
Hari ini Lidya pulang. Koper-kopernya penuh dengan hadiah untuk orang-orang terkasihnya. Ia sudah rindu dengan semuanya terutama ibunya. Gadis itu tak sabar untuk mempercepat waktu.
Serang di tempat lain. Demian baru tau jika Lidya hanya satu minggu di sini. Jacob sengaja tidak memberitahu jika tiga atau empat bulan lagi gadis itu datang untuk memberi Konsultasi untuk penanganan pasca kekerasan.
"Kenapa ia hanya seminggu di sini?" tanya pria tampan itu kesal bukan main.
"Buat proposal pada negaranya agar ia bekerja di rumah sakit milik kita!" titah Demian asal.
"Emang bisa begitu?" tanya Jacob bingung.
"Aarrghh!" teriak Demian berang.
Pria itu hendak melempar barang-barang yang ada di hadapannya, tapi ia pasti akan kesal sendiri, Jacob akan memarahinya dan menyuruhnya untuk membereskan sendiri kekacauan yang ia perbuat.
"Lalu aku harus bagaimana Jacob? Dia pergi dan membawa hatiku ... apa yang harus kulakukan?" tanya pria itu putus asa.
Jacob sampai memutar mata malas. Pria itu menghela napas panjang. Boss-nya jika sudah jatuh cinta akan melupakan semuanya bahkan tak melihat apa pun.
"Tuan tenanglah. Jangan seperti ini. Saya menjadi ikutan bodoh jika Tuan seperti ini!" sindirnya sarkas.
"Jacob!" panggil Demian.
"Ya Tuan."
"Kau masih ingin bekerja di sini kan?" tanya pria itu.
Jacob pun melipat bibirnya ke dalam. Ia akhirnya mengalah dan membiarkan tuannya kelimpungan mencari solusi cintanya. Demian memejamkan mata. Ia ingat dengan wajah-wajah pria yang menatapnya tajam.
"Mereka sepertinya galak dan posesif," gumamnya.
"Aarrghh ... belum-belum kau sudah ciut?" tanyanya hodoh.
"Lidya ... aku mencintaimu!" pekiknya lantang.
"Haaachu!" Lidya bersin. "Alhamdulillah."
"Yaharmukallah!" sahut Leon.
Lidya menoleh pada pamannya itu. Ia tersenyum, Lidya juga tersenyum. Leon memberi pelukan ketika gadis itu akan naik jet pribadi milik Virgou. Bart tidak ikut, ia masih harus menyelesaikan beberapa urusan. Pria tua itu mengecup kening cucu kebanggaannya.
"Grandpa sangat bangga padamu, sayang."
"Selamat jalan sayang, hati-hati ya. Jika sampai, langsung telepon," pinta Gabe.
Frans memeluknya erat. Ia juga sangat bangga dengannya. Kemarin banyak kolega meminta gadis itu bekerja di rumah sakit milik mereka.
"Dad, sepertinya kita harus membangun rumah sakit sendiri. Agar Lidya bisa melakukan praktek di sini," usul Frans suatu hari.
"Kau pikir mudah membangun rumah sakit?" sahut ayahnya kesal.
Leon juga menyesal mereka tidak membangun pusat kesehatan seperti Bram. Siapa sangka, pria itu meminta Lidya melanjutkan study S2 nya yang berhubungan dengan management rumah sakit. Jadi, ia akan menyerahkan kepemimpinan rumah sakit itu pada Lidya.
"Grandpa, Daddies, Papi ... Iya berangkat ya. Salam untuk Mami dan anak-anak," ujarnya pamit.
"Iya, Nak. Hati-hati jangan lupa langsung telepon ya," ujar Gabe.
"Iya, assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!' sahut semuanya.
Lidya pun berjalan menuju jet yang akan mengantarkannya pulang. Tidak ada drama seperti ketika ia berangkat pertama kalinya.
Tak lama jet milik Virgou itu pun lepas landas. Sedangkan di sana, Haidar, Herman dan Virgou selalu melihat jam.
"Kenapa berputarnya lama sekali sih!" sergah Virgou kesal.
"Sayang!" tegur Puspita sang istri.
Virgou pun kembali duduk. Begitu juga Herman, dan Haidar. Budiman juga sangat gelisah. Ia juga sudah merindukan gadis kecilnya.
Terra pun demikian, entah berapa kali ia melihat jam. Sedang anak-anak yang tadinya berisik. Juga tenang menanti waktu bergulir.
"Mama ... Kakak Iya pulang sekarang kan?" tanya Kean gelisah, ia juga sudah merindukan kakaknya itu.
Rion yang ditugaskan ayahnya untuk menangani masalah kantor pun juga berkali-kali menelepon ibunya. Berbeda dengan Darren yang lebih sabar. Ia tahu, adiknya pasti pulang ke rumah.
"Hei ... kau mau ikut tidak?' sentak Herman pada Virgou yang melamun.
"Hah ... apa sudah waktunya?" tanya pria itu.
"Ya ... ayo!" ajak Haidar.
"Tuan saya ikut!" pinta Gomesh memohon.
Budiman memutar mata malas.
"Kau duduk di belakang!" titah Herman akhirnya.
Gomesh gembira bukan main. Ia akan menjemput nona mudanya. Maria hanya menggeleng saja. Ia sangat tahu arti Nona Lidya dalam hidup suaminya.
Maria pun masuk membawa dua putranya. Di sana ia langsung membantu Terra. Tak lama kepergian ke lima pria posesif itu. Bram dan Kanya datang. Begitu juga Raka dan Mila, kemudian menyusul Karina dan Zhein juga anak-anak. Mereka sekarang berada di mansion Herman.
Mansion Herman jauh lebih besar dan luas dibanding mansion Virgou. Pria itu yang ingin rumahnya menjadi tempat penyambutan Lidya.
"Mama Teya!" panggil Raka.
Terra merentangkan tangannya. Raka memeluk wanita itu bahkan sedikit mengangkat dan memutarnya.
"Hei ... turunkan Mama!" pekik Terra sedikit kesal.
Raka tertawa. Hal ini lah yang dari dulu ia lakukan. Mengangkat wanita itu dan memutarnya.
"Mama, lihatlah. Aku akan memberikan seorang cucu untukmu. Sebentar lagi kau akan jadi Nenek!" ujar Rak sambil mengelus perut istrinya.
Terra manyun. Raka tertawa. Tak lama, Rion dan Darren datang bersamaan dengan Dav dan Seruni. Mansion itu makin penuh dengan manusia. Anak-anak pun bermain bersama.
Sedangkan Haidar, Budiman, Herman, Virgou dan Gomesh sudah sampai bandara pribadi milik Bram. Mereka bergegas menuju ruang tunggu. Tadinya Virgou ingin langsung turun dan menyambut putrinya ketika turun dari pesawat.
"Setengah jam lagi pesawat baru mendarat. Kita duduk dulu," ujar Haidar dengan jantung berdebar.
Mereka semua duduk menunggu dengan gelisah. Setengah jam serasa satu tahun saja bagi mereka. Karena terlalu banyak melamun, mereka tak sadar jika gadis yang ditunggu sudah berada di depan mereka.
Lidya terkikik geli melihat lima pria kesayangannya itu.
"Ehem ... assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam ...!' jawab mereka seperti koor paduan suara.
Gomesh yang tersadar terlebih dahulu. Ia menatap Lidya tak percaya. Ia pun menggoyang-goyangkan tangan Budiman yang duduk di sebelahnya.
"Bud .. Budi!" panggilnya.
"Hmmm!" Budiman masih asik dengan lamunannya begitu juga dengan tiga pria lainnya.
"Bud ... Nona sudah datang!" ujar Gomesh memberitahu.
"Hmmm ... lalu?' jawab Budiman malas.
"Papa, Ayah, Daddy, Baba!" panggil Lidya.
Haidar menatap Lidya lama. tiba-tiba ia baru tersadar.
"Lidya pulang .. hei ... Lidya pulang!' teriaknya gembira.
Herman, Haidar, dan Budiman tersentak. Mereka melihat sosok mungil berhijab tengah mengerucutkan bibirnya.
"Papa, Ayah, Daddy, Baba ... Iya sudah pulang!" pekik gadis itu kesal.
"Om Gomesh, ayo kita pulang ... semuanya lagi kesambet setan bandara!" seru Lidya kesal sambil menarik tangan Gomesh yang juga terbengong.
"Putriku!"
Barulah ketiga pria itu menyadari kepulangan anak gadis mereka. Haidar memeluk Lidya dan menciumi wajah gadis itu. Begitu juga Virgou, Herman dan Budiman. Gomesh tak berhenti memeluk Nonanya erat.
"Ayo kita pulang!" ajak Herman.
Semuanya pun pergi meninggalkan bandara, menuju mansion pria itu. Sampai di sana. Lidya sudah berteriak.
"Mama Iya pulang Mama!"
Sedang di belahan benua lain. Sosok pria menatap bintang di langit. Menekan dadanya berkali-kali. Melintas diingatannya sosok cantik berhijab tengah tersenyum di antara kumpulan bintang.
"Wahai gadis ... kau membawa serta hatiku ... tolong jaga dia ... aku akan datang mengambilnya bersamamu dalam biduk rumah tangga kita nanti."
bersambung ....
aaihhh ... othor jadi bamper .. eh baper.
😍😍😍😍😍
next?