
Pagi harinya, Terra dan Haidar bersama anak-anak juga dua asisten rumah tangganya, cek out dari hotel. Mereka langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan putra mereka, Rion.
Sampai sana,.Rion harus dirawat karena amandelnya meradang. Kini, ia.dalam dekapan ibunya. Haidar membawa pulang semua anak-anak walau disertai drama Nai, Sean, Al dan Daud yang tidak mau berpisah dengan kakak mereka. Dua jagoan Haidar yang baru lahir juga dibawa pulang.
"Baby!' Bart datang.
Rion yang terlelap karena efek obat tidak bangun. Suhu tubuhnya kembali naik tadi, jika memungkinkan dokter akan mengambil tindakan operasi amandel pada Rion. Hal itu membuat Terra sedih.
Bart menciumi kedua cucunya itu.
"Pulanglah sayang, nanti Virgou datang. Biar aku yang menemani Baby," titah Bart.
Terra menggeleng.
"Mas Haidar, nanti kemari lagi bersama semua anak-anak. Tadi mereka pulang dulu untuk sekedar mandi dan ganti baju serta membawa baju ganti," jelas Terra.
"Ini rumah sakit sayang. Kasihan anak-anak terlebih duo R yang baru lahir," sahut Bart mengingatkan Terra.
"Dulu, ketika Darren harus bolak-balik rumah sakit karena mengalami trauma. Te, membawa serta Rion yang baru berusia delapan bulan dan Lidya yang baru tiga tahun," tukas wanita itu.
"Sayang," Bart sedih jika diingatkan masa lalu itu.
Ia mencium Terra dan Rion bergantian. Pria itu benar-benar menyesal baru mengetahuinya sekarang.
"Andai aku bisa mengulang kisah. Maafkan aku ... maafkan aku," pinta Bart lirih.
Terra memejamkan mata. Tadi juga ia melarang Haidar, suaminya membawa anak-anak. Ada sedikit perdebatan kecil yang dimenangkan oleh Haidar. Benar saja, Virgou datang sendiri, sedangkan anak dan istrinya sudah pulang bersama Gomesh.
"Kenapa Grandpa?" tanya pria itu.
"Dia tak mau pulang meninggalkan Rion," adu Bart.
"Apa aku harus memanggil Ayah datang dan menyeretmu pulang?" ancam Virgou.
"Dulu ..."
"Te, hari ini ada aku dan Grandpa di sini. Apa kau tidak menganggap kami bagian keluarga mu?!"potong Virgou cepat.
"Kau punya dua bayi yang butuh dirimu. Jangan egois, sekarang ada kami yang selalu bersama mu!" lanjut Virgou lagi.
Rion sedikit merengek mendengar keributan itu. Terra langsung menenangkan putranya itu. Rion membuka mata.
"Mama di sini?" tanyanya dengan suara lemah.
"Iya sayang," jawab Terra.
"Adik-adik mana?" tanya Rion lagi.
"Pulang sebentar, nanti ke sini lagi," jawab Terra.
"Kok Mama tega. Kasihan loh mereka itu kecapean," ucap Rion kecewa.
"Mama ingin menemani kamu, Baby," jelas Terra.
Rion menoleh, ada Grandpa dan Daddy di sana.
"Mama pulang saja sama Grandpa. Biar Ion sama Daddy di sini. Paling nanti sore juga sudah boleh pulang," lanjutnya.
"Tapi Baby," ujar Terra bersikeras.
"Ma, please Pulang dan tunggu Ion, ya. Ion mau makan sup udang sama ayam goreng mentega," ujar Rion lagi.
Terra menghela napas. Bart dan Virgou terkekeh mendengar ketegasan Rion. Akhirnya, Terra pulang bersama Bart. Kini Virgou bersama bocah kesayangannya itu. Rion kembali terlelap.
Sampai rumah, Haidar yang tengah menyuapi anak-anak terkejut istrinya pulang bersama Bart.
"Disuruh pulang sama Baby, disuruh masak sup udang dan ayam goreng mentega," jelas Terra sambil mengerucutkan bibirnya.
Haidar terkekeh. Bart ikut duduk di meja makan..Ia tadi tak sempat sarapan karena langsung ke rumah sakit mendengar Rion dirawat.
Sore menjelang. Benar saja. Rion akhirnya pulang bersama Virgou.
"Apa kata Dokter?" tanya Bart langsung.
"Amandel Rion sembuh total. Tidak ada lagi peradangan yang mengkhawatirkan. Tetapi untuk beberapa waktu, Baby tidak boleh makan makanan pedas, minum es atau pun es krim. Biar tidak terjadi pembengkakan lagi," jelas Virgou.
Satu kantung obat ia letakkan, lalu mengeluarkan semua isinya. Menjelaskan obat-obatan dan takaran yang harus diminum oleh Rion..
"Popatna banat setali," sahut Sean.
"Bepat pembuh ya, Ata'Ion ... pial pita pisa main ladhi," lanjutnya dengan suara sendu.
"Babies Kakak Rionnya belum boleh bicara banyak dulu ya, biar tenggorokan nya cepat sembuh," pinta Virgou.
"Emanna pendolotan Ata' Ion penata Dad?' tanya Al ingin tahu.
"Sakit baby," jawab Virgou.
"Piya satit pa'a?" tanyanya lagi.
"Amandel," jawab Virgou.
"Babandel," ulang Sean.
"Butan babandel, Pati tamantel!" ralat Al.
"Banandel Al," ralat Nai kini.
"Ih, yan beunel ipu panandel!" sahut Daud ikut-ikutan.
"Semuanya benar, Baby," sahut Darren menenangkan adik-adiknya.
Lidya mencium sayang Rion. Bocah itu kini memeluk kakak perempuannya. Nai, Al, Sean dan Daud akhirnya berhenti berdebat perkara nama penyakit yang diderita kakaknya.
"Sayang, sayur sup udang dan ayam goreng mentega sudah Mama buat loh," lapor Terra pada Rion.
"Makasih, Ma," ucap Rion sambil tersenyum.
Bocah itu masih terpengaruh obat. Berkali-kali ia menguap dan mengantuk. Itu bertujuan agar Rion tak banyak bicara dan bergerak. Semua kehilangan sosok ceria Rion.
"Aku rindu keusilannya," keluh Haidar.
Bart dan Virgou sudah pulang setelah selesai makan malam. Budiman diliburkan selama pernikahan Gabe dan Widya. Besok, ia baru kembali bekerja bersama Terra.
"Cepat sembuh sayang," doa Haidar mengecup Rion. Kini keduanya tidur bersama anak-anak, berikut Darren dan Lidya. mereka semua ingin menjaga Rion. Terutama Darren.
"Mama istirahat saja. Biar Rion Darren yang jaga," ujarnya meminta Terra untuk segera beristirahat.
"Mama kan menyusui. Air susu itu harus berkualitas agar Rasya dan Rasyid menjadi anak yang kuat. Syarat agar ASI berkualitas, Mama harus banyak istirahat, makanan sehat dan bergizi dan tidak boleh stress," nasehat Darren panjang lebar.
Haidar mengangguk setuju. Ada Muhammad Nakendra Rasyid Hovert Putra Pratama juga Muhammad Nakandra Rasya Hovert Putra Pratama yang masih sangat butuh ibunya.
Terra menurut. Ia mencium Darren dan mengucap terima kasih. Kini, Rion berada dalam pelukan kakaknya itu. Pelukan kasih sayang dan perlindungan penuh.
Pagi menjelang. Rion sudah kembali ceria. Walau tak boleh banyak bersuara, tetapi bocah lelaki itu tak bisa diam. Ada saja ajaran usilnya. Kalo ini pengawal bernama Juan menjadi sasaran keusilan para balita yang diketuai oleh Rion.
"Om Puan!" panggil Al.
"Juan Tuan Baby. Kalau Puan artinya jadi beda," jelas Juan sedih.
"Biya, Buan," Nai membenarkan sebutannya.
"Ah, tidak apa-apa yang penting jangan Puan ya," pinta Juan memelas.
"Oteh Om .... Puan," sahut Nai.
Al, Daud dan Sean manggut-manggut membenarkan sebutan itu. Juan hanya bisa pasrah. Bahkan kini namanya berganti menjadi Duan.
"Om Duan!' panggil Al.
"Ya, Tuan Baby!"
"Imi!" Juan menerima benda yang ada dalam genggaman Al.
Sebuah eyeliner yang hampir habis. Terra memang jarang membeli make up.
"Baby, eyeliner Mama mana?" tanya Terra ketika melihat tas kosmetiknya sudah berantakan.
"Syama Om Duan, Mama!" jawab Al santai.
"Loh kok dikasih Om aJuan Baby?" tanya Terra.
"Tatana bacal Om Duan eundat puna bensil balis, Mama," jawabnya tenang.
Rion tertawa dan bertepuk tangan mendengar itu. Terra hanya bisa menggeleng. Sedang Juan hanya terbengong mendengar jawaban dari salah satu putra kliennya itu.
Bersambung.
Benar-benar terusan Rion ... 😹
next?