
Fery dan Mia menatap sosok tegak yang menjulang. Mia beringsut takut. Tubuhnya gemetaran. Fery memeluk sang istri. Menyembunyikannya dari kemurkaan Budiman.
"Jangan marahi dia, marahi aku saja," pinta pria tua itu lirih.
Satu, dua, tiga buliran bening membasahi pipi keriput itu. Memeluk wanita yang sudah mulai kedinginan karena kehujanan.
Sakit!
Itu yang dirasakan Budiman. Melihat curahan ketenangan suami pada istrinya. Melindunginya dari apa pun. Pria itu mencoba berdiri dan mengangkat tubuh sang istri.
Budiman melihat darah yang menetes di dengkul ibunya. Perasaan perih mengukung hatinya. Bahkan Ia melihat ayahnya seperti menahan sakit ketika menopang tubuhnya.
"Untuk apa kalian datang!?"
Sebuah kegusaran dan ketidak sukaan, mereka tangkap dari nada bicara pria yang kini menatap mereka tajam. Fery, menyembunyikan tubuh istrinya dalam pelukan.
"Maafkan, kami jika mengganggu ketenangan anda, kami hanya datang minta maaf, itu saja," jawab Fery dengan suara bergetar. Pria itu mulai kedinginan.
Budiman melihat raut wajah tua yang menatapnya penuh kerinduan. Fery sadar, hari beranjak mulai gelap. Jika ia tak buru-buru, maka mereka akan tertinggal bus terakhir.
"Maafkan kami. Setelah ini, kami tidak akan mengganggu lagi," ujarnya lagi.
"Pak ...," panggil Mia lirih kesakitan.
"Tahan ya Bu. Kita harus sampai depan sana," ajak Fery lagi merengkuh kuat bahu istrinya.
Hujan makin deras. Budiman seperti terpaku. Ketika kedua insan itu meninggalkannya. Basah kuyup. Kaki pincang. Keduanya memaksa diri untuk terus berjalan. Walau terkadang sang istri berkali-kali hendak jatuh, tetapi suaminya menahan sekuat mungkin.
Budiman menjatuhkan payungnya. Hujan langsung membasahi tubuh kekarnya. Ia pun berlari ke arah kedua orang tuanya. Memeluk mereka dan menangis.
"Bapak ... Ibu ... jangan pergi ... hiks ... hiks!"
Mia tak tahan. Ia pun memeluk putranya, begitu juga Fery. Mereka bahagia, dengan pelukan itu. Putra mereka telah memaafkan keduanya.
"Terima kasih, Nak ... terima kasih," ujar Mia.
"Kita pulang, Bu, Pak," ajak Budiman.
"Ini, kami mau pulang, Nak. Maaf, kami tak bisa lama-lama, takut busnya sudah berangkat," ujar Fery lalu tersenyum penuh kelegaan.
Budiman malah menggiring mereka ke mobilnya. Kedua orang tua itu sedikit bingung. Budiman membuka pintu mobil. Mendorong mereka untuk masuk.
"Nak," panggil Fery masih takut untuk duduk di kursi mobil mahal itu.
Budiman sudah membeli mobil dan rumah dekat rumah Haidar. Ia tak ingin jauh dari rumah kliennya itu.
"Masuk, Pak, Bu!" titah Budiman.
Keduanya pun menurut. Mereka berpikir, putranya akan mengantarkan mereka ke terminal bus terdekat. Tetapi, mobil berjalan memutar kembali ke rumah pria itu.
"Nak, kok ke sini lagi. Kami mohon, nanti bus terakhir akan pergi," pinta Fery lagi.
Budiman tak menghiraukan perkataan ayahnya. Ia membunyikan klakson. Pintu gerbang terbuka. Ia pun memasukkan mobilnya ke garasi. Hujan semakin lebat di luar.
Budiman membukakan pintu mobil untuk kedua orang tuanya setelah ia keluar dari mobil. Gisel sudah menunggu dengan dua buah handuk.
Istri Budiman itu begitu senang, akhirnya sang suami menyingkirkan semua egonya. Lagi-lagi pria itu menggiring orang tuanya, untuk masuk ke dalam rumah.
"Bu, Pak. Ini istriku, Gisela Elizabeth Dougher Young," sahut Budiman memperkenalkan istrinya.
Sepasang manusia renta itu hanya menunduk hormat pada Gisel. Wanita itu sedih melihat ketakutan dari wajah keduanya.
"Ayo, Bu, Pak. Masuk," ajak Gisel menuntun sang ibu mertua.
Tetapi justru wanita itu mengeratkan tubuhnya di pelukan sang suami. Fery menenangkan istrinya.
"Ayo, Bu, kita masuk dulu," ajak Fery akhirnya.
Mereka masuk. Budiman menggiring mereka ke kamar tamu. Gisela telah menyiapkan semuanya. Pakaian ganti untuk kedua orang tua suaminya.
"Ini kamar mandi, Bapak dan Ibu bisa memakainya jika ingin membersihkan diri. Ganti bajunya ya, Pak, Bu. Sudah disiapkan semuanya," jelas Budiman pada dua orang tua yang masih ketakutan itu.
"Pak," panggil Mia.
"Kita turuti saja, ya. Bapak juga sudah kedinginan," sahut Fery.
Mereka berdua pun masuk untuk mandi bersama. Budiman melihat itu melalui pintu yang terbuka. Keduanya saling menyabuni dan membilas. Bahkan mengeringkan tubuh mereka bersama.
Budiman menitikkan air matanya. Betapa cinta keduanya begitu lekat. Bahkan tidak canggung untuk membasuh tubuh pasangan mereka tanpa napsu.
Fery memeras bajunya dan istri agar tak membasahi lantai. Mia pun membawa kantung kresek yang ia tempatkan dalam tas jinjingnya. setelah melipat dan meletakkan kembali pakaian kotor mereka dalam plastik.
Fery memakaikan baju pada Mia, begitu sebaliknya. Lagi-lagi mereka lakukan dengan penuh penghormatan pada pasangan, tanpa napsu.
Budiman meletakkan kotak P3K di atas ranjang. Menyuruh ibunya duduk. Fery menahan putranya untuk membersihkan luka di lutut Mia.
"Biar Bapak saja."
Fery pun membiarkan Budiman membersihkan luka dan mengobati lutut sang ibu dan menaruh perban dan memplesternya agar tak infeksi.
"Terima kasih, Nak," ujar Mia mengucap terima kasih.
"Pak, duduklah," pinta Budiman memaksa sang ayah duduk di pinggir ranjang.
Budiman, memeriksa kaki ayahnya yang terkilir. Sedikit menggerakkannya. Lalu tiba-tiba menariknya kuat hingga berbunyi.
"Innalilahi!" pekik Fery kesakitan.
"Coba Bapak gerakan?!" pinta Budiman.
Fery menggerakkan kakinya. Ia lega, kakinya tidak sakit lagi. Ia pun mengucap hamdalah.
"Bang, Bapak, Ibu. Yuk makan. Makan malam sudah siap," tiba-tiba Gisel datang memberitahu.
"Yuk, Bu, Pak," ajak Budiman mengamit tangan ibunya.
Mia menatap suaminya. Fery hanya mengangguk saja. Keduanya mengikuti kaki putra mereka. Budiman menggeser kursi dan menuntun ibunya duduk di situ lalu kursi sebelah ibunya juga ia geser untuk ayahnya.
Mereka pun duduk bersama dalam satu meja. Hidangan lezat sudah disiapkan. Gisel sudah memesan makanan itu tadi via online. Wanita itu belum memasak penuh. Budiman lebih suka makan di tempat Terra dibanding di. rumah. Gisel memang belum bisa masak, ia pun sibuk dengan urusan perusahaan suaminya. Bahkan ia pun suka numpang makan di kakak sepupunya itu.
"Kalian memang benar-benar CEO kere!" cibir Haidar pada sepasang suami istri itu.
"Ayo, Pak, Bu. Makan yang banyak. Ini sengaja disiapkan untuk Bapak dan Ibu," Gisel menuang nasi di piring Bapak Ibu mertuanya kemudian piring suaminya lalu piringnya sendiri.
Menuangkan lauk dan sayur pada piring sang suami. Begitu juga pada piring kedua mertuanya.
Semua makan dengan tenang. Mia bergetar memakan makanan lezat itu. Sepanjang ia hidup bersama suaminya Paling enak mereka makan telur dadar. Suaminya bekerja di sebuah tempat fotokopi yang cukup besar. Gajinya juga lumayan hingga bisa menyewa sepetak rumah kecil.
Mia membantu perekonomian dengan menjual kue-kue basah yang ia beli dari pasar. Dari sanalah, mereka hidup. Kini sang suami masih bekerja, ia pun masih berjualan kue-kue basah di depan rumahnya.
Usia makan, Budiman menggiring kedua orang tuanya kembali ke kamar mereka.
"Ibu dan Bapak tidur di sini ya," pinta Budiman.
Mia menggeleng, Fery hanya menunduk.
"Pak, kita pulang yuk. Ibu takut merusak barang-barang mahal ini, Pak," ajaknya pada sang suami.
Budiman sedih mendengarnya. Fery menghela napas panjang. Menyabarkan sang istri.
"Besok kita pulang, ya. Jika sekarang, kita tidak dapat bus lagi," ujar Fery kemudian.
"Bapak Ibu kenapa sih!' bentak Budiman tiba-tiba.
Keduanya pun terkejut. Mia langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Fery memeluknya, melindunginya dari amukan Budiman.
"Ini rumah, Ibu juga Bapak!" teriaknya.
Gisel datang dengan tergopoh-gopoh mendengar teriakan suaminya.
"Bang, kenapa teriak-teriak!"
"Ini, masa Ibu mau pulang. Mau pulang ke mana, Bu?"
Mia menangis. Fery juga sedih. Mereka hanya takut merusak barang-barang mewah dalam rumah ini jika menyentuhnya.
"Ka- kami hanya takut, Nak. Barang-barang di sini semua mahal dan mewah. Kami takut merusaknya ketika kami tak sengaja menyentuhnya," jelas Fery dengan suara bergetar.
Budiman menangis. Ia pun bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. Gisel pun melakukan hal yang sama.
"Pak, Bu. Budiman tidak akan marah, jika pun Bapak dan Ibu sengaja merusak semua barang di sini. Asal, Bapak dan Ibu tinggal di sini. Budiman, mohon!" pintanya.
Ia mengecup lutut kedua orang tuanya. Fery dan Mia menangis memeluk putra mereka begitu juga menantunya.
"Tinggal lah di sini selamanya, Sebentar lagi kalian akan punya cucu," pinta Budiman lagi.
Kedua orang tua itu semringah mendengar kabar itu. Ribuan doa terpanjat untuk Gisel, sang calon ibu.
Kini kedua orang tua Budiman telah terlelap. Pria itu mencium kening bapak dan ibunya, sang istri pun ikut apa yang dilakukan suaminya.
Membenahi selimut mereka. Mengganti lampu dengan lampu tidur. Lalu meninggalkan mereka setelah mengatur suhu ruangan.
Di kamar, Budiman dan Gisel mengeruk gairah panas mereka. Budiman menghujani istrinya dengan cinta. Gisel menerimanya penuh suka cita. Sungguh, wanita itu mengagumi keperkasaan suaminya.
bersambung.
ah ... indahnya memaafkan.
minta doanya. Virus di otak othor tiba-tiba kumat, kini sakit bukan main. Jadi up nya dua aja ya.
next?