TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
GALA DINNER



Sebuah hotel berbintang lima,.tengah diselenggarakan sebuah acara mewah yang memang terjadi setiap tahunnya. Acara itu digelar untuk para kaula bisnis saling mengenal satu sama lain. Jika beruntung mereka akan menjalin satu kerjasama yang baik. Bisa jadi satu barteran tender besar terjadi di pesta ini.


Haidar datang bersama kedua orangtuanya. Bram yang masih berkutat dalam bisnis tentu menjadi sorotan. Ayah dan anak itu memakai pakaian taxedo mahal dan elegan..Kanya juga memakai gaun warna coklat tanah. Tubuhnya yang masih terjaga, membuatnya tampil sangat elegan.


Karina datang sendiri, ia tak membawa putranya. Sebagai CEO yang juga sangat terpandang. Dirinya juga hadir di pesta mewah ini. Wanita itu memakai gaun dengan bahu model sabrina dengan ekor menyeret lantai berwarna navi. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Dandanan natural, dengan rambut disanggul ke atas secara asal. Hingga riapan rambut tergerai satu-satu, menimbulkan kesan seksi. Karina hanya memakai perhiasan kalung berlian dengan mata Rubi merah. Berkesan sangat mewah.


Sepasang mata menatap Karina dengan lekat. Kilatan cemburu masih terlihat di netranya yang beriris coklat tua. Dadanya bergemuruh. Melihat para pria memandang mantan istrinya begitu dalam .


"Cis ... wanita murahan! Ternyata kau penggoda juga, ya!" makinya dalam hati.


Satu persatu para pebisnis handal datang. Harun pun datang bersama istri juga putrinya yang berdandan sangat cantik. Baju seragam menjadi pilihan ibu dan anak. Ravlina memakai gaun lengan panjang dengan belahan dada berbentuk V warna biru elektrik. Hanya mengenakan perhiasan kalung emas dengan liontin batu emerald. Begitu mewah dan mahal.


Sedangkan Sevriana mengenakan dress mini panjang di atas lutut, hingga mengekspose pahanya yang mulus. Dengan bahu terbuka berbentuk kemben, warna senada dengan ibunya. rambut dibiarkan tergerai.


Bisa dibilang, suasana pesta itu, memamerkan seluruh kekayaan mereka, dengan pakaian yang mewah juga berharga fantastis.


Tiba-tiba suasana hening. Ketika semua mata terpana pada satu titik di depan pintu masuk. Sosok gadis yang sangat cantik, dengan balutan gaun sopan dengan belahan dada tinggi, hanya memamerkan bahu dan tulang selangkanya yang indah. Gaun dengan model bawah yang mengembang, lengan panjang berwarna putih gading. Rambutnya hanya di kuncir tengah dan diberi aksen bando bertaburan swaroski. Tubuh tinggi dan proporsional bak model. Polesan wajah ber-make up tipis, terkesan natural tapi tidak menghilangkan kecantikannya. Terra tersenyum manis.


Semua mata pria yang memandangnya enggan berkedip. Hingga tak ayal membuat iri pada wanita, termasuk Kanya dan Karina.


"Putri kita cantik, ya Ma!" puji Bram, ketika melihat Terra.


Tiba-tiba muncullah Darren, Lidya dan Rion yang digendong oleh seorang wanita berusia tiga puluhan. Kesemuanya memakai pakaian terabuk mereka.


Darren memakai jas formal berwarna putih. Sangat tampan. Lidya memakai dress cantik dengan rok mengembang, yang juga berwarna putih. Sedang Rion pun mengenakan baju formal dengan warna senada. Hanya Bik Romlah memakai baju tunik warna biru di padu celana warna senada.


Mereka berlima masuk secara bersamaan. Terra tak peduli dengan pandangan orang. Ia tak mau meninggalkan ketiga anaknya walau di rumah sudah ada pembantu baru. Hanya, Bik Romlah lah ia percaya menjaga ketiga anaknya. Tapi, malam itu ketiganya tak mau ditinggal. Makanya Terra membawa mereka.


Terra menggandeng Lidya dan Darren di sisi kanan dan kirinya. Mencari sosok yang ia kenal. Rommy datang bersama asisten pribadinya, Aden. Pria itu terlebih dahulu menyapa Terra dan anak-anak.


Kanya langsung menghampiri begitu juga Karina. Mereka tidak menyangka jika gadis itu membawa ketiga anaknya dalam acara itu.


"Sayang, kenapa kamu bawa anak-anak? Ini acara bukan diperuntukkan anak seusia mereka," tegur Kanya.


"Iya, Ma. Tapi, mereka menangis jika ditinggal, lagi pula, Te, juga nggak mau ninggalin mereka," jelas Terra dengan nada merasa bersalah.


"Ah ... nggak apa-apa, biar aja. Kita ada pemandangan baru dengan munculnya anak-anak. Bukankah mereka juga calon-calon pemimpin perusahaan nantinya. Papa rasa, pihak acara harus mengubah konsep, agar even seperti ini juga ramah dengan anak," jelas Bram panjang lebar membela Terra.


Kanya mengerucut bibirnya. Ia kesal jika Bram selalu membela Terra. Tapi, ia tak pernah marah pada gadis kesayangannya itu.


"Tau begini, aku juga bawa Raka!" sesal Karina.


"Apa kau tak malu dengan dia?" tanya Haidar sambil menunjuk pria yang sedari tadi memperhatikan kakak kandungnya.


Terra yang tidak mengetahui apa-apa, hanya diam tak mau ikut campur. Tiba-tiba Lidya menarik baju Kanya.


"Oma ... ini acala apa syih. Tok olang-olang pada pate badu badus-badus, tapi eundak ada anat teusil?' Kanya tak mengerti.


"Ini acara pesta untuk orang dewasa sayang. Kan tadi Mama bilang," Terra mewakili Kanya menjawab pertanyaan Lidya.


Layaknya orang dewasa. Lidya mengangguk tanda mengerti. Terra berlalu, ia ingin memesan jus orange untuk Lidya dan Darren. Sedang Rion asik dengan empengnya.


Keluarga Pratama duduk di tempat yang telah disediakan, begitu juga dengan Terra, yang memakai nama keluarga Hudoyo.


Hal yang sama dilakukan oleh para tamu yang membawa keluarga mereka.


Sevriana yang melihat kedekatan Haidar dan Terra jadi cemburu. Matanya hanya menatap sinis gadis yang sedang bercanda dengan bayi laki-laki yang digendong pengasuhnya.


"Apa sih hebatnya, perempuan itu?!' runtuk Sev kesal setengah mati.


"Kenapa kau kesal, Sev?" tanya Harun.


"Itu, kenapa Haidar malah menempatkan kursinya di meja bersama perempuan gatel itu!" runtuk Sev manyun..


Harun menoleh pandangannya ke tempat di mana Terra duduk. Apa yang dikatakan putrinya benar. Haidar ada di sana sedang bercengkrama.


Harun menatap wajah Terra sangat lama. Sebenarnya hatinya juga tergoda melihat kecantikan gadis itu di atas rata-rata. Ia mengakui jika Terra merupakan bintangnya di acara ini.


Melihat sang ayah hanya diam tanpa kata. Sev malah menangkap jika ayahnya justru terkesan akan adanya gadis yang kini bersama pria incarannya.


"Ih, Daddy!" pekiknya tak terima.


Harun tersadar akan perbuatannya. Bukannya malu karena ketahuan putrinya. Pria itu malah mendelik memperingati agar Sev tidak bertingkah macam-macam hingga membuatnya malu.


Sev makin mengerucutkan bibirnya. Sedang Ravlina, hanya diam. Wanita itu tidak mau menegur perbuatan suaminya. Jika tak mau ada pertengkaran di rumah. Wanita itu memilih diam dan membiarkan saja.


Hidangan disiapkan dan diantarkan ke meja masing-masing. Banyak pria memilih makan satu meja dengan Terra dan ketiga anaknya. Hal itu membuat Haidar cemburu.


Namun sebisa mungkin, ia tak memperlihatkan kecemburuannya hingga membuatnya malu.


bersambung


next?