
Terra menyelesaikan mata kuliahnya sore ini. Tubuhnya sedikit lelah karena tugas kuliah yang cukup menyita semua aktivitas otak juga tubuhnya.
Ketika keluar kelas, ia dipanggil seseorang untuk menghadap rektor. Terra sedikit bingun nog, ia berpikir tentang kesalahan apa yang telah diperbuat.
Ketika depan pintu rektor. Terra mengetuk pintu tiga kali. Setelah mendengar perintah masuk. Gadis itu membuka pintu dan memunculkan kepalanya.
"Masuk Terra, sini duduk!" titah seorang pria dengan senyum manis.
Terra menghampiri kursi yang berhadapan dengan rektornya. Tertulis nama di papan panjang Ir. Hardianto Nugroho S.H. M.E .Mpd.. Pria berusia sekitar empat puluhan itu tengah merapikan beberapa berkas di mejanya.
Terra duduk dengan manis. "Ada apa ya Pak, saya dipanggil ke sini, ap saya melakukan kesalahan?"
"Tidak ada. Maaf, ini memang mengejutkanmu. Tapi, saya selaku rektor sepertinya harus mengatakan ini," jelasnya panjang lebar.
"Begini Terra. Karena kecerdasan kamu. Kami menawarkan beasiswa full untuk progam pasca sarjana hingga ke jenjang S3," lanjutnya.
"Bagaimana, apa kau bersedia?" tanya rektor.
"Beasiswa full hingga S3?" pekik Terra tak percaya.
Rektor mengangguk. Melihat keterkejutan gadis di depannya. Seperti mendapat lotere dengan hadiah jackpot besar.
"Saya mau Pak. Tapi ... ada syaratnya nggak Pak?"
"Tidak ada. Selain kamu mempertahankan nilai-nilai kamu, di atas tiga koma!" jawab rektor terkekeh.
"Baik Pak. Saya, mau. Saya akan melakukan yang terbaik agar beasiswa ini tidak sia-sia," ujar Terra antusias.
"Bagus. Karena data kamu semua sudah lengkap, juga transkip nilai kamu jiga sudah keluar. Jadi, semester depan. Kamu tidak perlu memikirkan biaya apapun, dan ... ini tabungan dan kartu debitnya, buat keperluan satu bulan biaya lain di luar kampus, seperti fotokopi, beli diktat atau bayar bulanan keanggotaan perpustakaan kampus," ujar rektor menyerahkan sebuah buku dan kartu debit.
Terra bergetar menerima kartu debit berikut buku tabungannya. Hanya iseng ia membuka buku itu. Matanya terbelalak melihat deretan angka yang tercetak di sana.
"I-ini ... beneran jumlahnya?' cicit Terra gugup.
"Iya, memang segitu nominal satu bulannya untuk keperluan mahasiswi kami yang berprestasi," jelas rektor dengan ekspresi tenang.
"Tapi, seratus dua puluh juta itu terlalu berlebihan, Pak!' ujarnya sedikit meninggikan suaranya.
Rektor itu tersenyum. dalam hatinya baru kali ini ada perempuan yang menerima uang heboh tidak percaya.
"Kalau saya nolak beasiswa ini, Pak?" tanya Terra ragu.
"Apa tidak sayang?" tanya rektor lagi. "Semua itu keputusan mu."
Terra menutup matanya. Menghela napas. Ia sedikit berlebihan dengan angka fantastis yang diberikan beasiswa tersebut.
"Maaf Pak. Bukan saya sombong. Tapi, ini diluar batas kewajaran. Karena dalam hitungan saya, pengeluaran hingga dua tahun ajaran saja. Uang beasiswa ini baru habis," jelas Terra. "Saya menolak beasiswa ini."
Terra menjulurkan kembali dua benda tersebut ke depan rektornya. Ia berdiri kemudian membungkuk hormat. Ia sedikit telat ke rumah sakit. Sore ini Darren boleh pulang.
Setelah gadis itu keluar ruangan. Rektor itu mengambil ponsel dan menekan sebuah nama.
"Ditolak, Pak," ujarnya setelah nada tersambung.
"...."
"Baik, Pak. Saya mengerti. Selamat sore!" ujarnya lagi kemudian menutup sambungan telepon.
"Tak secerdas seperti kelihatannya. Masa uang segini banyak ditolak, coba putriku yang menerima ini. Sudah pasti dia akan senang dan kebutuhan lainnya bisa terbantu," ujarnya bermonolog sambil mendesah kecewa.
Sedang di rumah sakit. Terra dan anak-anak dibantu oleh bik Romlah, sudah keluar dari ruangannya. Terra sengaja tidak memberitahukan kepulangannya kepada Haidar. Padahal baik Kanya maupun Haidar terus bertanya kapan mereka pulang. Tak mau merepotkan, itu alasan Terra tidak memberitahukan kepulangan mereka.
Terra sudah menyewa satu unit apartemen berikut isinya. Darren sangat antusias ketika, gadis itu mengatakan jika mereka akan pindah rumah.
Di jalan Terra mendapat kabar, jika semua pelamar hanya mampu menembus level lima. Sedang gadis yang menjadi incaran Terra hanya mampu sampai level tujuh. Hal itu membuat Terra sedikit kecewa. Padahal ia sangat yakin dengan kemampuan gadis cupu itu.
"Apa kepintarannya tidak seperti yang diperlihatkan? Game itu kan mudah sekali," ujarnya gemas pada diri sendiri.
Setelah sampai sebuah gedung bertingkat. Terra mengajak semuanya turun dan masuk hunian baru mereka. Naik lift dan sampai pada unit apartemen yang ia sewa.
Kartu akses masuk sudah ia dapatkan sebelumnya. Gadis itu mengajak anak-anaknya. Darren langsung ingin punya kamar sendiri. Terra tidak mengijinkan. Karena masih takut jika putranya akan terbangun mengigau.
"Tapi, Darren mau tidur sendiri Ma!" rengeknya.
Akhirnya Terra menyerah. Pria kecil itu begitu senang. Ia langsung memilih kamar tengah. Apartemen yang gadis itu sewa cukup besar. Ada tiga kamar dan dua kamar mandi. Dapur dan ruang makan juga ruang tengah yang disekat dan ruang tamu yang lumayan nyaman dengan sofa panjang dan meja kecil.
Terra masuk kamar utama. Bik Romlah membantu membereskan semua pakaiannya ke dalam lemari.
Rion sudah tidur dalam gendongan Terra. Gadis itu meletakkan bayi tampan itu di atas kasur king sizenya. Lidya juga langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya kemudian ia tertidur. Tampaknya gadis kecil itu kelelahan.
Ponsel Terra berbunyi. "Pak Haidar". Nama yang tertera pada layar ponsel. Terra membulirkan bulatan hijau, menerima telepon dari kekasihnya.
"Assalamualaikum," sapa Terra.
"....."
"Iya, Te udah pulang dari rumah sakit. Sekarang ada di apartemen Green palace, unit 207," jelas Terra.
".....!"
"hehehe. Maaf. Iya, Te tunggu Mas datang ke sini," ujar Terra terkekeh.
Sambungan ponsel terputus. Bik Romlah sudah selesai membereskan semua pakaian. Memang tidak banyak. Karena dari awal Terra tidak begitu banyak membawa barang.
Darren datang masuk kamar. Pria itu menarik tasnya dan menyusun di lemari pakaian. Terra tersenyum. Ia sangat tahu jika pria kecilnya tidak betah jika sendirian.
"Mama ... Darren bobo sama Mama aja, ya," pintanya dengan mata berkaca-kaca.
Terra memeluk Darren erat. Tentu saja pria kecil itu boleh tidur dengannya. Ia yakin, trauma itu belum hilang sepenuhnya.
"Boleh sayang. Kamu istirahat dulu. Nanti Mama bangunin pas Maghrib, oke," ujar Terra yang ditanggapi anggukan oleh Darren.
Setelah Darren tidur. Terra keluar untuk membuatkan makanan. Ia melihat isi kulkas. Kosong.
"Bik, Te belanja dulu ya, titip anak-anak," titahnya pada perempuan yang sudah bekerja dengannya selama lebih satu bulan ini.
Beruntung di lantai dasar apartemen ada mall yang menjual kebutuhan pokok. Jadi Terra tidak jauh-jauh pergi berbelanja. Di sana ia bertemu dengan Haidar.
Mendapat protes keras karena tidak memberitahukan kepulangannya dari rumah sakit. Terra hanya tertawa. Gadis itu memang sedang rindu dengan ocehan Haidar kekasihnya.
bersambung ...
yuk like love and vote ya
makasih