TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SUGENG 2



Suara bel masuk berbunyi. Terra berlari menyusuri lorong kampus dan masuk dalam kelas. Ia sedikit terlambat karena masih berkutat di rumah sakit. Beruntung Lidya sudah menunjukkan gejala yang lebih baik. Nanti sore, mereka boleh pulang.


Budiman begitu gembira. Ternyata nona kecilnya sudah sembuh dan kembali menatapnya dengan senyuman yang begitu indah. Bahkan keluarga Pratama juga datang.


Tadinya Bram menyuruh Terra untuk tidak ke kampus. Namun gadis itu menolak. Hari ini adalah mata kuliah penting untuk kelulusannya. Gadis itu benar-benar ingin cepat selesai perkuliahannya.


Dua perusahaan sudah menuntut setiap kehadirannya. Sosok Rommy dan Aden sudah mulai kerepotan mengurusi perusahaan yang kian berkembang.


Banyak pertemuan dari relasi yang menuntut kehadirannya. Gadis itu benar-benar harus fokus kepada semua pekerjaannya.


Mata kuliah hari ini berlangsung empat jam nonstop. Otak para mahasiswa harus benar-benar siap. Dosen kali ini benar-benar ingin menghabiskan semester terakhirnya.Karena setelah ini mata kuliah bisnis dan agrikultur selesai.


"Saya sih hanya mengajukan penawaran saja. Jika kalian setuju, kita lanjutkan sesi mata kuliah ini dalam jangka waktu empat jam nonstop atau saya potong satu jam saja, lalu kita kembali satu minggu kemudian. Mata kuliah saya kan tinggal tiga kali lagi sebelum ujian awal semester," begitu penjelasan Dosen wanita bernama Hanna S.E.


"Kita kumpulkan suara saja," usul Aryo, salah satu mahasiswa.


"Kalo yang nggak setuju, boleh keluar kelas dan tidak mengikuti mata kuliah saya. Oh ya, saya tekankan. Di kelas lain mata kuliah saya sudah selesai, jadi terakhir tinggal kelas ini saja. Jadi yang tidak mau ikut. Akan saya bikin alpa untuk pertemuan tiga kali pertemuan kedepannya," tekan dosen Hanna.


Akhirnya mereka tidak mau ambil suara. Mereka menyuruh dosen Hanna untuk menyelesaikan mata kuliahnya hingga dua semester sekaligus. Beruntung dosen Hanna termasuk dosen gaul yang pembawaannya tidak kaku. Jadi para mahasiswa dan mahasiswi tidak begitu terasa terbebani.


Mata kuliah selesai. Dosen keluar kelas dengan wajah lega. Tugasnya sudah selesai, ia bisa mengambil cuti panjang untuk berlibur bersama anak dan suaminya.


Terra dan anak-anak lainnya juga memasang wajah lega. Setelah otak mereka bekerja secara maksimal karena dosen Hanna tidak hanya memberi materi, tapi terselip kuis dan games untuk menambah nilai mereka.


"Hei Ter!" panggil Poltak dengan logat Bataknya yang kental.


"Enak kali lah ya, punya otak kek kau ini. Nggak kulihat ya otak kau melepuh kek otakku," selorohnya. Terra hanya tersenyum.


"Nih coba kau tengok otakku, sudah gosong belum?' tanyanya sambil menyodorkan kepalanya.


"Ih ... emang kau bawa otak kau tadi? Tak nampaknya aku," seloroh Terra menjawab pertanyaan Poltak mengikuti logat pria hitam manis itu.


Semua tertawa. Aryo menimpali dengan logat yang sama.


"Iya, kau benar sekali, Ter. Otaknya lupa ia bawa. Masih dia cantel di gantungan bajunya sana."


Semua tergelak tertawa. Begitu juga Terra, gadis itu melupakan sejenak kesedihan dan kemalangan yang terjadi padanya kemarin.


Semua diam. Mereka agak ngeri-ngeri sedap jika Poltak marah. Tidak ada yang berani menatap wajahnya jika marah.


"Otakku tak kugangung, tapi kulipat!" lanjutnya berkelakar.


Maka tertawalah semua isi kelas. Terra sampai lemas karena menahan tawa dan kram di perutnya.


"Eh karena aku sedang baik hati nya. Ayo,.ke kantin. Kutraktir kelen semua," ujar Poltak yang disauti suara tepuk tangan.


Poltak memang anak orang kaya. Ayahnya seorang pengusaha batubara. Ibunya memiliki beberapa hotel bintang empat.


"Iya air putihnya saja," saut Poltak kemudian ia tertawa terbahak-bahak meninggalkan kelas yang kemudian semua menyorakinya termasuk Terra.


Hari ini Terra akan pulang cepat. Tidak ada lagi mata kuliah yang harus ia kejar. Gadis itu berjalan santai, ia sedikit lega karena Budiman tidak lagi mengikutinya. Pria itu memilih menunggu di parkiran bersama mobilnya. Sedang Haidar, entah ada di mana pria itu.


Set! Pluk!


Sebuah kertas dilempar kearahnya. Terra melihat kertas yang jatuh di depannya. Mengambil kertas dan membukanya itu.


"YOU NEXT"


Gadis itu mengernyit. Matanya mengedar ke segala arah. Sosok yang ia kenali menyeringai. Seakan memberi kode untuk mengikutinya.


Terra sedikit ragu, mau mengikuti pria itu atau tidak. Gadis itu penasaran. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya. Gadis itu mengikuti pria yang memberinya kode.


Menyusuri lorong kampus yang mulai sepi. Nyaris semua mahkluk sudah pergi dari kampus ini. Sore nanti baru ramai lagi.


Terra berjalan menuju gudang paling belakang. Di sana pria itu menunggunya dengan seringai paling mengerikan.


"Halo Terra sayang ... kita bertemu lagi," ujarnya dengan mata berkilat penuh *****.


bersambung.


next?