TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LIDYA



Terra menangis hingga nafasnya sesak. Haidar berusaha memberi kekasihnya kekuatan.


"Tenangkan dirimu sayang," ucap Haidar dengan suara bergetar.


Pria kekar itu juga menahan tangis melihat sosok kecil yang kini memandang kosong di depannya.


'Apa yang kau lewati dulu, Nak? Begitu beratkah?' gumam Haidar menjerit dalam hatinya.


Sedang Budiman. Pria itu mengepal tangannya kuat. Pria tegap dan gagah itu mengeluarkan aura kelam. Sebuah tangan mengelusnya. Rion memandang wajahnya dengan sendu.


Budiman mengangkat tubuh balita montok itu. Seakan tahu, Rion memberikan pelukan hangatnya.


"Boain atak Iya, ya," pintanya lirih.


Nyes!


Hati Budiman makin teriris akan permintaan Rion. Sedang Darren kini berada di samping Terra dan Haidar.


"Maafin Darren, Ma," ujarnya lirih penuh penyesalan.


"Sayang ... tidak apa-apa, ini bukan salah kamu," ujar Terra memeluk tubuh Darren.


"Mana Rion?"


Budiman datang dan meletakkan balita itu di ranjang, di mana Lidya berada. Karena ruangan perawatan berada di kelas ekslusif. Maka ranjang perawatan sangat besar.


Rion mendekati ibunya.


"Mama, Atak Iya sapti bembuh!" ucap Rion yakin.


Terra memeluk Rion, bayi itu selalu bisa membuat Terra terhibur dengan kata-katanya yang salah. Bahkan tangisan itu bercampur sedikit tawa karena kelucuan Rion.


"Ma .. Iya, begini karena dulu Darren lemah, tidak bisa melindunginya ketika Tante Firsha marah," ujar Darren pelan.


"A-apa maksudmu, Nak?" tanya Terra.


"Waktu itu, malam hari. Tante Firsha pulang dalam keadaan mabuk. Ayah tidak ada di rumah sudah tiga hari. Kami hanya makan mie instan tanpa dimasak ...," ucapan Darren berhenti, ia menghela nafas yang tiba-tiba sesak.


Terra mengusap wajah putranya. Satu kisah kelam lagi terurai.


"Waktu itu, Darren kembali dipukuli ... hiks ... hiks ... Lidya datang memeluk Darren dan mengatai Tante Firsha dengan sebutan ular ... huuu ... uuu!'


"Sayang ... jangan teruskan, Nak ... hiks ... hiks ...!"


Haidar menahan nafasnya ketika mendengar cerita Darren. Sedang Budiman tak menyangka dengan cerita yang baru saja ia dengar. Pikirnya, dulu hanya dia lah anak laki-laki yang paling malang karena disiksa ayahnya. Sedang ibunya hanya bisa menonton tak mampu membelanya.


"Tante menarik rambut Iya sampai rontok, Ma ... huuuu ... uuu ...!!"


"Tante Firsha bilang ke Iya, Iya nanti mati dibunuh ular!"


"Kamu akan mati sama ular! gitu kata Tante Firsha, Ma!"


Terra menjerit mendengar cerita Darren sedang Rion ikut menangis. Haidar meraih tubuh Darren dan Terra. Memeluk mereka. Sedang Rion beringsut memeluk tubuh besar Haidar dan ikut menangis.


Jam besuk usai. Tidak ada satu pun manusia boleh berada dalam ruangan. Bik Romlah sudah datang dan membawa makanan dan baju ganti untuk Terra juga anak-anak.


Terra enggan makan, namun dipaksa oleh Haidar.


"Kau harus kuat. Masih ada dua anak yang membutuhkan kasih sayangmu!'


Terra akhirnya makan sambil menyuapi Darren dan Rion.


Satu jam Kanya dan Bram datang. Mereka langsung melihat Terra yang tengah duduk menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya sambil menangis.


Darren dan Rion tengah ditangani oleh Haidar. Kanya mendekati Terra. Sedang Bram langsung ke dalam ruangan di mana Lidya berada.


"Te!' Terra menoleh.


"Ma ... hiks ... hiks!"


"Sayang," Kanya memeluk Terra sedang di dalam terdengar tangisan Bram.


Pria besar itu luluh lantah melihat kondisi Lidya yang mematung dengan pandangan kosong. Berkali-kali Bram memanggil gadis kecil itu, tapi tak satu pun respon yang ditunjukkan Lidya.


Sedang di luar kamar, Terra hanya menangis dalam pelukan Kanya.


"Ma kenapa ibunya sejahat itu, Ma! Kenapa!" isak Terra.


Kanya tak bisa apa-apa. Ia pun tak mampu menjawab. Wanita setengah baya itu tak mau masuk ruangan untuk melihat Lidya. Ia tak akan sanggup.


Haidar sudah menceritakan kejadiannya pada kedua orang tuanya. Mereka hanya bisa memaki kemudian beristighfar karena yang menyiksa Lidya sudah mati.


"Iya menjadi pengobat untuk kesakitan kakaknya Darren. Kini, Iya yang sakit. Siapa yang bisa menyembuhkan Lidya Ma?" ujar Terra masih terisak.


"Kamu, Nak. Kamu yang harus jadi penyembuh untuk anak-anak mu!"


Terra terdiam lalu menatap Kanya.


'Bisa kah aku menjadi penyembuh untuk Lidya?' tanyanya dalam hati, ragu.


bersambung.


Kamu bisaaa Te ... bisa!