
Hari berganti tak terasa. Seminar beberapa jam lagi dimulai. Semua tamu undangan datang dari berbagai negara. Seminar ini akan diliput oleh berbagai negara yang mensponsori acara ini. Kekerasan anak sering menjadi berita utama hingga mencapai 38% . Itu sangat besar dan harus diseriusi oleh pihak Unicef.
UNICEF (United Nations Children Fund) yang berpusat di kota New York Amerika dan diikuti oleh 190 negara di dunia. Kejahatan anak semakin lama semakin meningkat terutama di negara maju, negara konflik dan negara berkembang
Tingkat asusila terhadap anak di bawah umur menjadi sorotan utama. Eksploitasi menjadi urutan kedua dan kekerasan menjadi nomor tiga.
Beberapa petugas memeriksa semua barang bawaan peserta, baik itu penonton, pembawa acara, juga para nara sumber.
Bart pun mendapat kartu undangan sebagai tamu kehormatan, begitu juga Frans dan Leon. Ketiga pria sukses itu bertemu dengan Dominic Starlight dan beberapa kolega yang dihadirkan. Mereka bersalaman. Lalu duduk di area terhormat dengan kursi paling bagus.
Di depan berderet meja, di sana duduk tiga narasumber dan ketua acara juga dari pihak Unicef, dan pembawa acara. Kamera dihidupkan. Audio telah siap, semua sudah masuk. Pintu di tutup. Acara sebentar lagi dimulai.
Sosok berhijab, nampak berdoa dan mengusap wajahnya. Menatap tiga pria yang sangat ia kenali di sana dan menyunggingkan senyumnya.
Demian sedang melihat kertas yang ada di tangannya. Ia membaca artikel-artikel yang akan dibawakan, juga beberapa data akurat untuk membuat pernyataan dan pertanyaan.
Pihak televisi pun sudah memberi instruksi jika mereka sudah dalam keadaan live. Jadi semua kelakuan akan tersorot langsung tanpa sensor.
"Be polite, that you're in the spotlight right now!" (berlaku sopan, anda sedang dalam sorotan kamera!) seru manager acara.
Semua pun tenang. Beberapa tampak mengobrol secara berbisik. Karena sudah ditayangkan secara live pukul 09.00 pagi waktu Eropa. Sedang di Indonesia pukul 15.00.
Di mansion Bram sebuah televisi layar 163 inci tengah menayangkan siaran. Semuanya duduk tenang. Mereka menantikan wajah yang sudah mereka rindukan tiga hari ini.
"Mama itu kakak Iya!' seru Kean melihat kakaknya muncul di layar kaca.
Semua fokus dan terharu kecantikan Lidya memang tak diragukan lagi. Gadis berhijab putih dengan gamis biru. Ia memakai jas kebanggaannya. Jas snelli.
Senyum gadis itu juga menjadi sorotan banyak orang. Bart, Frans dan Leon juga menjadi sorotan. Banyak orang-orang besar yang ikut serta menjadi tamu kehormatan di acara itu.
"Benpa!" tunjuk Benua.
Haidar, Virgo, Herman, Budiman dan Dav ikut duduk. Dav baru bisa ke Eropa setelah semua Visa istrinya selesai. Ia juga sudah mulai membeli beberapa rumah di sisi rumah sang istri untuk memperluas usaha Seruni.
"Oh ya, apa seminggu lagi kalian menggelar resepsi kedua?" tanya Bram pada Dav.
"Iya, Pa. Setelah kepulangan Lidya kami baru melangsungkan resepsi kedua. Lagi pula banyak kolega Kak Virgou yang ingin datang di acara resepsi itu," jawab Dav. "Semuanya juga akan datang lagi."
Bram mengangguk. "Lalu kau sudah menyiapkan semuanya?"
"Sudah Pa. Semua diurus oleh tim Wedding organizer. Jadi kami hanya datang dan duduk manis di pelaminan.," jawab Dav lagi.
"Hei acara dimulai ... lihatlah putriku. Cantik sekali!' seru Haidar.
Semua menatap layar. Darren dan Terra begitu bangga melihat adiknya di layar kaca, bahkan seluruh dunia mengenal gadis itu sekarang.
"Ata'Iya syantit setali," puji Dewa.
Semua mengangguk. Kini mereka duduk dan tiduran. Bram menggelar karpet tebal dan lebar di sana juga menyusun banyak bantal.
Sedang di ruangan besar itu. Pembawa acara pun memulai acaranya. Setelah semua berdiri karena mendengarkan lagu kebangsaan, mereka pun duduk kembali.
"Terima kasih, mari saya akan memperkenalkan ketua acara ini, yang terhormat Tuan Demian August Starlight, beliau adalah rektor termuda di Eropa, berusia dua puluh lima tahun. Juga seorang pengusaha muda yang sangat sukses ...."
Demian berdiri, semua yang hadir bertepuk tangan meriah. Bahkan beberapa gadis sedikit histeris melihat ketampanan pria itu. Ia pun mengangguk hormat pada hadirin semuanya.
Satu persatu pengisi acara diperkenalkan. Tinggal empat narasumber. Terakhir adalah Lidya.
Di mansion Bram, semua menangis haru dan bangga. Sedang di ruangan itu Bart, Frans dan Leon langsung mengangkat dagu mereka.
Lidya berdiri, semua bertepuk tangan, Demian tercenung mendengar nama itu.
"Lidya?' tanyanya dalam hati. "Apa dia gadis kecil yang sama?"
Demian menatap sosok yang diperkenalkan tadi. Sosok cantik berhijab. Ia pun mengernyit. Tentu Demian tidak akan mengenali karena perubahan yang dialami gadis kecil itu. Kedua pasang mata itu saling bertemu.
Deg!
Jantung keduanya berdebar kencang. Netra yang sama Demian lihat. Mata yang sedikit menguarkan ketakutan dan kegelisahan. Netra yang menyimpan cerita menyedihkan.
Acara dimulai, sebuah artikel ditayangkan. Beberapa argumen pun diutarakan. Pihak Unicef juga ikut memberikan satu upaya dalam melindungi hak dan keamanan anak-anak.
"Sekarang kita kan mendengarkan dari narasumber, Nona Pratusya Singh dari Mumbai, India.
Gadis berkulit hitam manis pun berdiri. Ia menceritakan di mana dirinya setiap hari harus bekerja menyambung hidup dirinya, dua adik dan ibunya yang sakit. Ayahnya pergi entah kemana.
Ia juga menyerahkan beberapa bukti tempat tinggalnya yang kumuh, tak layak untuk kesehatan anak-anak dan tingkat kriminalitas yang tinggi.
"I've seen female friends raped in narrow alleys," (aku melihat beberapa teman perempuan ku diperkosa di gang-gang kecil). jelasnya dengan suara tercekat.
Semua terdiam. Mereka geram dengan aparat yang tak bisa melakukan apa-apa. Hukum dan perlindungan yang lemah membuat semuanya menjadi tak bermakna. Mereka terus dihantui oleh ketakutan.
"That's cruel!" (Itu kejam sekali!) ujar Pembawa acara.
Ketiga narasumber telah memberikan kesaksian mereka. Kini tinggal narasumber terakhir. Gadis bertubuh mungil berdiri. Ia maju dan memberikan beberapa hasil riset dan surveynya pada pemangku acara. Ia juga sudah memberikan satu flashdisk pada panitia untuk menayangkan beberapa kasus kekerasan yang memang masih menjadi momok menakutkan bagi anak-anak.
Demian menatap gadis itu. Ia menatap tulisan yang disusun rapi, bahkan konsep dan review-nya begitu jelas dan sangat tersusun.
"Baiklah, sebelum saya mulai. Silahkan untuk melihat tayangan ini," ujar gadis itu.
Sebuah tayangan pun diputar. Beberapa kasus kekerasan bahkan berujung kematian. Pelakunya bahkan orang-orang yang mestinya memberikan perlindungan dan kasih sayang.
"When we complained ... we were accused of causing trouble." (ketika kami mengadu ... kami dituduh biang onar).
"When we complained...everyone said we were lying!" (ketika kami mengadu ... kami dituduh berbohong!)
"When we fight, we are considered ungodly!" (Ketika kami melawan . Kami dituduh durhaka!)
"If that's the case... what should we do? What should we do?" (Jika sudah seperti itu. Apa yang harus kami lakukan? Apa yang harus kami perbuat?)
"Are we born to be tortured? Were we born to be hurt?" (Apa kami terlahir untuk tersiksa? Apa kami dilahirkan untuk disakiti?)
"Were we born only to die in vain?'' (Atau kami lahir hanya untuk mati sia-sia?)
"Then...don't give birth to us!" (Jika begitu ... jangan lahirkan kami!)
Semua terdiam. Semua menunduk. Tayangan itu banyak sensor dan dan kata-kata maaf karena memang tidak bisa ditayangkan.
Demian masih menatap gadis yang kini berkali-kali menghela napas panjang.
"Saya, Kakak dan adik saya mengalami kekerasan itu. Trauma itu masih membekas di ingatan saya," jelas Lidya.
bersambung.
sebagian bahasa Inggris tapi sudah diterjemahkan yaa ...
next?