
Semua keluarga berkumpul. Hari ini mansion Herman penuh manusia. Safitri, Terra dan Gisel juga Seruni sudah sibuk di dapur. Sedang Lidya menjadi princess. Gadis itu cantik sekali dengan gamis warna hijau dengan hijab putihnya. Demian, Dominic dan Jac juga Putri ada di sana. Gio dan istri serta dua adiknya juga datang memenuhi mansion mewah itu.
"Halo sayang. Apa ini sudah ada isinya?" tanya Puspita pada Putri dan Aini.
Keduanya menggeleng. Mereka belum mendapatkan kepercayaan.
"Yang sabar ya," ujar wanita itu.
"Mungkin nunggu Dokter Lidya nikah, baru kita hamil bareng Mommy," sahut Aini.
Putri juga mengangguk. Ia sudah dua kali periksa tapi hasilnya negatif.
"Jadi kamu nikahkan Darren dengan Saf karena mimpi didatangi Jonnas?" tanya Bart pada Virgou.
Virgou mengangguk. Ketika melihat Saf, malamnya ia didatangi Jonnas.
"Iya, Grandpa. Malamnya aku didatangi Jonnas agar menjaga Saf. Tadinya, aku bingung, Kean masih terlalu kecil untuk menjadi seorang suami. Aku nggak kepikiran pada Darren karena kau tau sendiri kan?" Bart mengangguk mengerti.
"Tadinya ketika datang ke KUA juga aku hanya mencoba peruntungan saja. Siapa sangka Allah mempermudahnya," lanjutnya.
"Virgou!" panggil Bart.
Pria dengan sejuta pesona itu menatap Bart. Wajah keriput tampak jelas di sana, walau ketampanan Bart belum lah hilang, wajah aktor Richard Gere nyaris sama dengan Bart.
"Sudah, abaikan saja. Kita happy-happy ya," ujar pria itu.
"Oh ya, Dad. Frans, Leon dan Gabe juga anak-anak akan tiba besok kan?" tanya Bram.
Kanya tengah bercengkrama dengan Khasya dan Puspita.
"Iya, besok semuanya hadir. Mereka menginap di rumahku. Sedang Gabe akan menginap di rumah mertuanya. Mereka lama di sini," jawab Bart.
"Oh ya, Nanti, Frans meminta Cal atau Rion ikut membantu usaha di Eropa," ujar Bart memberitahu.
"Biar Sean dan Cal yang ikut, nanti," sahut Haidar.
Bart mengangguk. Perusahan di Eropa juga butuh penerus. Gabriela baru kelas satu SMP dan yang lainnya masih sekolah dasar. Masih lama untuk meneruskan usaha.
"Ah, sebentar lagi putriku akan menikah," celetuk Virgou menatap Lidya yang tersenyum malu ketika Demian menggodanya.
"Tugas kita semakin ringan," ujar Haidar.
Semua pria mengangguk. Saf datang membawa makanan yang langsung di serobot anak-anak.
"Ata'Babitli Bomesh mawu banat!"
"Kebagian semua Baby!"
"Ibu!" panggil Ditya.
"Ini, sayang," sahut Saf memberi makanan pada Ditya.
"Ibu ... aku mana?" tanya Kean.
"Ayah nggak dikasih Bu?"
"Ayah punya tangan sendiri," sahut Saf.
Darren merengut di sahut seperti itu oleh istrinya. Tapi, melihat betapa sibuknya sang istri ia pun paham.
"Spy pandhil Ibu judha ah," sahut Sky.
"Penua pandil Mama Baf aja!"
"Balo mamat siyan pemuana!" sahut Domesh di mik.
Bayi itu sudah tak sabar ingin tampil. Ia meminta Dav memasang alat karaoke.
"Nyanyi apa Baby?" tanya Dav.
"Balo dandut!"
Musik pun mulai.
"Yan ... yan ... yan ... dipoyan-poyan yan ... but ... but ... Yot pita peulbandut ... Yan ... dipoyan ... dipoyan yan ....!"
"Bandut ... bandut. bandut!"
"Sel ... poha!"
Semua pun bergoyang dangdut. Virgou paling semangat berjoged bahkan ia menarik istrinya ikut bergoyang.
Harun yang sudah bisa berjalan pun juga ikut bergoyang. Sky santai duduk dipangkuan Dominic.
"Ayo kita goyang, Bang!" ajak Putri pada Jac suaminya.
"Ayo sayang!" sahut Jac.
"Jangan heboh-heboh!" sahut Saf.
"Kamu lagi hamil," lanjutnya.
"Masa Bu?" tanya Putri tak percaya.
Saf hanya meraba perut Putri dan menarik bagian perut bawah wanita itu.
"Nanti periksa ya, mudah-mudahan isi!" ujar Saf.
"Bu, udah malam pertama belum?" goda Jac.
Saf merona malu. Ia belum melakukan kewajibannya sebagai istri karena ia datang bulan malam itu ketika Darren hendak melakukannya. Gadis itu menggeleng.
"Lagi dapet," bisiknya.
"Kasihannya," celetuk Jac pada Darren.
Pria itu hanya mendengkus kesal. Ia masih harus menunggu tiga hari lagi istrinya.
"Nggak apa-apa. Biar langsung tokcer!" sahut Demian.
"Sayang, dua minggu lagi menikah, semoga kamu tidak dalam keadaan haid ya," harap Demian pada calon istrinya.
Lidya hanya menunduk malu. Ia bukanlah gadis polos yang tidak tahu maksud suaminya.
"Joged ah," ujarnya lalu maju dan berjoged dengan yang lainnya.
Demian dan Darren juga ikut berjoged.
"Payo tawan-tawan dembila peulsama ... Bayo tawan-tawan peuljodet peulsama ... hilan tan teluh tesah yan ada denan ladhu yan dembila ...!"
Lagi selesai. Bomesh kini menyanyikan lagu milik Abiem Ngesti, Pangeran dandut.
"Atu lah panelan danbut ... yan atan mendonsyan bumia ... wewat pusit yan tu mayin Tan ... wewat ladhu Yan tu banyi tan ... petelah atu peusal manti ... atan badhi si laja bandut ... bandut ... bandut. ban .. ban ... bandut!"
Lagu pangeran dangdut selesai. Kini Lidya yang bernyanyi. Gadis itu menyanyikan lagu masa kecilnya dengan Rion ketika di sebuah mall. Lagu untuk Mama.
"Apa yang kuberikan untuk Mama ... untuk Mama ... tersayang ... tak kumiliki sesuatu berharga untuk Mama tercinta ...
"Banya imi ... butanyitan ... beunandun dali batitu puntut Mama ... banya pebuah labu seupelahna ... ladi pintatu puntut Mama ....!" Bomesh melanjutkan lagunya.
Semua tersenyum. Terra dan para ibu terharu mendengarnya.
"Ba bowu Mama, Mommy, Bunda, Mami, Bommy!"
"Ba bowu Baby ...!"
"Hanya ini kunyanyikan ... senandung dari hatiku untuk Mama ... hanya sebuah lagu sederhana ... lagu cintaku untuk ... Mama ...." Rion menutup akhir lagu.
"Ba bowu ...."
bersambung
ba bowu para Mama semua ❤️❤️❤️❤️
next?