
Hari berlalu, waktu berganti. Hubungan Virgou dan Puspita makin dekat. Bahkan minggu ini, ia memboyong semua keluarga untuk meminang gadis pujaannya itu.
Bart, Haidar dan Terra, juga Leon dan Frans serta Gabriel, putra Frans. Tak hanya itu tiga anak Terra tak ketinggalan.
Semua di sambut oleh kedua orang tua Puspita. Basri selaku ayah senang bukan main. Virgou bisa lolos dari semua ujian yang ia berikan. Tinggal selangkah lagi. Jika Tuhan menghendaki. Semua pasti terjadi.
Semua duduk dan memulai dengan obrolan ringan. Hingga pada inti acara yaitu pelamaran.
"Pa. Saya tahu, saya bukan pria yang awalnya adalah pria baik-baik. Saya adalah pria yang jauh dari kata sempurna. Tapi, saya meyakinkan pada Papa. Jika saya akan membahagiakan putri Papa semampu saya," ucap Virgou panjang lebar.
Terra begitu terharu mendengar perkataan Virgou. Begitu juga Puspita. Basri dan Shama hanya tersenyum lebar.
"Saya, tidak melihat masa lalu kamu, Nak Virgou. Saya hanya ingin titip pesan," ucap Basri memotong perkataannya.
"Jika nanti, Nak Virgou tak mencintai putri Papa lagi atau sudah bosan dengan Puspita. Tolong jangan sakiti dia, atau mengacuhkannya. Langsung kau kembalikan pada Papa," pinta Basri dengan suara tercekat.
"Kami mendapatkan Puspita dengan cara imseminasi buatan sebanyak dua kali baru mendapatkan Puspita, makanya dia adalah jantung rumah ini, Nak," lanjutnya dengan suara terbata.
Virgou tertunduk. Puspita meneteskan air mata. Sedang Shama tampak tegar. Sebentar lagi tugasnya sebagai orang tua selesai.
"Tolong jaga jantung kami, ini Nak. Kami akan mati jika kau lukai jantung kami," lanjutnya lalu menghapus air matanya kasar.
Semua diam tertunduk. Virgou menghela napas menahan sesak. Jujur ia akui hidup barunya membuat ia jadi lebih perasa.
"Inshaallah, Pa. Saya akan menjaga jantung rumah ini. Karena jujur, Ita juga merupakan jantung saya. Tidak mungkin saya menyakiti jantung saya sendiri," sahut Virgou dengan tenang dan penuh ketegasan.
"Jadi tujuan, Nak Virgou sekeluarga apa?" tanya Shama.
"Saya ingin melamar Puspita Hasan untuk menjadi istri saya," pinta Virgou lagi.
"Kalau kami berdua sih setuju-setuju saja. Selain usianya yang juga sudah matang. Saya juga takut, jika dia lebih lama berstatus jomblonya," seloroh Shama.
"Jadi sekarang tinggal Ita, setuju atau tidak dengan lamaran ini karena dia yang menjalani nantinya," lanjutnya lagi.
"Saya setuju," jawab Puspita malu-malu.
Semua mengucap hamdalah. Kecuali, Bart, Frans, Leon dan Gabriel. Tapi, mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Basri tahu jika keluarga Virgou adalah non Islam.
Menu hari ini adalah masakan Aceh dan Minang. Bumbu rempah khas Sumatera langsung menggugah selera. Rendang menjadi incaran semuanya. Termasuk Bart, Frans dan Leon. Mereka sangat lahap memakan makanan itu.
"Ini enak sekali, boleh saya bawa pulang beberapa potong saja?' pinta Leon sambil menikmati rendang daging yang empuk.
"Tentu saja, kami sudah menyiapkan dalam wadah, yang bisa dibawa pulang," ujar Shama kemudian.
Beruntung rendang nya tidak pedas, namun bagi anak sekecil Lidya dan Rion tentu itu sudah pedas. Muka mereka memerah karena kepedasan.
"Mama ... edes ... huhah ... huhah!' ujar Lidya. Keringat menetes di dahinya.
"Dedes Ma ... dedes!" Ion menolak makan lagi.
"Duh masih kepedesan ya, padahal itu yang tidak pakai cabai sama sekali," ucap Shama merasa kasihan pada dua bayi itu.
Sedang Darren sangat lahap memakan makanan enak itu. Walau keringat menetes di dahinya karena pedas. Tapi, ia masih kuat.
"Makan timunnya biar nggak pedes," ujar Terra.
Rion memakan timun itu juga Lidya. Setelah hilang pedasnya. Mereka minta disuapi lagi.
Acara makan-makan sudah usai. Mereka kini sedang mengobrol. Bart hanya menceritakan jika dirinya adalah kakek yang kejam pada Virgou ketika pria ini kecil dulu. Basri merangkul Bart. Menenangkan pria tua itu.
"Semua orang punya salah. Dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ujar Basri bijak.
Bart mengucap terima kasih. Ia pun memeluk Puspita. Bersalaman dengan Shama.
Akhirnya keluarga Bart pulang, dengan membawa bekal. Bahkan tim pengawal juga dapat. Mereka kegirangan. Uang makan mereka tidak jadi berkurang.
Semua pulang. Rion meminta menyalakan audio. Semua mengorek kuping mereka dan bersiap menahan tawa. Beruntung Bart tidak satu mobil dengan Terra. Ia bersama Virgou. Mereka akan langsung ke mansion.
Musik terdengar. Rion mulai bergoyang. Haidar tiba-tiba bersin. Bayi montok itu berhenti bergoyang lalu menatap ayahnya dengan kerutan di dahi.
"Papa penata?" tanyanya lucu.
"Hidung Papa gatel sayang," jawab Haidar.
"Oh .. bidaluk don Pa," saran Rion sok bijak.
Hadiah nyaris tertawa mendengar saran bijak ala Rion. Namun ia akhirnya mengangguk.
"Pulutuk pa'a Ma?' tanya Rion.
"Eeemm ... apa ya?' Terra lupa, Rion belum berkenalan dengan makanan itu.
musik masih berbunyi. Akhirnya bayi itu kembali dengan aksinya berjoget dan bernyanyi.
"Mait-mait petumpat punun. pinti pindi setali ...
Mait- pait petuntat tunun. Pindi pinti sepali ... pili panan pu pihat taja ... lada bopon penala aa ... pini lanan pu bihat laja banat polon penala!"
Tampaknya Rion acuh dengan pertanyaan ibunya. Akhirnya Terra dan lainnya ikut bernyanyi bersama Rion. Bertepuk tangan. Rion paling keras suaranya.
"Pihat peduntu. Pewuh benan buna ... lada pan tupih ban lada pan lemah ... petiap lali pu pilam bemua ... mawaw metati ... memuanya timpah!'
Semua bertepuk tangan sambil tertawa. Itulah satu-satunya cara agar Rion tidak curiga jika mereka tertawa mendengar bayi menggemaskan itu bernyanyi. Mereka tidak akan kuat jika melihat bayi itu marah. Bukannya takut tapi tambah tertawa karena kelucuannya.
Rion akhirnya kelelahan bernyanyi. Ia pun juga tadi kekenyangan. Tapi, ia masih mau dot nya. Terra yakin, jika bobot putranya itu sudah naik lagi.
Bayi itu sudah bertambah tinggi. Bahkan gerakannya makin lama makin gesit. Budiman lah yang menjadi tumbal Rion dengan segala tingkahnya. Ada saja yang bayi itu lakukan untuk mengganggu pria tampan itu.
"Om Pudi!' panggilnya.
"Iya Tuan Baby?' sahut Budiman.
Namun, Bayi itu terus menghisap dotnya. Tangannya selalu bermain bibir ibunya.
"Om Pudi!" panggilannya lagi.
Budiman sengaja tak menjawab. Matanya masih fokus pada jalan yang dilalui.
"Om Pudi!" pekik Rion lagi dengan kesal.
"Hei ... kenapa ganggu Om Budi. kan Om Budi lagi nyetir sayang. Jangan diganggu ya," peringat Terra pada bayinya.
"Oteh," sahut Rion lalu menghisap dotnya lagi.
Belum lima menit bayi itu diam. Lagi-lagi ia mengganggu Budiman.
"Om Pudi!"
"Iya Tuan Baby," sahut Budiman akhirnya.
Mereka sudah sampai rumah Terra. Butuh waktu nyaris dua jam. Macet parah dan ada hujan di beberapa tempat hingga ada air yang menggenang jalanan.
"Hai ... alhamdulillah sudah sampai," ujar Terra bersyukur.
Semua turun, Terra menyerah paper bag berisi makanan pada Romlah. Mereka semua masuk rumah setelah memberi salam.
Rion masih ingin mengganggu Budiman.
"Om Pudi!' panggilnya lagi.
"Iya Tuan Baby," sahut Budiman lagi.
"Ba bowu!"
Budiman pun tersenyum mendengar ungkapan itu. Haidar pun cemburu. Pria itu tak terima.
"Baby Papa nggak ba bowu?"
"Papa ba bowu Mama!"
"Papa juga ba bowu Baby!"
"Ion puga ba bowu Papa," ujarnya.
Haidar langsung menggendong Rion. Ia menciuminya. Akhirnya bayi montok itu pun tertidur digendong ayahnya.
bersambung.
ada-ada saja kelakuan Rion. akhirnya Virgou nikah
next?