TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PRIA-PRIA POSESIF



Budiman hanya mendengkus pasrah. Di benak pria itu Darren masih bocah berusia delapan tahun Ia hanya tak ingin tuan mudanya dipermainkan oleh wanita saja. Tetapi, melihat gelagat Aini yang baik dan tak banyak tingkah. Budiman akhirnya membiarkan keduanya.


"Maaf, Pak. Saya mau lewat," ujar Aini gugup.


"Ah ya, silahkan Dok!' ujar pemuda itu.


Aini pun masuk ke ruangan dan memeriksa pasiennya. Budiman barulah menghampiri Darren yang masih ingin mengintip gadis itu.


"Apa sudah selesai Tuan. Ngintipnya?" tegur Budiman.


Darren menggaruk kepala. Ia pun akhirnya pergi bersama pria yang ia panggil baba itu. Sedang Hendra hanya menggeleng kepala melihat betapa posesifnya Budiman.


Ketika di rumah. Pria itu melaporkan apa yang terjadi di proyek dan kejadian di rumah sakit. Bahkan saking pandangnya antara Darren dan dokter cantik itu juga tak luput dari laporan Budiman.


Haidar hanya menatap putranya. Sedang Terra bungkam. Darren tampak takut jika ibunya tidak. bereaksi apa pun. Pemuda itu menginginkan ibunya menunjukkan ekspresinya, baik itu menangis atau marah.


"Ma," panggilnya takut-takut.


Terra menatap pria kecil yang kini sudah menjadi besar dan kuat. Bahkan ketampanannya sangat mirip. Terra seperti berhadapan dengan Ben, ayahnya.


"Ma ... Darren akan berusaha menyenangkan Mama. Jika ini dilarang, Darren akan berhenti, Ma," ucapnya sambil menunduk.


Terra sedih mendengarnya. Ia tak mau jadi orang tua yang egois. Ada saatnya putranya itu memilih pasangan hidup. Seorang gadis yang mampu mengurusnya, mencintainya sepenuh hati dan menjaga dirinya juga seluruh keluarganya.


"Mama tidak pernah melarang, sayang," ujar Terra lalu mengusap rahang kokoh Darren.


"Asal kau tidak mempermainkan perasaan wanita. Yakinkan dirimu dulu. Mama hanya takut, ketika kau melihat yang lebih cantik lagi, kau melukai perasaannya," terang Terra mengungkapkan kekhawatirannya.


Darren kini mengerti. Sang ibu menginginkan ia melihat yang lainnya. Tidak terpakai dengan satu gadis yang mencuri hatinya. Lalu ia melihat Budiman yang menatapnya datar.


"Mama ... Babanya, tuh!" rengeknya.


Haidar tertawa terbahak-bahak. Ia senang jika pria pengawal itu begitu posesif pada putranya.


"Nggak apa-apa, Bud. Asal kau awasi saja, biar pemuda ini nggak jadi playboy," ujar Haidar akhirnya.


Terra terkekeh. Ia mencium putranya dengan kasih sayang.


"Darren janji deh, Ba. Cuma cuci mata aja, nggak pake baper ... sueerr deh!" rayu pemuda itu pada pengawalnya.


Budiman hanya mengangguk saja. Ia hanya menatap pria yang kini makin tampan saja. bahkan ia berkali-kali membuang hadiah-hadiah dari para gadis. Hal itu bertujuan agar Darren tak melayani gadis-gadis pecicilan itu.


"Oh jadi, Kak Darren udah naksir cewe nih?" tembak Rion yang dari tadi mendengar percakapan semuanya.


"Widih ... obrolan orang dewasa. Kita menyingkir yuk, Babies!" ajak Kean pada semua adik-adiknya, juga semua saudaranya.


"Wah ... jadi dewasa, sudah muka warna-warni, trus patah hati seperti kayu, lalu berbunga seperti seperti tangkai mawar," ledek Satrio.


"Kapan kita gede nih?" sahut Sean bertanya.


"Emang kamu belum gede gitu?" sahut Nai menyela.


"Kalian masih kecil!" seru Rion menimpali.


"Awas ya kalau sampai kalian genit-genit ama lawan jenis!" ancamnya kemudian.


Semua anak pun diam. Sedang para balita hanya menonton saja. Benua yang paling muda mulai mengungkap keingintahuannya.


"Ata' Kean, emanna muta Ata'Ballen ipu pisa pewalna ya?"


"Bisa!" sahut Kean antusias menjawab.


Benua menatap kakak tertuanya itu. keningnya sampai berkerut. Darren yang dilihat seperti itu menjulingkan matanya.


"Wa ... mata Ata' Dallen pisa petenah buwa-buwana!" serunya takjub.


"Hei Baby ... kau berisik!' ucap Darren gemas.


"Hai muta bapontu aba pima!" balas batita itu galak.


Semua nyaris tertawa mendengar umpatan Benua, kecuali para balita. Darren makin gemas. Ia pun berdiri sambil berkacak pinggang, Benua juga ikutan berkacak pinggang walau ia harus mendongak melihat kakak tertuanya itu.


"Kau berani padaku bayi!' ujar Darren lalu mengangkat bayi itu tinggi-tinggi, sambil menggelitiki perutnya.


"Pita pantuin Penua!' seru Rasya.


"Bayoo!" sahut keempat saudaranya.


Darren jadi tertawa ketika ia sigelitiki para bocah.


Sedang di benua lain Lidya kini diantar oleh Bart menuju rumah sakit di mana ia memaparkan materi tentang pengobatan untuk menangani pasien yang trauma pasca kekerasan.


Gadis itu dikawal oleh enam bodyguard. Selain Gio, Juan dan Rendi. Banyak peserta yang kemarin ikut menjadi narasumber. Mereka begitu merasa terobati dengan sentuhan gadis itu.


"Halo, saya Lidya, apa yang kau rasakan?' tanyanya pada salah satu peserta bocah laki-laki


Seluruh tubuh bocah itu dipenuhi luka bakar. Ayahnya ingin membakarnya hidup-hidup bersama ibunya. Sang ibu berhasil menyelamatkan dirinya dengan melempar tubuh pria kecil itu dan api membakar ibunya seorang diri.


"Aku ...takut api yang menjilati tubuh ibuku. Ia masih mengatakan betapa ia mencintaiku," ucap bocah itu dengan tersedu.


"Jadikan cinta ibumu pengobat rasa sakitmu." ujar Lidya menenangkan.


"Sekarang katakan, apa yang dicita-citakan ibumu?" lanjutnya bertanya.


"Ibuku ingin aku menjadi atlit balap lari," jawabnya.


"Wujudkan cita-cita itu. Untuk pertama kalah tidak apa-apa Tapi, jika kau bekerja dan berlatih keras. Kau pasti akan juara," ucap Lidya memberi semangat.


Ketika gadis itu memeluknya Bocah laki-laki itu pun menangis dan memeluk erat. Tetapi, ketika Lidya hendak melepas pelukannya. Bocah laki-laki itu melarangnya.


"Tidak ... jangan lepas. Kau hanya boleh memelukku saja!"


Gio dan Juan nyaris menarik tubuh bocah yang memeluk Nona mereka itu. Jika saja Lidya tak memberi mereka kode. Bart hanya memutar mata malas.


"Sayang," panggil Lidya lembut.


Bocah bernama Gilbert itu menunduk. Dengan perlahan, gadis itu melepas pelukannya.


"Aku yakin kau pasti bisa melewati ini semua!" tekan Lidya memberi kekutan padanya. Gilbert mengangguk. Lidya pun menuju pasien lainnya.


Kedatangan Lidya di rumah sakitnya membuat Demian kalang kabut. Pria itu memarahi habis-habisan asisten pribadinya. Jacob hanya diam. Ia pun sebenarnya ingin mengatakannya setelah kepulangan mereka dari Indonesia beberapa bulan lalu, tapi ia lupa.


"Lidya ada di rumah sakit ku dan kau tidak tahu kedatangannya?!' seru atasannya begitu marah.


"Kau di sini selesaikan semua pekerjaan!" titah pria itu lalu menyambar kunci.


Jacob hanya menggeleng kepala. Kebiasaan buruk tuannya tak bertanya di ruang mana. Lima menit kepergian atasannya tiba-tiba pria itu kembali dengan muka memerah.


"Apa?" tanya Jacob kini sambil mencibir atasannya.


"Dia di ruang mana?" tanya pria tampan itu akhirnya.


"Dia di ruang serba guna di rumah sakit bagian Utara!" jawab Jacob.


"Di mana itu?" Demian buta peta dan arah.


"Jika dari gerbang masuk, anda ke kiri lurus dan belok ke kanan sesuai petunjuk papan," jawab Jacob lagi.


"Jacob!" panggil Demian.


"Sa ... hap!" Jacob menangkap kunci mobil.


"Antarkan aku!" titahnya tanpa bisa dibantah.


Jacob pun langsung melaksanakan perintah tuannya jika masih ingin bekerja dengan aman. Mereka pun pergi ke rumah sakit. Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai depan ruangan itu.


Demian terburu-buru masuk dan langsung dihadang oleh Juan dan Rendi. Pria itu memaksa masuk.


"Aku yang punya gedung ini!" teriaknya murka.


bersambung.


hahaha ... segitunya ...


next?