TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEKELUMIT KISAH 2



Hari ini kembali Lidya pergi ke Eropa kali ini, ia bersama Gio, Juan dan Rendi yang menjadi pengawal gadis itu. Tak ada tangis seperti pertama kali ia pergi ke Eropa. Padahal yang sekarang jauh lebih lama. Sriani juga ikut bersamanya. Cucunya yang keempat lahir dan berjenis kelamin perempuan, satu bulan yang lalu. Ia tak menyangka anak perempuannya bisa memiliki anak banyak. Ia mengira anaknya hanya satu saja. Ternyata Tuhan memberinya lebih.


Delapan jam perjalanan mereka tempuh. Dengan menggunakan jet milik Herman kali ini. Mereka sampai subuh. Pengawal Bart yang menjemput semuanya.


Sampai kastil. Mereka semua masuk dan beristirahat. Sriani malah langsung ke kamar Widya. Ia tahu jika putrinya pasti bersama bayinya.


"Sayang," panggil wanita paru baya itu.


"Ibu ...," sahut Widya sambil mengerjap.


"Tidur lah lagi, Nak. Aku tau, kau pasti baru tidur karena menyusui bayimu," ucap Sriani lalu mengecup kening putrinya.


Widya pun kembali tertidur. Sedang anak-anak yang lain tidur bersama ayah mereka. Kecuali Ella yang sudah memiliki kamar sendiri. Sriani pun ke kamar yang disediakan untuknya. Ia pun menyusun semua pakaiannya.


Sedang di kamar lain Lidya telah menyusun semua jadwalnya. Lusa ia akan memberi presentasi pengobatan "Healing Touch dan Hug". Gadis itu sudah mempersiapkan dirinya.


Bahkan semenjak seminggu ia sudah berpuasa agar apa yang ia terapkan bisa tersampaikan dan Tuhan merestuinya.


Tok ... tok ... tok!


"Grandpa!' panggilnya ketika ia membuka pintu.


Bart tersenyum lebar. Pria itu memeluk gadis kebanggaannya. Menciumi wajah mungil Lidya.


"Bagaimana keadaan di sana. Apa mereka seperti awal ketika mengantarmu ke bandara?" tanya Bart sambil terkekeh.


Lidya tersenyum. "Tidak Grandpa. Malahan, mereka nyaris lupa jika hari ini Iya pergi ke Eropa selama satu bulan."


"Istirahat lah, sayang," titah pria tua itu.


"Baik Grandpa," ujar Lidya menurut.


Sedang di tempat lain. Darren yang tengah mengawasi pengerjaan proyek terkejut dengan pilar yang tiba-tiba jatuh karena angin kencang. Beberapa pekerja yang melihat pilar mau jatuh berteriak. Dia bersama Iskandar. Sedang Rommy dan Aden di perusahaan.


"Menyingkir dari sana!"


Semua berlarian. Hanya sepersekian detik tiang itu benar-benar roboh. Dentuman keras dan tanah sedikit bergoyang akibat jatuhnya pilar baja seberat seribu ton itu.


"Ada yang terluka!" teriak salah satu pekerja.


Darren berlari mendatangi lokasi kecelakaan. Budiman, Felix dan Hendra pun ikut berlari mengejar tuan mudanya. Ia tak boleh membiarkan Darren ikut terluka. Hendra langsung merangkul Darren agar tak terjun langsung ke area yang berbahaya. Pemuda itu sempat meronta. Iskandar yang turun ke lokasi.


"Karyawanku!" bentaknya.


Hendra ikut mengurung Darren agar tak berbuat nekat. Budiman sampai marah pada pemuda itu.


"Ada yang menanganinya. Tenanglah!"


Darren akhirnya berhenti memberontak. Tetapi, Felix dan Hendra tak melonggarkan pelukan mereka. Hingga semuanya aman baru lah keduanya melonggarkan pelukan mereka.


"Bagaimana?" tanya Darren..


"Ada dua orang terluka karena serpihan batu yang terlontar akibat jatuhnya pilar itu. Pelipis mereka robek dan sebagian nyaris mengenai mata," jelas Iskandar.


"Pak. Ada yang kakinya patah. Terperosok dalam parit karena berlari tadi!' lapor kepala proyek.


"Bawa semua ke mobil saya! dan bawa yang terluka ke rumah sakit. Untuk yang lain tenangkan!" titah Darren.


Tiga orang terluka dibawa beberapa karyawan. Budiman juga ikut mengantar . Sedang Felix dan Hendra akan mengikuti dari belakang. Sementara Iskandar tetap berada di lokasi proyek untuk menangani semuanya.


Ketiga pria itu berwajah pucat. Kening yang robek masih menetes darah padahal sudah diberikan pertolongan pertama. Rupanya luka cukup dalam. Begitu juga yang nyaris mengenai mata. Sedangkan yang patah kaki, sedikit meringis.


"Tenang ya. Tahan sedikit, kita akan ke rumah sakit!" ujar Budiman menenangkan.


Butuh waktu setengah jam mereka baru sampai ke rumah sakit. Darren langsung keluar dan berteriak jika ada korban terluka. Aini yang memang bertugas di unit gawat darurat, langsung membawa brangkar.


"Ada tiga pasien Dok!" seru Darren panik.


Beberapa perawat pun membawa dua lagi brangkar. Aini membantu pria-pria itu berbaring di brangkar. Pertama yang ditangani adalah pria yang mengalami patah tulang terlebih dahulu.


"Maaf Pak, untuk korban patah tulang. Kami butuh persetujuan untuk melakukan operasi!" jelas Aini pada Darren.


"Ah ya, saya yang mewakili mereka semua!' ujar Darren.


Aini meminta perawat mengambil surat perjanjian untuk penanganan operasi darurat. Para dokter ortopedi pun datang juga dokter bedah. Sedang yang lain. Aini tangani sendiri. Menjahit luka-luka pada pelipis dan dekat mata.


Untuk luka pelipis, hanya sekitar dua puluh menit. Keduanya bisa ditangani. Kini keduanya tengah beristirahat dan menenangkan diri.


"Dua korban ini bisa pulang. Dan mohon datang lagi paling lama satu minggu kemudian, untuk membuka jahitannya," jelas Aini.


"Ini tolong tebus obat yang mesti mereka konsumsi," lanjutnya.


Darren menerima resep itu dan menyerahkan pada Felix.


"Om Felix, antar mereka berdua pulang. Kita istirahatkan mereka hingga lepas jahitan dan tolong tebus obat ini juga ya," pinta Darren.


"Baik Tuan!" ujar Felix menerima dua resep itu.


Pria itu pergi bersama dua korban yang disuruh istirahat. Sedang Hendra menemani atasannya bersama Budiman. Mereka menunggu karyawan yang tengah dioperasikan karena patah tulang.


Satu jam mereka menunggu. Akhirnya dokter keluar. Operasi selesai.


"Bagaimana Dok?" tanya Darren was-was.


"Kaki pasien retak, kami melakukan berbagai perbaikan untuk mengatasi retakan tersebut. Kaki sudah di gips. Tinggal tunggu perkembangannya beberapa hari ini!" jelas dokter.


Karyawan itu pun sudah berada di ruang perawatan. Pria itu mengucapkan terima kasih. Istri pria itu datang bersama anaknya yang masih kecil.


"Jangan khawatir. Suami Ibu bisa berjalan kembali. Pihak perusahaan juga tak akan lepas tangan. Akan ada asuransi untuk kesejahteraan ibu dan anak ke depannya," jelas Darren.


"Terima kasih, Pak!" ujar wanita itu.


Istri dan anak itu mendatangi brangkar sang suami. Sang anak menangis melihat kondisi ayahnya yang terbujur dengan kaki di gips.


"Bapak ... huuu ...!"


"Bapak nggak apa-apa kok. Asep tenang ya. Banyak doa, biar Bapak cepat sembuh. Nanti kita main bola, ya," ujar pria itu menenangkan. putranya.


Darren terharu. Ia pun meninggalkan karyawan malang itu bersama anak dan istrinya. Darren memilih pelayanan kelas VIP, agar pengobatan pria itu tertangani secara baik.


Darren nyaris bertabrakan dengan Aini ketika keluar pintu ruangan. Gadis itu juga ingin memeriksa satu pasien yang ada di sebelah brangkar karyawannya.


"Astaghfirullah!" seru keduanya.


Darren membuka jalan ke kiri, Aini juga ke kiri, begitu ke kanan gadis itu ikut ke kanan. Keduanya kini saling tatap. Darren menatap netra pekat di hadapannya sedang Aini menatap netra coklat terang pada pria di depannya.


Budiman mendengkus. Ia nyaris mendekati kedua insan yang saling tatap itu, tapi Hendra menahan dengan mencekal tangan pria posesif itu.


"Tuan, biarkan ia merasakan jatuh cinta," bujuknya.


bersambung.


iya bener tuh ... Darren udah gede om Pudi!


next?