bart.
"Ah, abaikan mereka. Aku benar-benar ingin membuat drama!" ketus Kanya kesal.
Benar saja, foto Kanya yang menggandeng dua pria berhasil mencuri perhatian Haidar. Pria itu memicingkan mata ketika membaca berita sebuah portal online news.
"Istri Pebisnis papan atas berinisial KL diduga memiliki kekasih baru!"
Foto Kanya menggandeng pria lain selain ayahnya membuat Haidar sangat kesal pada portal yang memberitakan ibunya itu.
"Siapa pria di sebelah, Mama?" tanya Haidar karena ia mengenali yang pria yang satunya.
Haidar mengecek BraveSmart ponsel miliknya lalu memindai siapa pria lain selain ayahnya. Baru lah ia bernapas lega.
"Ah, ternyata itu Grandpa," gumam Haidar tenang.
Namun selanjutnya ia gelisah kembali. Sudah nyaris lima bulan ini, ia dan istri tak menyambangi kedua orang tuanya. Kini, Haidar bersiap menghadapi kemarahan ketiga orang tua itu.
"Apa, jadi Grandpa ada di sini?" tanya Terra.
Budiman mengangguk. "Saya, melihat di BraveSmart ponsel jika Grandpa datang ke sini kemarin siang, Kak!' lapor Budiman.
"Jangan katakan jika Grandpa kini bersama dengan Papa?" tanya Terra sedikit takut.
"Sayangnya iya," jawab Budiman lemah.
Kedua ipar itu hanya bisa pasrah. Keduanya yakin akan mendapat kemarahan dari dua orang tua Haidar juga dari kakeknya.
"Terra!" tiba-tiba Virgou datang dengan napas terengah dan wajah pias.
Terra sangat yakin jika kakaknya itu mengetahui kedatangan sang kakek.
"Kak," sahutnya kemudian dengan wajah lesu.
"Bud, kau beli sumbat kuping, agar kemarahannya tidak begitu terasa," pinta Virgou kini duduk di hadapan adik sepupunya itu.
"Jika kita lakukan itu, kita akan tambah dimarahi," sahut Budiman menolak permintaan Virgou.
"Oke, kita harus bersiap. Kemana mereka?" tanya Virgou lagi.
"Sekarang mereka ke sebuah rumah makan bernuansa alam. Sepertinya, Grandpa dan Tuan Pratama akan memancing, sedang Nyonya Kanya membakar hasil pancingan mereka," jawab Budiman.
"Apa kita perlu menyambangi mereka?" tanya Terra hati-hati.
"Harus. Panggil suamimu. Suruh ia menyusul ke tempat itu. Kita memang mesti menghadapi mereka sebelum kemarahannya meledak!" titah Virgou pada Terra.
Wanita itu langsung menghubungi suaminya. Meminta sang suami agar menyusul mereka ke lokasi di mana Bart dan Bram juga Kanya berada.
"Kita ke sana bersama. Aku akan menjemputmu!" jawab Haidar di seberang telepon.
"Kak Virgou ada bersama Te, Mas," sahut Terra sambil menatap Virgou yang ada di depannya.
"Biar dia bersama Budiman nanti!" ujar Haidar lagi.
"Oke, Te tunggu, cepat lah jangan terlalu lama!" ujar Terra sedikit mendesak.
"Iya! Aku tutup teleponnya, assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Ketiga orang itu pun beranjak dari ruang tamu menuju teras. Mereka berada di rumah.
"Mama, mawu temana?" tanya Sean melihat ibunya keluar.
"Sean dan lainnya di rumah ya sama Bi Romlah. Mama akan jemput Buyut," jawab Terra lembut.
"Pita eunda boweh itut?" tanya Al sedih.
"Mama, Baud mawu itut, Ma," pinta Daud dengan wajah memelas.
"Nai judha," Nai juga ikut-ikutan memasang wajah memelas.
Terra akhirnya mengangguk. Lalu mengganti baju semua anaknya. Begitu selesai berganti baju, Haidar datang bersamaan dengan Rion yang pulang sekolah bersama dua pengawalnya.
"Mama sama Papa mau kemana?" tanya Rion bingung.
"Mau jemput Grandpa Bart, Baby mau ikut?" sahut Virgou menjawab pertanyaan Rion.
"Nggak ah. Kasian Kak Lidya nanti pulang nggak ada siapa-siapa," tolak Rion.
"Ya, sudah. Mama dan Papa bawa adik-adik ya. Mereka mau ikut," Rion mengangguk dengan wajah ceria.
"Oteh Mama. Da dah Babies!" Rion melambaikan tangannya.
"Ta tah ... Ata'Ion!" seru keempatnya.
Rion akan bebas tugas hari ini. Ia ingin beristirahat dari gangguan keempat adiknya. Terra sangat mengerti dan menyesali hal itu. Karena ia telah membebani Rion dengan menjaga adik-adiknya.
Kini, semuanya pun berangkat menuju lokasi di mana Bart, Bram dan Kanya berada. Butuh dua puluh menit untuk mereka sampai pada lokasi.
Keempat anak-anak sangat antusias pergi ke tempat baru. Mereka bersorak melihat patung ikan di depan rumah makan yang mengeluarkan air dari mulutnya.
"Wah itanna badus setali!" pekik Al.
"Mama, itu itan pa'a?" tanyanya kemudian.
"Itu hanya lambang, Baby," jawab Terra lembut.
"Oh itan bamban," sahut Al.
Daud, Nai dan Sean manggut-manggut. Terra menggaruk kepalanya. Ingin menjelaskan tetapi suasananya sangat genting.
Mereka langsung menuju ruangan privat yang disewa Bram. Keempat manusia dewasa itu b cemas. Tetapi tidak dengan keempat balita yang sedikit loncat-loncat kegirangan.
Begitu sampai ruangan. Keempat bocah itu langsung menyerbu kakek dan nenek mereka. Bahkan dengan berani, Daud duduk dipangkuan Bart yang tengah memancing.
"Pintar sekali, kalian membawa senjata lucu seperti ini," gerutu Bram kesal.
Sedang Kanya asik menyuapi Nai dan Sean yang mau ikan bakar. Al meminta gendong kakeknya.
Bart meletakkan pancingnya. Ia menggendong Daud yang berada dipangkuannya.
"Siapa keempat orang itu. Apa kau mengenal mereka Bram?" sindir Bart kesal setengah mati.
"Entah, mereka langsung membawa senjata mereka dan aku tak bisa berkutik!" sungut Bram menjawab pertanyaan Bart.
Baik, Terra, Haidar, Budiman dan Virgou hanya diam mematung. Mereka benar-benar merasa bersalah.
"Tate, tenapa balah-balahin Papa, Mama, Daddy sama Om Pudi?" tanya Sean sambil menatap wajah Bram dengan mimik serius.
Bram gemas bukan main. Ingin memarahi keempat orang dewasa itu pun tak mungkin dihadapan anak-anak ini.
"Jangan membuatku dimarahi cucuku. Masuk!" titah Bram masih kesal dengan empat orang dewasa itu.
Bart melihat perut buncit cucu perempuannya. Ingin mengelus tapi, ia masih ingin menghukum Terra.
"Grandpa," panggil Terra manja.
"Maafin Te, ya," pintanya memohon.
"Kami minta maaf, jika sedikit mengabaikan. Tetapi, akhir-akhir ini banyak kejadian yang tak bisa dihindari," sahut Virgou dengan wajah menyesal.
"Diam dan makanlah!" sahut Bart penuh penekanan.
Akhirnya mereka pun makan dengan lahap diselingi tawa karena tingkah lucu keempat balita.
bersambung.
aih loh ... kena marah kan?
next?