TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG 3



"Om Pudi, bali nana?" tanya Rion setelah melompati Budi dan pria itu harus menangkapnya.


"Dari jalan-jalan," jawab pria itu.


Rion tergelak ketika Budiman menangkap tubuh sekaligus menggelitiknya.


"Balan-palan penana? to emba adat Ion?" tanya bayi gembul itu dengan sorot mata menyelidik.


"Kepo deh Tuan baby," jawab Budiman.


"Hahaha ... Om Pudi peto!" pekik Rion sambil terbahak karena kegelian.


"Om Pudi eh Om Budi, Tepo itu apa?" tanya Lidya yang asik mengelus bonekanya.


"Eemmm ... apa ya?" Budiman berpikir keras. Ia butuh jawaban yang benar agar kedua balita ini paham.


"Kepo itu, seperti ingin tahu semua urusan orang," jawabnya kemudian.


Lidya pun mengangguk tanda mengerti. Sedang Rion masih sibuk menubruk tubuhnya dengan tubuh Budiman. Bayi montok itu sibuk melompat dan harus ditangkap pria itu. Pekerjaan yang sangat melelahkan.


Budiman melihat jam di dinding. Kakek Terra dan keluarga memilih tinggal di mansion Virgou. Mereka tak mau mengganggu kehidupan baru Terra.


Minggu besok baru mereka datang kemari. Budiman melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11.45. waktunya anak-anak makan siang.


"Bik, apa makanan anak-anak sudah siap?' tanya Budiman.


"Sudah Tuan, ini sedang disiapkan," jawab Ani.


"Ayo, cuci tangan dulu. Trus kita makan," ajak Budiman.


Kedua balita itu langsung minta gendong. Dengan sigap pria itu menggendong keduanya. Meletakkan Lidya di atas dekat wastafel dan membantu mencuci tangan Rion.


Tadinya bayi itu hendak bermain air. Namun, dengan sigap Budiman mematikan air. Rion nampak kesal.


"Om Pudi!"


Budiman langsung mengangkat bayi itu dan meletakkannya di kursi khususnya. Lalu membantu Lidya mencucikan tangannya.


Setelah selesai mendudukkan Lidya di kursinya. Romlah menyajikan makanan di piring melamin. Lidya sudah bisa makan dengan rapi. Hanya Rion masih ngambek. Bayi itu hendak menumpahkan makanannya.


"Baby," panggil Budiman.


Jika Budiman sudah memanggilnya seperti itu. Rion akhirnya memakan makanannya. Sesekali Budiman membantu bayi montok itu. Pria itu masih kenyang. Ia akan menunggu Darren pulang. Biasanya jam satu siang, pria kecil itu sudah sampai rumah.


Terra akan pulang sore. Karena hari ini dia akan pergi ke perusahaannya. Mengadakan rapat sekaligus memperkenalkan Gabrielle sebagai staf khusus bagian IT selevel dengan Viola. Terra sudah memberinya pesan tadi. Sedang Haidar juga akan pulang nanti sore dan menjemput istrinya.


Usai makan, Budiman membiarkan anak-anak main sebentar. Kemudian menyuruh mereka untuk tidur siang. Romlah memberikan susu untuk Rion. Mereka pun masuk kamar.


Lidya dan Rion pun naik sendiri ke atas tempat tidur. Budiman hanya mengawasi sambil menyalakan pendingin ruangan. Kemudian meyerahkan botol susu pada Rion. Menarik selimut menutupi setengah tubuh mereka.


Budiman menepuk-nepuk paha keduanya bergantian. Akhirnya mereka pun tidur. Budiman pun keluar kamar.


Ia pun hanya menutup sedikit pintu tidak terlalu rapat. Kemudian ia pun pergi ke teras mengobrol dengan Deno.


Pukul 01.13. Darren pulang dengan wajah lelah. Ia mengucap salam.


"Assalamualaikum, Om Budi sudah pulang?" tanyanya dengan wajah semringah.


"Wa'alaikum salam, Sudah Tuan muda," balas Budiman sambil menjawab pertanyaan Darren.


"Kalau begitu Darren masuk dulu, ya. Om belum makan siang kan?" Budiman mengangguk.


"Kalau begitu, nanti temani Darren makan siang, ya," ajak Darren sambil meminta.


"Baik, Tuan muda," jawab Budiman dengan hati hangat.


'Aku sudah pulang ke rumah yang tepat,' gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba pintu pagar terbuka. Sebuah mobil sedan warna putih masuk. Pria itu langsung mengenali siapa pemilik mobil itu.


"Mas tolongin aku dong!"


Budiman setengah berlari menghampiri Karina.


"Tolong gendong Raka," pintanya memohon.


Budiman langsung ke arah bocah istimewa itu. Nampak bocah itu tengah menggoyangkan tubuhnya. Seakan tahu kenapa Karina panik. Raka sedang berusaha melukai dirinya sendiri.


Budiman langsung mendekap tubuh bocah spesial itu. Ada sedikit pemberontakan. Tapi, lambat laun mulai tenang.


Budiman langsung menggendong Raka dan membawanya ke dalam rumah, diikuti Karina.


Sesampainya di sana, Darren sudah berganti pakaian. Ia nampak khawatir dengan kondisi kakak iparnya itu.


"Kakak Raka, kenapa Mommy?" tanyanya.


"Kakak Raka sedang sakit, sayang," jawab Karina sedih.


"Apa therapy-nya berjalan lancar?" tanya Budiman.


"Selama ini lancar. Tadi itu kesalahan saya, karena di jalan saya memaki orang yang pura-pura cacat. Hal itu membuat Raka terkejut dan meronta seperti tadi," jelas Karina dengan rasa bersalah.


Tiba-tiba Lidya terbangun, memanggil mamanya. Karina bergegas ke kamar Terra dan langsung menggendong Lidya. Hanya Lidya yang bisa menenangkan Raka dengan baik.


"Tata Lata tenapa Mommy?" tanya Lidya dengan suara kecilnya.


"Kakak, sakit lagi," jawab Karina.


Lidya pun meminta turun dari gendongan Karina. Raka yang sedang berteriak-teriak tiba-tiba terdiam ketika Lidya memanggilnya.


"Tata Lata! di syini ada Iya!"


"Heeeh!"


Budiman melepas pelukannya. Gadis kecil itu langsung menghampiri dan memeluk Raka. Bocah spesial yang tadinya menatap kosong tiba-tiba tenang dan membalas pelukan Lidya.


"Tidat apa-apa. Ada Iya di syini," ucap Lidya menenangkan Raka.


Karina menangis. Ia tak tahu kekuatan apa yang terletak pada pelukan gadis kecil itu. Sebagai seorang ibu, ia merasa gagal melindungi Raka. Karena pelukannya jarang bahkan nyaris tidak pernah membuat Raka setenang ini.


Budiman menatap wanita yang kini menutup mulut dengan linangan air mata. Ia tahu, jika Karina sedang menahan kesedihan yang dalam.


Deg!


Jantung Budiman tiba-tiba berdenyut aneh. Desiran halus merasuk sampai ke pori-pori. Netra sedih itu menatap netranya. Pandangan mereka saling mengunci. Budiman mencoba memberi kekuatan pada wanita rapuh dihadapannya lewat tatapan.


Karina menyambut tatapan Budiman. Ia sedikit tenang dan menghapus jejak air matanya. Ia pun mendekati Lidya yang masih memeluk putranya.


"Mommy juga minta peluk dong," pintanya.


Lidya mengendurkan pelukannya. Raka tersenyum pada ibu juga gadis kecil penenang jiwanya.


Nyes!


Hati Karina seketika ngilu, ketika Lidya memeluknya. Ia pun runtuh, menangis kencang di dada kecil Lidya.


"Syudah ... tidat apa-apa, ada Iya di syini," ucapnya menenangkan Karina.


Budiman terharu. Ia sangat yakin untuk menetapkan hati, kemana ia akan pulang nanti.


bersambung.


ah ... Lidya ... ba bowu.


next?